Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Ibu Yang Dikasihi Tuhan

Sekitar pukul 10 pagi, seorang ibu terlihat kelelahan dan keriput di wajahnya basah oleh keringat. Sesudah bangun pukul 5 pagi, dia bergegas menyiapkan kopi untuk suami tercinta dan membuat makanan untuk anak-anak yang akan sekolah. Sang suami masih tertidur lelap dan anak-anak masih senyap di dalam mimpi. Pukul 6 tiba, dia harus membangunkan suami dan mendisiplin anak-anak untuk segera bangun, mandi, berganti pakaian, makan, dan berangkat ke sekolah. Pukul 7 ketika suami membaca koran, dia menyiapkan dan merapikan barang-barang keperluan suami serta pakaian kantor agar suami dapat berangkat ke kantor pukul 8 dengan baik. Maka sesudah itu, tinggallah dia sendirian untuk mengangkat jemuran, menyetrika, dan membersihkan rumah. Hal ini terus terjadi satu hari, dua hari, satu minggu, dua minggu, satu tahun, dua tahun, dan tak terasa anak-anak sudah besar dan gurat keriput dan rasa lelah semakin menumpuk. Tak heran pukul 10 pagi hari ini keadaannya tidak cantik seperti pukul 10 pagi 20 tahun yang lalu.

Tidak hanya berhenti di sana, ibu ini mengalami bencana bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Rumah tangga yang sudah dibangun bersama suaminya selama 20 tahun mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan karena keuangan keluarga habis oleh rekan bisnis suaminya yang penipu dan kota tempat dia hidup mengalami bencana sehingga susah bagi suaminya untuk mencari nafkah. Keluarganya hidup sangat sederhana sekali dan suami-istri ini sedang merenungkan apakah mereka harus bermigrasi ke kota lain untuk menyambung kehidupan mereka.

Inilah kehidupan yang serupa dengan kisah dalam kitab Rut. Pergumulan mengenai keluarga meliputi makanan, pernikahan, anak-anak dan mereka akhirnya pergi secara ironis ke negeri orang kafir, Moab, dan meninggalkan Bethlehem (artinya: rumah roti) yang seharusnya berlimpah makanan. Ibu yang bernama Naomi ini akhirnya menjadi janda tanpa anak karena suami dan kedua putranya meninggal di negeri asing. Karakternya yang dahulu menyenangkan menjadi penuh kepahitan dan dia mengganti namanya menjadi Mara untuk menyatakan isi hatinya.

Bagaimana akhir hidup ibu ini? Saya menyarankan pembaca sekalian merenungkan sekali lagi kitab Rut dan menyelaminya. Satu hal yang kita bisa pelajari: Tuhan menjaga dan memelihara umat yang disayangi-Nya dan kisah ini berakhir manis. Bagaimana dengan iman kita kepada Tuhan?

Kitab Rut menceritakan kepahlawanan perempuan (seorang ibu dan menantu) dan kisah Rut juga terjadi di dalam musim penuaian jelai (barley harvest). Musim menuai jelai di zaman Rut terjadi di awal musim semi dan hasil penuaian pertama haruslah dipersembahkan kepada Tuhan pada hari raya buah sulung sesuai hukum Taurat.1 Maka, kisah Rut terjadi pada masa tujuh minggu penuaian yaitu masa antara Paskah dan Pentakosta, yaitu minggu-minggu yang sedang kita lewati di bulan Mei ini. Mari kita merenungkan kitab Rut sekali lagi agar mengerti pemeliharaan Tuhan atas hidup kita selama ini.

Selamat hari Ibu internasional2 (11 Mei 2014) dan selamat menantikan hari Pentakosta (8 Juni 2014)!

1Baca renungan Pillar Online Mei 2013 untuk mengerti lebih jauh: http://www.buletinpillar.org/renungan/pentakosta

2Hari Ibu di Indonesia diperingati setiap 22 Desember.

Lukas Yuan Utomo

Mei 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di kota pertama yaitu Kabanjahe pada tanggal 23 April 2019. Berdoa untuk rencana 100 kota yang akan dikunjungi di seluruh penjuru Indonesia dan 50 kota di luar negeri. Berdoa untuk Pdt. Dr. Stephen Tong, kiranya Tuhan memberikan kuasa untuk memenangkan jiwa-jiwa dan kekuatan untuk memberitakan Injil di masa tua beliau. Berdoa untuk setiap persiapan di kota-kota yang akan dikunjungi sehingga kemuliaan Tuhan dinyatakan sekali lagi di zaman ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Witness Lee tdk menyatakan firman itu ciptaan. Tdk tau kalau dulu. Tp dalam rilis resminya yg diajarkan ttg Yoh. 1:1,...

Selengkapnya...

Satu sisi kehidupan Daud akan pengenalan kepada Allah yang meneguhkanku dan membuat saya bertobat, apapun yang...

Selengkapnya...

saya bertanya saja. apa kalau saya beribadah menggunkan drum saya masuk neraka?

Selengkapnya...

Yang saya pahami, Langit yang baru dan Bumi yang baru adalah tempat tinggal manusia2 yg telah diselamatkan, dan...

Selengkapnya...

5 Tahun yg Lalu,saya Mengalami Suatu Dorongan Yg Begitu Kuat Melalui Firman ini,Saya Juga sempat Pergi...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲