Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Desember

Natal sering kali identik dengan gembala dan orang-orang majus yang datang mencari Yesus. Namun kisah Natal dalam Injil Matius juga mencatat seorang tokoh yang jarang ditampilkan di dalam drama Kebaktian Natal: Raja Herodes.

Herodes memerintahkan pembunuhan semua anak-anak di bawah usia dua tahun di seluruh Betlehem. Herodes memang terkenal paranoia ketika berurusan dengan takhta kekuasaannya. Ia pernah membunuh semua anggota keluarga dari dinasti sebelumnya untuk memastikan mereka tidak akan menjadi gangguan di masa depan. Istri dan tiga anaknya pun dibunuh atas perintahnya. Apalagi hanya anak-anak di kampung kecil yang tidak berharga apa-apa di matanya.

Raja Herodes menjadi suatu gambaran tipologis dari semua raja picik nan kejam di sepanjang sejarah yang menghalalkan segala cara untuk membuat takhtanya lekang dan awet. Ancaman dan desas-desus akan potensi bahaya yang mungkin menggulingkan dia dari takhtanya akan dilenyapkan seberapa pun mahal harganya. Problem ini terjadi karena orang majus datang mencari seorang raja yang baru dilahirkan kepada Herodes. Masuk akal memang mencari seorang raja yang dilahirkan di istana, tetapi rupanya mereka tidak sadar raja yang dimaksudkan oleh bintang yang membimbing mereka 1.300 km dari Timur tidaklah lahir di istana. Demikian Herodes tidaklah sadar bahwa Tuhan Allah membangkitkan seorang Raja yang sejati yang akan menjadi Juruselamat atas umat-Nya.

Seandainya orang majus mencari seorang guru spiritual atau seorang juruselamat pribadi atas masalah-masalah hidup mereka, Herodes dan seluruh Yerusalem tidak akan segempar itu. tetapi yang dicari adalah seorang raja!

Yesus Kristus lahir bukan hanya untuk menjadi Juruselamat atas dosa kita tetapi juga menjadi Raja atas seluruh hidup kita. Akar dari dosa adalah manusia tidak ingin diperintah oleh Tuhan, tidak ingin di bawah Kerajaan-Nya. Seandainya Yesus hanya datang sebagai Juruselamat atas dosa-dosa pribadi kita, maka Raja Herodes tidak perlu melakukan tindakan drastis, maka manusia berdosa pun tetap bebas berdosa dan bebas mengatur hidup mereka seenak mereka. Karena itu, seandainya Yesus bukan Raja, maka Natal juga bukan lagi Natal.

Heruarto Salim

Desember 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk KPIN Maluku 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Februari 2020. Bersyukur untuk setiap jiwa yang telah mendengarkan dan merespons panggilan untuk bertobat dan hidup suci.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲