Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Kota

Di dalam debat pilkada sebuah kota yang disiarkan oleh program televisi nasional, calon kepala daerah yang berdebat saling memberikan data dan penafsiran. Kita bisa melihat adanya kontras, di satu sisi betapa kelamnya kehidupan di kota besar dengan segala permasalahannya: banjir, kemiskinan, kejahatan, diskriminasi, ketimpangan sosial (calon penantang dengan sesumbar asalkan dirinya dipilih, semua masalah beres). Di sisi lainnya digambarkan betapa kota besar memberikan potensi besar seperti budget jumbo untuk kebutuhan kesehatan dan pendidikan gratis, transportasi dan infrastruktur yang baik, dan sebagainya (petahana dengan semangat membeberkan betapa banyak perubahan positif yang diusahakannya supaya pemilih kembali mencoblosnya untuk melanjutkannya).

Jadi apakah kota ini memberikan gambaran yang positif atau negatif? Dua-duanya benar. Bahkan Alkitab memberikan sebuah gambaran tentang kota yang jauh lebih realistis dan lebih menjanjikan daripada apa yang dipaparkan oleh dunia.* Kota bukanlah hasil ciptaan manusia belaka, namun Allah sejak dari semula sudah mempunyai suatu rencana tentang perkotaan. Apa yang dinantikan oleh Abraham, Sang Bapa orang beriman? Sebuah kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibr. 11:10). Gambaran wahyu tentang langit dan bumi baru juga menggambarkan tentang keadaan suatu kota yang abadi.

Ketika Alkitab mencatat bahwa kota pertama yang dibangun manusia didirikan dengan motivasi untuk mereka mencari nama bagi mereka sendiri, orang Kristen dipanggil untuk menebus dan mengembangkan semua potensi yang Tuhan berikan di dalam sebuah kota bagi kemuliaan Tuhan. Kita dipanggil untuk “mengusahakan kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang dan berdoa untuk kota itu kepada Tuhan” (Yer. 29:7). Berdoa untuk kota Babilonia yang jahat? Ya! Sama seperti ketika Tuhan mengutus Yunus ke kota Niniwe untuk memberitakan firman. Apakah alasan Tuhan? “Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang?” Kalau Tuhan menaruh perhatian begitu besar kepada kota, masakkan kita hanya berpangku tangan? 

Bagi yang berpikir ingin menjadi seorang misionaris dikirim ke pedalaman terpencil, itu niat yang mulia. Namun sementara memperlengkapi diri atau masa pelatihan, lihatlah bagaimana Tuhan juga mengutus orang-orang dari berbagai pedalaman untuk dijangkau di kota. Adakah kita mendoakan kota di mana kita tinggal dan mengusahakan kesejahteraan orang-orang di dalam kota tersebut?


*terinspirasi oleh buku “Why God Made Cities” karangan Tim Keller.

Heruarto Salim

Februari 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan terhadap Calvin Institute of Technology (CIT) yang sedang dalam tahap Penerimaan Mahasiswa Baru untuk Tahun Ajaran 2019/2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Artikel kotbah di atas isinya singkat padat dan jelas. Tuhan berkati penulisnya. Ijinkan saya kiranya dapt...

Selengkapnya...

Terimakasih,sangat terberkati artikel ini Tuhan Yesus Memberkati

Selengkapnya...

Sdr.Martua S; Sesuai dgn tertulis diatas:Inilah Anak yg kukasihi,kepadaNyalah Aku berkenan.Jelas Bapa dan Anak adalah...

Selengkapnya...

Saya pernah dulu dengar pak Tong khotbah Maz 23. Dan saya hari ini Feb 7,2019 mencoba kontemplasi Mazmur 23:4....

Selengkapnya...

Bagus

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲