Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Lebih Dari Pedang Bermata Dua

Kata-kata seseorang biasanya mencerminkan kepribadian seseorang. Dari seorang penyabar akan jarang keluar kata-kata murka. Demikian juga kesombongan seseorang terdengar dari kata-katanya. Bagaimana dengan Allah? Bagaimana karakter-Nya direfleksikan oleh firman- Nya? Kita sering mengatakan bahwa firman Tuhan menguatkan dan menghiburkan hati. Itu memang benar dan itu mencerminkan sifat Allah yang setia dan membawa damai. Akan tetapi, di Surat Ibrani, sifat Allah yang lain tampak pada firman-Nya: lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun.

Mari kita melihat pada konteksnya di dalam Surat Ibrani sebelum perbandingan di atas keluar. Pada pasal pertama hingga pasal ketiga, penulis memperkenalkan Yesus kepada pembacanya dengan cara yang spektakuler. Yesus adalah Anak Allah, yang lebih tinggi daripada malaikat, dan juga Musa, nabi yang paling dihormati oleh orang Yahudi (pembaca utama Surat Ibrani).

Seperti yang sudah kita ketahui, impian orang Yahudi adalah mendapatkan perhentian di dalam Tanah Perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Mereka berpikir bahwa mereka pada akhirnya akan mendapatkan itu jika mereka menjalankan hukum Musa. Namun, penulis menunjukkan bahwa pada masa hidup Musa, banyak yang tidak masuk ke dalam Tanah Perjanjian karena tidak beriman dan tidak taat kepada Tuhan (3:16-19). Bahkan, setelah Yosua membawa mereka masuk ke tanah Kanaan, Yosua sebenarnya belum membawa mereka masuk ke tempat perhentian (4:8). Di bawah Musa dan Yosua, orang Israel belum mendapatkan apa yang sebenarnya dijanjikan. Ini tidak heran, karena perhentian yang sejati hanya di dalam Kristus: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula,” (3:14).

Karena itu, kata “waspada” muncul beberapa kali. Penulis sadar banyak orang Yahudi yang terlena oleh identitas jasmani mereka, oleh Taurat yang mereka punyai dan praktikkan, oleh tanah yang sedang mereka tempati. Waspadalah, karena bisa saja kita merasa sudah ada bagian di dalam perjanjian Tuhan, tetapi pada akhirnya Tuhan menilai kita sebagai orang yang murtad dan tidak percaya (3:12-13). Orang Yahudi harus mendengar baik-baik firman Allah, baik dari Perjanjian Lama, maupun dari pengajaran Yesus dan para rasul (yang mungkin belum semuanya tertulis pada waktu itu). Jika orang Yahudi tidak percaya kepada firman Allah, Allah akan menghakimi mereka dengan firman-Nya. Penampilan di luar tidak akan dapat menipu Allah,

Sebab firman Allah hidup, dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh; sendi- sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya; sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. (4:12-13)

Peringatan untuk berwaspada ini juga berlaku bagi orang “Kristen” zaman sekarang. Apakah rajin menampakkan diri di gereja, ikut katekisasi, membaptiskan anak, memasukkan anak- anak ke sekolah minggu, semua fenomena ini membuktikan kita mempunyai bagian di dalam Kristus? Apalagi, jika sering tampak di gereja tetapi tidak menghormati kebaktian. Allah tidak dapat ditipu, dan firman-Nya menembusi hati terdalam. Tidak ada yang akan terlewat karena semua orang harus memberikan pertanggungan jawab. Bukankah iman akan terekspresikan pada ketaatan? Saya ingin menutup renungan ini dengan mengutip lagi dari Ibrani: “Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka…. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga,” (4:6, 11).

Erwan

Juni 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲