Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Keledai

Di rumah saya yang lama, di ruang tamunya ada lukisan kuda-kuda yang sedang berlari. Lukisan yang begitu hidup, otot-otot kekar, surai kuda yang terbang ditiup angin, pandangan mata tajam kuda- kuda semua tergambar dengan gagah.

Tetapi di wallpaper komputer saya yang berganti secara otomatis setiap bulannya, pada bulan ini justru menampilkan gambar keledai yang sedang duduk lunglai, mata setengah tertutup, sinar mata teduh, dan disertai kutipan ayat dari Matius 21:7-9.

Dua gambaran yang kontras. Gambaran pertama bahkan tanpa figur seorang jendral di atas kuda pun, kuda yang berjalan gagah sudah memberikan kesan kejantanan dan kegagahan. Tapi gambaran kedua – tidak ada kesan gagah sama sekali. Keledai memberikan kesan pelan, lambat, bodoh, dan jinak.

Ketika saya membaca kutipan ayat tersebut dalam gambaran kedua tentang Kristus masuk ke dalam kota Yerusalem menunggangi seekor keledai. Hal pertama yang langsung terpikir, kenapa Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem menunggangi keledai dan bukan kuda? Jawaban langsungnya sudah diberikan di ayat-ayat sebelumnya, yaitu di ayat 4 “hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “katakanlah kepada puteri Sion: lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”

Tapi sepertinya ada alasan lain yang tidak tertulis namun suatu alasan yang sangat kuat berakar bahkan dari Perjanjian Lama: Allah tidak pernah membagi kemuliaan-Nya kepada yang lain. Di Perjanjian Lama, Allah begitu cemburu kepada ilah-ilah sebagai kemuliaan palsu yang disembah oleh bangsa Israel. Ada beberapa kisah juga di mana hukuman yang langsung diberikan kepada mereka yang lancang mencuri kemuliaan Allah, misalnya seperti Herodes yang lupa diri kemudian dihukum mati dimakan cacing.

Memang betul Tuhan Yesus tidak menunggangi kuda karena Ia tidak ingin orang-orang Yerusalem mempunyai konsep bahwa Ia adalah Sang Mesias yang datang dengan kekuatan militer untuk membebaskan mereka dari penjajahan Roma. Namun di bawah permukaan, ada pesan lain: kemuliaan-Nya bukan kemuliaan dunia yang datang dari kerendahan, dari kehinaan. Kuda yang jantan akan merebut kemuliaan tersebut, merusak gambaran bahwa Kristus datang ke Yerusalem bukan untuk naik takhta melainkan “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.”

Pdt. Stephen Tong pernah menulis lagu dengan lirik “s’bagai keledai kuserahkan, pakai hamba-Mu Tuhanku. Ku mau taat pimpinan-Mu, bimbing pakai hamba-Mu.” Dalam jalan salib kita mengikut Kristus, apakah kita mencuri kemuliaan Tuhan berlagak seperti kuda, mengambil semua tepuk tangan dan sorak sorai bagi diri sendiri? Ataukah kita seperti keledai yang walaupun hina tapi Kristus rela memakai kita bagi kemuliaan-Nya?

Heruarto Salim

Maret 2013

1 tanggapan.

1. Kudeng Sallata dari Makassar berkata pada 11 April 2013:

Allah banyak memberi contoh dalam Alkitab kepada kita pengikutnya tentang bagaimana mejalani kehidupan ini dengan penuh kerendahan hati untuk kemuliaanNya, seperti batu yang tidak berguna bagi tukang tetapi menjadi batu penjuru bagi keselamatan manusia, lahir di dalam kandang domba, dll; namun pada kenyataannya dalam kehidupan persekutuan kita sehari-hari instin manusia kita yang lebih dominan, kita lebih memilih kesenangan diri dalam beribadah daripada memuliakan Tuhan. Kita lebih mencari kenyaman diri untuk beribadah menurut kesenangan kita. memperlengkapi ruang ibadah dengan segala asessoris kenyamanan, AC yang kuat, musik yang nyaman yang membuat kita ketiduran karena terlalu nyaman. Betulkah kita menyambah Tuhan, betulkah kita menginjili... betulkah kita onthe right track ke surga? melupakan diakonia kepada yang membutuhkan? kadangkali saya berpikir betulkah saya ini sudah termasuk orang pilihan? saya butuh pertolongan pencerahan bapak- ibu yang lebih mengerti kondisi jalan sempit itu? terima kasih

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲