Julukan

Salah satu bentuk perundungan yang sering terjadi di sekolah adalah memanggil seseorang
dengan julukan atau istilah tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukannya.
Biasanya tindakan ini, mengejek atau melabel, dianggap sebagai candaan, bukan satu hal
yang serius. Namun, bisa juga dengan sengaja hinaan diberikan untuk merendahkan
seseorang. Tidak jarang, orang-orang dewasa juga melakukannya baik terhadap rekannya
maupun terhadap yang lebih muda darinya. Ironisnya, ini juga terjadi di lingkungan sekolah
Kristen, atau bahkan di gereja.

Jika kita melihat pada Kisah Penciptaan, Kejadian 1:27, manusia dicipta di dalam gambar
rupa Allah, imago Dei. Manusia sebagai representasi Allah adalah wakil-Nya atas seluruh
ciptaan, dan membawa gambar Allah di dalam dirinya ke mana pun ia pergi. Sebagai gambar
Allah, kita memiliki sifat-sifat Allah, di antaranya kekudusan, kasih, kebaikan, dan keadilan.
Dalam menjalankan mandat budaya dan mandat Injil, manusia dipanggil memancarkan sifat-
sifat Allah.

Lalu apa hubungannya imago Dei dengan menjuluki seseorang? Objek yang sedang
dipermainkan adalah gambar Allah, ciptaan tertinggi yang menjadi wakil Allah untuk
menaklukkan dan menguasai seluruh ciptaan (Kej. 1:28). Bayangkan jika Anda menghina
penguasa sebuah negara. Tentunya akan ada konsekuensi hukum yang Anda alami. Namun,
sekarang yang memberi mandat adalah Allah sendiri, dan yang dihina adalah gambar-Nya!
Sebagaimana penghinaan terhadap perwakilan sebuah negara dianggap sebagai penghinaan
terhadap negara tersebut, maka julukan yang ditujukan pada wakil Allah adalah penghinaan
terhadap Allah!

Sebagaimana disebut di atas, manusia dipanggil untuk memancarkan sifat-sifat Allah, maka
seharusnya yang kita pancarkan bukanlah ejekan, hinaan, dan pelabelan untuk merendahkan
dan mem-bully sesama kita. Namun, kasih, kebaikan, kekudusan, dan keadilanlah yang
seharusnya menjadi refleksi dari tindakan dan ucapan kita. Sudah pasti ejekan tidak
memancarkan sifat Allah, bukan?

Ketika menyaksikan tindakan perundungan terjadi, sebagai gambar Allah, kita tidak bisa
hanya diam saja. Sebagai pernyataan kasih dan keadilan, kita patut membela sang korban dan
menegur si pelaku. Bukankah itu yang Yesus Kristus, sebagai gambar Allah yang sejati,
lakukan, membela mereka yang tertindas dengan kasih. Ia bahkan menyatakan kasih dan
keadilan Allah Bapa di atas kayu salib untuk melepaskan kita dari cengkraman penindasan si
jahat.

Mengikuti teladan Yesus Kristus, marilah kita menghidupi natur kita yang seharusnya sebagai
gambar dan rupa Allah. Bagaimana Anda akan memperlakukan sesamamu, gambar dan rupa
Allah, mulai hari ini? Kiranya cinta kasih Allah terpancar dari hidup kita semua. Soli Deo
gloria.