Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Etika Berasumsi

Ekspresi spontan kita perlu terus dievaluasi dengan refleksi kritis. Sewaktu terkena musibah, kita mengatakan, “Tuhan jahat!” Saat mengalami ketidakadilan, kita menggerutu, “Tuhan tidak adil!” Jika sakit, “Tuhan tidak baik pada saya.” Tidak jarang, iman orang mulai mundur jika hidup ini tidak berjalan sesuai dengan yang dia inginkan atau dengan logikanya. Namun, asumsi seperti apa sebenarnya yang tertanam dalam benak kita, jika kita mengeluarkan ekspresi seperti itu?

Mari kita ambil sebuah contoh. Ketika seorang teman bertanya tentang kabar kita dan pertanyaan-pertanyaan lain tentang kehidupan kita, penilaian kita terhadap si penanya ini tergantung dari prasangka (asumsi dasar) kita terhadapnya. Jika kita mempunyai prasangka negatif dengan orang lain, kita mengatakan orang ini kepo. Jika kita selalu melestarikan asumsi yang baik kepada orang lain, kita menyebut teman kita ini perhatian (care) terhadap kita. Jadi bukan hanya tindakan kita yang dapat menjadi sorotan etika, asumsi kita pun sama. Jika teman kita itu tulus dan kita berpikir dia kepo, kita memelihara asumsi yang jahat terhadapnya. Asumsi yang jahat juga adalah penyebab terjadinya diskriminasi yang berbau SARA.

Masalah asumsi ini jugalah yang ingin dibereskan Paulus dalam Roma 3. Kali ini, asumsi yang disorot bukan terhadap sesama manusia, melainkan terhadap Tuhan. Di sana, dia melihat ada kemungkinan pembacanya akan berkeberatan terhadap apa yang dia jelaskan sebelumnya, bahwa orang Yahudi pun akan menerima penghakiman Tuhan karena mereka sama berdosanya dengan orang kafir. Protes dapat muncul: Jika demikian, Tuhan tidak menepati janji-Nya untuk setia kepada orang Israel. Tuhan pembohong (ay. 3). Jawaban Paulus kepada keberataan ini, bagi saya, adalah sebuah pendidikan tentang etika berasumsi, yaitu bagaimana membangun asumsi yang bermoral. Paulus menjawab, “Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis:

‘Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu,
dan menang, jika Engkau dihakimi.’” (ay.4)

Paulus mencabut asumsi yang salah dan menggantikannya dengan perkataan Tuhan. Kita tidak dapat hidup dan berpikir tanpa asumsi. Asumsi lama yang berdosa harus diganti yang baru, yaitu firman Allah supaya tidak terjadi vakum asumsi. Dari sini dapat kita pelajari bahwa firman Tuhan tidak hanya untuk dihafalkan secara kalimat, tetapi harus meresap sampai menjadi asumsi dasar kita berpikir, berkata-kata, dan bertindak.

Bagaimana dengan etika asumsi kita? Apakah kita sudah bermoral dalam tingkat asumsi? Mari kita gunakan waktu untuk berefleksi kritis terhadap cara hidup kita.

Erwan

November 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲