Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Ketika Rasul Mengajak Rapat

Sebagai orang yang bekerja di dalam organisasi pada zaman ini, tentu kita tidak dapat menghindar dari rapat. Rapat adalah suatu kegiatan yang sangat penting bagi suatu organisasi agar berjalan dengan terkoordinasi. Bahkan pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui untuk apa biasanya para CEO paling menghabiskan waktu mereka, dan jawabannya adalah: menghadiri satu rapat ke rapat yang lain. Di gereja pun tidak kalah banyak rapatnya. Di dalam kesibukan dan banyaknya pelayanan yang harus dilakukan, untuk apa orang Kristen mengadakan rapat? Jika tujuannya adalah koordinasi, bukankah cukup mengirimkan email massal? Apa yang terjadi ketika para rasul mengajak rapat?

Suatu kali dalam gereja mula-mula, jemaat Yahudi peranakan protes karena janda-janda mereka tidak mendapat perhatian yang sama seperti janda-janda Yahudi totok (Kis. 6:1). Karena protes itu, para rasul “memanggil semua murid berkumpul” dan mengatakan perlu ada majelis yang diangkat untuk memperhatikan para janda itu, sebab para rasul tidak dapat melayani dalam segala hal.

Bagian kisah ini sering digunakan untuk membicarakan konteks lahirnya jabatan dan tugas kemajelisan. Namun, yang ingin saya tekankan adalah kehadiran jemaat mula-mula dalam salah satu rapat yang paling pertama dalam sejarah gereja tersebut. Rasul memanggil dan semua jemaat berkumpul. Ini menunjukkan bahwa semua jemaat ikut serta dalam memperhatikan gereja. Saya tidak bermaksud untuk menggunakan bagian ini untuk mengatakan bahwa setiap rapat gereja harus diikuti oleh semua jemaat. Bagi gereja yang mempunyai anggota ribuan, apalagi di zaman modern seperti ini, hal seperti itu hampir tidak mungkin dilakukan. Namun, yang ingin saya tekankan adalah semua peduli terhadap kehidupan bergereja. Motivasi itulah yang mendorong mereka untuk mengikuti rapat. Mereka mengikuti rapat karena mereka peduli terhadap gereja dan mau mendengarkan kebutuhan yang dirasakan oleh jemaat Allah.

Bukankah salah satu penyakit kronis jemaat sekarang bukan saling membenci, tetapi saling tidak peduli? Semangat seperti itu pula yang berimbas pada keikutsertaan dalam rapat. Renungan ini ingin membuat kita bertanya pada diri kita sendiri, mengapa kita, para pelayan, tidak hadir dalam rapat? Apakah karena ada halangan yang serius atau hanya karena tidak peduli?

Erwan

November 2012

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

puji Tuhan...iamn yg disertai praktek syukur dalam segala musim hidup ini semakin meneguhkan pengharapan akan...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲