Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Kehinaan Kristus

Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya. Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang. Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. (Ibr. 13:13-16)

Sering kali di dalam kehidupan ini, kita terbiasa mengejar nama baik, kekayaan, dan kemuliaan seperti yang dituliskan dalam kitab Amsal. Itu baik. Tetapi sesungguhnya, inti dari kitab Amsal adalah hikmat dan hikmat yang sejati adalah Kristus sendiri. Kebodohan di dalam Kristus lebih berhikmat dari hikmat dunia, karena Kristuslah Sang Hikmat itu sendiri.

Di dalam mengejar hikmat sejati yaitu Kristus sendiri, bagaimana kita belajar menanggung kehinaan Kristus? Ketika kita belajar bahwa Kristus mengampuni dosa kita, menanggung kesalahan dan hukuman dosa kita, bahkan menanggung kehinaan kita, apakah kita berhenti sampai di situ saja? Justification by faith itu adalah fondasi yang baik, dibenarkan oleh iman, tetapi apakah kita tidak bertumbuh untuk menjadi serupa Kristus? Ketika kita berbicara union with Christ, seluruh dosa dan hukuman dosa dan kehinaan kita ditanggung oleh Kristus, tetapi pada saat yang sama kita juga belajar menderita bagi Dia dan menanggung kehinaan- Nya. Kita tidak bisa seperti istri Ayub yang hanya ingin yang enak tetapi tidak ingin mengikuti penderitaan Kristus dan kehinaan-Nya.

Kehinaan Kristus di sini digambarkan sebagai kehidupan pengembara di luar perkemahan, kehidupan najis yang diasingkan keluar dari komunitas, dan yang menjadi korban di luar kemah, kehidupan musafir yang menantikan kota yang akan datang. Orang-orang seperti ini adalah warga kerajaan Allah yang senantiasa memiliki paspor salib, senantiasa berbuat baik sebagai watak karakter bangsanya, memberi bantuan sebagai mata uang kerajaan-Nya, yaitu: korban yang berkenan kepada-Nya. Dari sana orang akan mengenal Kerajaan Sorga dan Raja Damainya, Tuhan Yesus Kristus dan memuliakan Bapa yang di sorga. Di sinilah kita belajar sama seperti warga sorga yang memuliakan Bapa di surga. Apakah kita sedang belajar bertumbuh menjadi warga Kerajaan Sorga? Soli Deo gloria.

Lukas Yuan Utomo

Juni 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Bangka dan Belitung pada tanggal 25-28 Juni 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Memperdebatkan Yesus adalah Tuhan dan Yesus adalah Manusia ataupun Tritunggal Allah dengan orang yang belum menerima...

Selengkapnya...

Syalom, terdapat kesalahan penulisan ayat pd bagian penutup artikel yg berjudul "Jealous Love" di atas....

Selengkapnya...

Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲