Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Kesetiaan

Bulan lalu kita sudah mempelajari apa itu keberanian dan pentingnya peran keberanian di dalam panggung sejarah. Untuk mempelajarinya lebih jauh, kita akan mempelajari mengenai apa yang menjadi rahasia keberanian seorang pemimpin dan bagaimanakah seorang pemimpin itu diperkenan oleh Tuhan.

 

Seseorang atau suatu bangsa menjadi berani karena memiliki ideologi yang kuat. Musa menuliskan di Ulangan 31:1-8 bahwa mereka memiliki backing TUHAN Allah yang akan berjalan menyertai mereka. Oleh karena itu, ideologi dan kesadaran bahwa mereka disertai TUHAN, menghadap wajah TUHAN, mendapatkan perkenanan TUHAN, mengerti kehendak TUHAN, menyentuh isi hati TUHAN-lah yang menjadi kekuatan keberanian dari seorang pemimpin dan suatu bangsa.

 

Dan bagaimanakah seorang pemimpin dan suatu bangsa itu mendapatkan perkenanan TUHAN, menghadap wajah TUHAN, dan menyentuh isi hati TUHAN? Pemimpin yang setia kepada Perjanjian (covenant).

 

Menarik untuk diperhatikan bahwa di dalam Kitab Suci, pemimpin yang berkualifikasi adalah pemimpin yang tidak mau jadi pemimpin seperti Musa dan Yeremia atau pemimpin yang mau jadi pemimpin tetapi melewati kesulitan besar seperti Daud, Elia, dan Yesaya. Mengapa demikian? Karena menjadi pemimpin itu tidak mudah. Karena itu di dalam perenungan sebelumnya, pemimpin itu haruslah berani. Menjadi pemimpin haruslah menjadi teladan, menghadapi kesulitan, mengambil keputusan berat, dan menjalankan keadilan yang tercantum di dalam 10 hukum Allah. Seorang pemimpin haruslah memiliki hati yang murni dan mengasihi Allah sesungguh hati dan sebulat tekad, dia juga harus memiliki perasaan empati dan kemanusiaan kepada sesamanya. Dalam hal ini, seorang pemimpin haruslah setia untuk berani dan berani setia.

 

Di dalam Mazmur 72 kita melihat bagaimana seorang pemimpin pun mendapatkan anugerah keadilan dan kebenaran dari Allah. Jadi seorang pemimpin harus sadar mengenai mandat yang diberikan Tuhan dengan takut dan gentar. Mandat ini yang menjadi kunci dari jatuh bangun, sukses tidak, berhasil gagalnya seorang pemimpin. Bagaimana pemimpin ini berespons kepada Allah dan mandat-Nya menjadi kunci mendapatkan perkenanan TUHAN. Bagaimana pemimpin ini berespons kepada Allah dan mandat-Nya, akan menentukan kesalehan dirinya dan hari depan bangsa. Takut dan gentar serta kesetiaan kepada mandat Allah inilah yang menjadi titik tolak pemimpin tersebut untuk berperang melawan radikalisme, korupsi, gratifikasi, kekerasan, penindasan, ketidakadilan, dan sebagainya. Respons terhadap Allah ini akan tercermin di dalam bagaimana seorang pemimpin mengasihi sesamanya dan melindungi mereka yang lemah, tertindas, dan yang membutuhkan.

 

Apa yang menjadi respons kita sebagai bangsa? Mari kita melatih diri kita untuk menjadi pemimpin yang lebih baik dalam konteks kehidupan kita dan mendoakan agar pemimpin bangsa kita benar-benar berkenan di hati TUHAN. Amin.

Lukas Yuan Utomo

Februari 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲