Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Keluh Kesah atau Pujian-Pujian?

Di lantai dua sebuah rumah, seorang ayah berkata kepada anaknya, “Lihat, Nak, bulan hari ini indah sekali.” Anaknya, yang masih pendek hanya dapat melongo dan berkata, “Pa, mana bulannya? Kok yang aku lihat cuma langit gelap?” Sang ayah menyadari bahwa dari sudut pandang anaknya, bulan tidak terlihat karena tertutup oleh atap rumah orang lain. Dia kemudian mengangkat anaknya sampai dapat melihat dari sudut pandangnya. “Wah, iya, Pa. Bagus banget!” takjub si anak. Apa yang diajarkan ilustrasi ini tentang membaca Mazmur 145?

Jika kita membaca Mazmur 145 di dalam zona nyaman kita, ayat-ayatnya tidak akan berbunyi apa-apa di telinga dan hati kita. Baris-barisnya hanya akan terdengar seperti nyanyian rutin jemaat di kebaktian mingguan. Yang akan membuat kita mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan dan melihat dengan jelas apa yang dilihat oleh Daud adalah jika kita sekaligus turun dan naik ke tempat Daud berdiri. Maksud dari turun ke posisi Daud adalah membaca puji-pujian Daud bukan dari zona nyaman kita, melainkan dari tengah- tengah kesakitan dan penderitaannya dan kita.

Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja,
dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. (ayat 1)

Baris-baris ini tidak ditulis oleh orang yang hidup dari satu zona nyaman ke zona lainnya, melainkan dari satu zona maut ke zona maut lainnya. Dari pengalaman dan pengamatan di dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui bahwa orang dewasa dan anak kecil mempunyai respons yang berbeda terhadap penderitaan. Terhadap gigitan nyamuk, bayi menangis, anak-anak merengek, sedangkan orang dewasa menggaruk. Terhadap rasa lapar, bayi menangis, anak-anak merengek, sedangkan orang dewasa bisa tersenyum. Demikian juga, kematangan rohani anak-anak Allah juga tampak dari responsnya. Dua orang Kristen dapat diizinkan Allah mendapat masalah yang sama, tetapi dari mulut yang satu keluar keluh kesah dan umpatan, sedangkan yang lain adalah ucapan syukur dan puji-pujian kepada Tuhan. Jika kita mau mengerti keindahan Mazmur 145, marilah di tengah-tengah penderitaan yang Allah izinkan di dalam kehidupan kita, kita berkata bersama-sama dengan Daud,

Setiap hari aku hendak memuji Engkau,
dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.

Besarlah TUHAN dan sangat terpuji,
dan kebesaran-Nya tidak terduga. (ayat 2-3)

Selain turun ke lembah Daud, kita juga harus naik ke dataran tinggi Daud untuk melihat yang dia lihat. Apa maksudnya? Daud mempunyai pandangan yang melampaui kesulitan-kesulitan yang ada di depan matanya. Hanya dengan iman dan kedewasaan rohani, kita dapat melihat dan mendengar bersama-sama dengannya bahwa,

Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu,
dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.

Semarak kemuliaan-Mu yang agung
dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.

Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka,
dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan. (ayat 4-6)

Dari ayat-ayat di atas, “angkatan demi angkatan” berganti-gantian dengan “aku” memuji kemuliaan Tuhan. Dengan iman, Daud melihat melampaui zaman, bahwa suatu hari nanti dia akan bersama-sama dengan semua angkatan di seluruh sejarah menceritakan kebesaran Allah. Jika kita termasuk ke dalam angkatan yang datang setelah Daud, marilah kita bergabung ke dalam paduan suara lintas waktu untuk memuji dan menceritakan keagungan Tuhan, melampaui penderitaan yang kita alami saat ini. Seluruh penderitaan ini akan lewat, yang tersisa nanti adalah cerita-cerita dan nyanyian-nyanyian tentang kedahsyatan Allah.

Bukankah kita diciptakan untuk memuliakan Tuhan? Dari Daud, kita belajar bahwa pujian kepada Allah di tengah-tengah penderitaan mempunyai nilai yang tidak tergantikan dengan pujian di tengah-tengah zona nyaman.

Erwan

September 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲