Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Etika Yang Termotivasi Belas Kasihan

Untuk memperjelas gambaran-Nya tentang siapa penghuni kerajaan-Nya, Tuhan Yesus sering kali mengontraskannya dengan siapa yang jelas-jelas bukan penghuni kerajaan-Nya. Seperti dalam sebuah perumpamaan, jelas-jelas ditunjukkan bahwa hamba yang tidak berbelaskasihan pasti tidak mendapat tempat di dalam kerajaan-Nya. Hamba tersebut berutang sepuluh ribu talenta kepada tuannya dan tidak sanggup membayar. Ketika tuannya tersebut mengadakan perhitungan dengannya, dia meminta tuannya bersabar dan mengundurkan tanggal bayar. Dia berjanji akan melunasi seluruh utangnya. Karena tergerak oleh belas kasihan, tuannya itu tidak hanya mengundurkan, tetapi menghapus seluruh utang hambanya itu. Akan tetapi, setelah itu hamba itu bertemu dengan hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Dengan tanpa belas kasihan, dia menuntut hamba tersebut melunasi utangnya dan memasukkannya ke dalam penjara karena tidak sanggup membayar. Setelah mendengar laporan dari bawahannya, timbullah kemarahan dalam hati tuan tadi sehingga dia menyerahkan hamba yang tak berbelaskasihan itu kepada algojo-algojo untuk menagih utangnya (Mat. 18:23-35).

Mungkin sedikit hitung-hitungan akan membantu kita memahami ilustrasi Tuhan Yesus. Sepuluh ribu talenta emas sama dengan 350.000 kg emas. Anggaplah harga kasar emas hari ini adalah IDR 500.000,-/gr., itu berarti utang hamba tersebut adalah IDR 175 triliun. Pada saat itu, sepuluh ribu talenta sama dengan 60.000.000 dinar. Sebagai bandingan, utang temannya kepada hamba itu hanya 100 dinar. Angka ini tentu digunakan oleh Yesus untuk mengilustrasikan dosa manusia kepada Tuhan. Kesalahan manusia manusia terhadap kita tidak akan dapat dibandingkan dengan dosa kita terhadap Tuhan. Karena itu, di dalam Kerajaan Allah, kita diminta berbelaskasihan kepada orang lain, karena kita terlebih dahulu sudah diberikan belas kasihan.

Di dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat. 5:7). Ayat ini dapat juga diterjemahkan menjadi, “Diberkatilah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan.” Ayat ini terdengar terbalik logikanya dari perumpamaan di atas. Bukankah seharusnya kita diminta bermurah hati karena kita sudah beroleh kemurahan, bukan akan menerima kemurahan? Mengapa terdengar seolah-olah syarat kita menerima pengampunan Tuhan adalah karena kita sudah melakukan pengampunan?

Kalimat Yesus di atas perlu di baca di dalam konteks seluruh khotbah di atas bukit. Orang yang dapat berbelaskasihan kepada orang lain juga adalah orang yang merasa miskin di hadapan Allah. Mereka meratapi dosanya, merasa tidak layak, dan sudah dihibur dan diampuni dosanya. Di dalam hatinya juga sudah timbul kerinduan untuk hidup benar. Artinya, adanya fondasi etika Kristen. Jika seseorang sungguh-sungguh sudah melewati semua proses ini, dia akan merasa hidup yang benar adalah hidup yang penuh belas kasihan kepada sesamanya. Kepada orang-orang seperti ini – yang sungguh-sungguh menghidupi hidup baru di dalam Kerajaan Allah, yang mengadopsi karakter Tuhan mereka, yang menunjukkan ciri hidup Kristen sejati – orang-orang seperti ini akan mendapat konfirmasi dari Tuhan bahwa mereka adalah kaum yang hidup dalam pengampunan dan belas kasihan Tuhan.

Salah satu ciri khas orang Kristen adalah mereka meniru Allah mereka dalam hal belas kasihan. Etika mereka termotivasi oleh belas kasihan kepada orang lain seperti Allah sudah berbelaskasihan kepada mereka. Allah sendiri menuntut imitasi orang Kristen terhadap diri- Nya, “Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (Mat. 18:33). Jika hidup kita selalu penuh dengan perhitungan, dendam, dan ingatan terhadap kesalahan orang lain, bukankah sudah saatnya kita mengintrospeksi diri kita. Apakah hidup kita menunjukkan ciri orang yang sudah diampuni, orang yang tidak layak tetapi mendapatkan belas kasihan Tuhan? Alih-alih menyimpan dendam, mari kita menyimpan belas kasihan kepada orang lain, sesama manusia yang tidak layak di hadapan Tuhan.

Erwan

Maret 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲