Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Jadi Kelinci atau Manusia?

Sewaktu kecil saya pernah mempunyai pengalaman memelihara kelinci. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Ayah saya membangun sebuah kandang bagi mereka dan menempatkannya di halaman depan rumah saya. Setiap hari, saya dapat memberi makan sepasang kelinci saya yang rakus tapi sangat lucu itu. Melihat mereka makan saja sudah merupakan hiburan tersendiri. Karena mereka sangat rakus, secara otomatis timbul kesadaran dalam diri saya untuk selalu menyuplai persediaan kangkung dan wortel. Dengan makanan yang selalu berlimpah, pasangan kelinci tersebut segera tumbuh gemuk dan besar, dan menjadi semakin lucu lagi. Rutinitas seperti ini saya jalankan terus sampai akhir nasib hidup mereka. Satu mati di kandang, dan satunya lagi dicuri orang.

Saya juga pernah mempunyai pengalaman dipelihara oleh sepasang orang tua. Setiap hari, orang tua saya tidak pernah lupa menyediakan makanan dan minuman. Orang tua saya berjuang untuk membeli rumah supaya kami dapat hidup dengan nyaman. Orang tua saya juga membelikan kami baju baru setiap tahun baru. Hal ini berlangsung terus sampai saya sudah dapat mencukupi kebutuhan saya sendiri.

Mari kita renungkan: apa bedanya kedua macam pemeliharaan di atas? Jawaban yang mudah adalah menunjukkan perbedaan objeknya: yang pertama ialah binatang dan yang kedua ialah manusia. Namun, perbedaan apa yang membuat pemeliharaan jenis kedua itu pantas disebut pemeliharaan terhadap manusia? Jawaban langsung yang mungkin adalah cinta kasih. Kita mengasihi manusia lebih daripada kita mengasihi binatang. Akan tetapi, ekspresi dari cinta kasih seperti apa yang membedakan pemeliharaan manusia atas manusia dengan pemeliharaan manusia atas binatang?

Saya rasa, jawabannya ada di balik pertanyaan yang lebih tinggi: apa bedanya pemeliharaan saya atas kelinci dengan pemeliharaan Tuhan atas saya? Sering kali, pemeliharaan (providence) Allah diartikan sebagai “Tuhan memberi makan. Tuhan mencukupi semua kebutuhan kita.” Namun, jika persoalannya hanya sekitar kebutuhan hidup, apa bedanya Tuhan memelihara saya dengan saya memelihara kelinci saya?

Dalam Doa Bapa Kami, permintaan agar kehendak Tuhan yang jadi mendahului permintaan makanan sehari-hari. Bagi saya, ini menunjukkan rahasia pemeliharaan Tuhan atas manusia. Manusia diberi makan oleh Tuhan untuk menjadikan kehendak-Nya di dunia. Pemeliharaan Tuhan tidak sekadar supaya kita menikmati makanan dan tidak lapar. Kita perlu diberi makan karena Tuhan mempunyai misi yang harus kita jalankan di dunia ini. Orang tua saya memanusiakan saya ketika memberi saya makan tidak hanya supaya saya tidak lapar. Saya tahu bahwa orang tua saya mempunyai rencana yang panjang untuk saya: sekolah, kuliah, kerja, menikah, dan jadi orang. Saya tidak pernah mempunyai motivasi supaya kelinci saya jadi orang ketika saya memberi mereka makan.

Providensi Allah adalah tolak ukur utama dalam menjalankan pemeliharaan atas manusia. Semakin orang tua menyadari rencana Tuhan bagi anak mereka, semakin penuh mereka akan memanusiakan anak-anak dalam pemeliharaan mereka.

Jadi, mau jadi kelinci atau manusia? Kalau mau jadi kelinci, makan saja. Kalau mau jadi manusia, mari kita makan untuk menjadikan kehendak Tuhan di dunia ini.

Erwan

November 2011

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk KPIN Maluku 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Februari 2020. Bersyukur untuk setiap jiwa yang telah mendengarkan dan merespons panggilan untuk bertobat dan hidup suci.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲