Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Hati Seorang Hamba

Kita mengenal Abraham sebagai bapa orang beriman. Besarnya iman Abraham tidak kita ragukan lagi. Abraham terkenal karena taat dan beriman kepada Tuhan yang telah memanggil dia pergi dari kampung halamannya menuju sebuah tempat yang belum diketahui. Iman Abraham juga terbukti ketika dia dengan taat (hampir) mempersembahkan anaknya, Ishak, di atas mezbah. Kedua cerita tentang Abraham di atas sudah banyak dikhotbahkan. Renungan mingguan kali ini mengajak kita untuk merenungkan iman dan ketaatan seseorang yang ceritanya lebih jarang dikhotbahkan, yaitu hamba senior Abraham, yang tidak dicatat namanya.

Cerita tentang hamba Abraham adalah cerita tentang iman yang sering terlewatkan. Bayangkan, pada saat itu, dia disuruh tuannya untuk pergi ke Aram-Mesopotamia, ke kota Nahor, yang berjarak 835 km dari tanah Negeb, tempat Abraham pada saat itu tinggal, untuk mencarikan jodoh bagi Ishak. Alkitab mencatat bahwa dia membawa beberapa unta. Sepertinya perjalanan akan dilakukan dengan naik unta dan jalan kaki, mengingat kondisi jalan masa itu yang jauh lebih sulit. Penunggang harus turun ketika jalan terlalu menanjak. Jarak seperti itu biasanya ditempuh selama 21 hari dengan kecepatan jalan kaki. Jika kita bandingkan dengan jarak antar kota di Jawa, perjalanan hamba Abraham ini kira-kira seperti perjalanan jalan kaki (atau dengan unta) dari Jakarta ke Surabaya.

Lebih hebatnya lagi, pada saat itu, Abraham tidak memberikan alamat lengkap Ribka. Hamba itu pergi dengan modal iman Abraham bahwa seorang malaikat yang diutus Tuhan akan membawa jalan. Abraham juga belum membuat janji dengan pihak keluarganya dan memberitahukan kepada mereka bahwa hambanya akan datang untuk mencarikan jodoh untuk Ishak.

Apa yang akan kita pikirkan jika kita disuruh berjalan kaki (boleh naik unta) ke Surabaya untuk mencari orang tanpa ada alamat lengkap? Mungkin dalam hati kita akan mengeluh dan mengumpat perintah itu. Akan tetapi, hamba Abraham pergi dengan hati seorang hamba, dan inilah pikirannya dalam hati, “TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham.”

Ketaatan hamba Abraham adalah hal yang sangat indah yang dapat kita pelajari. Ketaatan itu adalah pancaran dari hati seorang hamba. Apakah kita mempunyai hati seorang hamba di hadapan Tuhan? Atau hati seorang tuan?

Erwan

Januari 2012

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲