Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Do You Like My … ?

Wow! Subscribers, friends, followers elu di media sosial buanyak banget. Kamu pasti senang, apalagi kamu jadi viral, kamu benar-benar exist, hebat!

Di dalam Taman Eden, Tuhan menerima Adam dan Hawa, Adam menerima Hawa, dan Hawa menerima Adam. Penerimaan itu hilang ketika Allah meminta pertanggungan jawab Adam, ketika Adam menyalahkan Hawa, ketika Hawa menyalahkan ular. Sejak mereka diusir dari Taman Eden, manusia terus mencari penerimaan di mana-mana. Bahkan sampai kebenaran pun rela dikorbankan demi mendapat kebersamaan, yaitu “We”.

Mungkin kita kurang menyadari bahwa sering kali perbuatan kita didorong oleh perasaan ingin diterima oleh orang lain. Ketika apa yang kita lakukan mendapat pujian, secara otomatis kita akan merasa senang terhadap diri kita sendiri, dan akan terpicu untuk semakin melakukan perbuatan tadi. Sebaliknya, ketika orang lain tidak setuju dengan apa yang kita lakukan, secara otomatis kita akan kecewa terhadap diri sendiri, dan enggan melakukan perbuatan tadi. Mengapa perbuatan kita ditentukan oleh penerimaan orang lain? Karena kita adalah manusia yang pada naturnya membutuhkan penerimaan.

Kita semua sesungguhnya membutuhkan penerimaan yang jauh lebih besar dari yang kita bisa kejar selama ini. Kita haus akan penerimaan Allah, Yang Menciptakan kita, Yang Menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Dan herannya, Dia tidak memberikan kita syarat apa pun demi memperoleh penerimaan-Nya. Tidak seperti sesama kita yang mensyaratkan banyak hal, bahkan segalanya, sebelum kita diterima menjadi bagian dari kelompok mereka.

Di dalam beberapa karya Max Lucado, yaitu “You are Special”, “You are Mine”, “If Only I had a Green Nose”, “The Tallest of Smalls”, “Just the Way You Are”, dapat disimpulkan bahwa tokoh utama dalam tiap-tiap cerita itu merindukan penerimaan dari orang lain. Ia ingin sama seperti orang lain yang memiliki kualifikasi yang lebih baik dari dirinya. Tapi kesimpulan dari karya-karya tersebut adalah, ia bernilai karena Yang Menciptakannya menerima dia apa adanya. Itulah nilai sesungguhnya dari eksistensinya.

Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? (Gal. 1:10), the LORD will be your confidence (Ams. 3:26). Apakah Allah (jika mungkin) akan subscribe, follow, like semua yang kita post di vlog, blog, facebook, instagram, twitter? Marilah kita menerima diri kita dan sesama kita apa adanya, karena Yang Menciptakan kita semua, menerima kita semua apa adanya.

Yana Valentina

Oktober 2018

1 tanggapan.

1. Yanto Liem dari Jakarta berkata pada 25 October 2018:

Very good job the the article.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲