Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

FOLLOW YOUR HEART?

Follow your heart, follow your instincts, that’s the true wisdom.” Kedengarannya tidak ada yang salah dalam kalimat ini. Justru kalimat ini sering dikumandangkan oleh orang-orang sukses dan terkemuka.

Seorang anak kecil membuka buku yang berisikan gambar orang menari, lalu dia mengikuti gerakannya sambil matanya terus tertuju pada buku itu. Terkadang ia mengikuti apa yang dilakukan kakaknya, orang tuanya, siapa saja yang ada di sekitarnya. Bukan hanya anak-anak yang mengikuti, anak remaja maupun orang dewasa juga mengikuti apa yang dilihatnya di berbagai media, mengikuti suatu ide atau paham tertentu. Manusia adalah peniru, pengikut. Walaupun ada yang menjadi pemimpin sekalipun, dia pun adalah seorang pengikut dari sesuatu paham atau seseorang.

Apakah jika yang diikuti adalah sesuatu yang baik, maka dia menjadi baik? Sedangkan jika yang diikuti adalah sesuatu buruk, maka dia menjadi buruk? Sepertinya demikian dan harusnya demikian. Namun faktanya tidak pasti demikian. Manusia tidak dilahirkan sebagai kertas putih yang kosong (tabula rasa), lalu dunia di luar dirinya yang membentuknya. Manusia dilahirkan dengan hati yang jahat. Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu (Yer. 17:9), dari hati timbul segala pikiran jahat (Mat. 15:19), kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri (Yes. 53:6), kita hidup... menuruti kehendak daging dan pikiran kita yang jahat. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai (ed: dihukum oleh Allah) (Ef. 2:3). Sebaik-baiknya lingkungan yang memengaruhi, natur hati manusia berdosa adalah melakukan dosa. Tidak mengherankan anak kecil yang tidak pernah diajari berbohong, bisa berbohong.

Adakah yang dapat dilakukan manusia untuk menjadi baik? Tidak ada. Satu-satunya cara adalah justru menyangkal diri, don’t follow your heart, don’t follow your instincts, that’s true destruction. Tapi manusia adalah makhluk pengikut, dia diciptakan sebagai gambar, dia harus menjadi gambar siapa? Dia harus mengikuti siapa? Apakah yang sempurna, siapakah yang sempurna, siapakah yang pantas diikuti? Hanya Allah yang sempurna, bagaimana mengikuti Dia? Ikutlah Gambar Allah yang sempurna, ikutlah Yesus Kristus, akan Dia Allah berkata, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa” (Yes. 42:1). Yesus berkata, “Follow me, you must deny yourself, take up your cross and follow Me. Lose your sinful life, and you will find your redeemed life (Mat. 4:19, 16:24-25).

Follow your heart? No, deny yourself and follow Jesus, the Chosen One of God.

Yana Valentina

Maret 2015

1 tanggapan.

1. Go Fonny dari Makassar berkata pada 6 March 2015:

Renungan "Follow your Heart?", memberikan jawaban yang benar-benar ringkas dan mudah dimengerti. Pada masa muda, kakak saya selalu bermoto "Follow Your Heart, ..." dan memang hal buruk telah menimpanya. Sekedar share, kakak saya telah bercerai dengan suaminya dengan alasan yang sulit kami sekeluarga ubah dari dirinya. Mohon bantuan agar hati kakak boleh diubahkan dalam Kristus, sehingga moto "Follow your Heart" dapat menjadi "Follow Jesus"

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲