Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Kemeriahan Natal: Perlukah?

Pada bulan ini, orang Kristen di seluruh dunia akan memperingati dan merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus ke dalam dunia. Inilah hari raya agama Kristen yang dirayakan paling meriah, dan paling mengalami komersialisasi, seperti yang terjadi dalam pusat-pusat perbelanjaan yang memanfaatkan momen Natal untuk menghabiskan barang jualannya. Kemeriahan tidak hanya dapat ditemukan di pusat perbelanjaan, tetapi juga dalam gereja-gereja, meskipun tidak dalam bentuk yang komersial seperti di pusat-pusat perbelanjaan. Kemeriahan juga tidak selalu harus identik dengan memboroskan banyak uang. Ini adalah fenomena yang menarik. Jika melihat konteks Natal yang penuh dengan kerendahan hati dan pengosongan diri, kemeriahan seperti itu seharusnya ditujukan bagi perayaan Paskah, ketika Yesus Kristus tampil sebagai Penakluk maut.

Meskipun begitu, ada alasannya juga mengapa kemeriahan tak terbendungkan dalam perayaan Natal. Kelahiran Tuhan Yesus ke dalam dunia adalah titik balik dalam sejarah keselamatan yang mengawali kristianitas. Natal mengingatkan kita bahwa titik awal kekristenan dimulai dengan kesederhanaan dan kerendahan hati seorang Raja. Namun, apa signifikansi dari titik awal dalam bentuk yang begitu rendah? Signifikansinya terlihat pada kesaksian Kristus sendiri ketika akan dilahirkan ke dalam dunia:

“Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki
--- tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku ---
Kepada kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa
Engkau tidak berkenan.
Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang;
dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku
untuk melakukan kehendak-Mu, Ya Allah-Ku.” (Ibrani 10:5-7)

Ini dikutip penulis Ibrani dari Mazmur 40:7-9. “Menyediakan tubuh bagiku” dalam baris kedua di atas diambil dari istilah “membuka telingaku” dalam Mazmur. Dalam kebudayaan Yahudi, seorang budak yang mau menyerahkan diri untuk dimiliki selamanya oleh tuannya harus dibuka telinganya oleh tuannya itu. Inilah alasan semua kesederhanaan kelahiran Tuhan Yesus. Dalam Natal, Yesus menyerahkan dirinya sebagai budak dan persembahan bagi Allah Bapa. Pelepasan semua kemuliaan dalam kisah kelahiran Yesus adalah langkah yang mutlak perlu untuk menyatakan kesediaan Yesus untuk menyerahkan seluruh kendali atas hidup-Nya kepada Bapa. Ini adalah peristiwa yang sangat menakjubkan.

Ketakjuban ini pantas untuk dirayakan secara meriah di seluruh dunia (tanpa harus menjadi korban komersial dan pemborosan). Pengikut Kristus yang setia juga diingatkan melalui peristiwa Natal bahwa perjalanan kita dimulai dari kerendahan hati dan penyerahan kendali atas hidup kepada Bapa. Ketika kita merayakan Natal, apakah kita sudah mengikuti jejak Kristus?

Erwan

Desember 2012

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲