Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Derita dan Mahkota Anak Sulung

Gereja saat ini menyaksikan dan mengalami penderitaan karena imannya. Di berbagai tempat di dunia, kita membaca berita penganiayaan orang Kristen. Tidak sedikit yang mati karena iman mereka. Di Indonesia, korban terakhir ini, Intan (2,5 tahun), diserang dan tewas karena imannya. Bagaimana seharusnya orang memahami dirinya di tengah-tengah penderitaannya saat ini?

Saya ingin memulai dengan sebutan “anak sulung” oleh Yakobus sebagai identitas orang Kristen. “Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya,” demikian tulis Yakobus (Yak. 1:18). Dengan merenungkan sebutan anak sulung ini, kita akan semakin mengenal diri kita dan makna penderitaan kita.

Istilah ini muncul di pasal pertama surat Yakobus dalam konteks dia membicarakan ujian dan pencobaan yang menerpa kehidupan orang Kristen. Terpaan badai kesulitan pasti terjadi atas kehidupan anak-anak Allah. Yakobus justru menganggap hal-hal di atas sudah pasti terjadi atas orang Kristen, dan berkata bahwa mereka perlu menganggapnya sebagai keuntungan, karena melalui tantangan-tantangan itu orang Kristen akan semakin bertumbuh, baik dalam iman, kesabaran, dan hikmat.

Bagaimana kisah si anak-anak sulung Allah sehingga mereka tidak terhindar dari bahaya dan pertentangan di dunia ini? Garis besar ceritanya adalah sebagai berikut: Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, seluruh ciptaan terkena dampaknya. Di Roma 8 dikatakan seluruh makhluk sakit bersalin dan menunggu dengan penuh harap supaya anak-anak Allah satu per satu dinyatakan. Mengapa? Karena anak-anak Allah inilah yang akan membawa damai dan pembebasan kepada mereka. Melalui anak-anak- Nya, Allah akan mendatangkan pembaruan bagi dunia ini, memulai ciptaan baru.

Pertama-tama, melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya yang sulung dan tunggal, Yesus Kristus, Allah Bapa menebus sekelompok umat-Nya. Orang yang percaya dan beriman di dalam Kristus tergabung di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Mereka terlahir kembali sebagai ciptaan baru. Jadi, pihak yang pertama sekali diciptakan baru oleh Allah adalah orang-orang yang beriman. Oleh karena itulah, mereka disebut yang sulung dari segala ciptaan.

Mengapa yang sulung itu harus menderita? Karena mereka, sebagai pengikut Kristus yang hendak membawa perubahan kepada dunia ini, dibenci oleh penguasa dunia. Dunia lama tidak mungkin sudi diperbarui. Orang-orang yang sudah nyaman dengan dunia lama tidak mungkin suka pekerjaan orang-orang Kristen. Berita tentang Kristus sebagai Raja atas dunia mengancam kedudukan mereka. Karena itu, mereka menyalibkan Kristus, dan akan terus menganiaya murid-murid- Nya di sepanjang zaman.

Allah mau memakai kita, anak-anak sulung-Nya, untuk menjadi alat-Nya memperbarui ciptaan-Nya. Perintah-Nya untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya adalah bukti nyat bahwa Dia mau supaya perubahan dimulai dari kita, dari manusia, kemudian ke seluruh makhluk dan ciptaan yang lain. Kuasa kegelapan tidak akan duduk tenang menyaksikan ini. Karena itu, Yakobus menulis kepada orang Kristen sezamannya, dan tentu juga orang Kristen sepanjang zaman, demikian, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (Yak. 1:12).

Erwan

November 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲