Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Manakah Yang Lebih Mudah?

Jika bisa gampang, untuk apa pakai cara yang susah? Demikian cara berpikir banyak orang. Prinsip ini tidaklah selalu salah. Membuang waktu yang berharga untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan cara yang tidak efisien adalah kebodohan. Namun, menggunakan prinsip mudah-sulit untuk menjadi dasar bagi semua keputusan juga adalah kebodohan. Misalnya, jalan yang paling mudah adalah tidak usah belajar dan bekerja, hanya bermalas-malasan di rumah, tetapi jalan ini tentu tidak dipilih sebagian besar orang. Demikian juga, bukan prinsip tersebut yang sedang dipakai ketika Yesus bertanya, “Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?” (Luk. 5:23).

Pertanyaan itu jika dibaca dengan kacamata orang malas adalah, “Manakah kalimat yang lebih mudah diucapkan? Manakah kalimat yang lebih pendek dan cepat berakhir?” Berdasarkan sikap ini, cara yang termudahlah yang akan dipilih Yesus.

Jika bukan begitu, bagaimana cara memahami pertanyaan Yesus? Untuk itu, kita harus memahami konteksnya. Orang-orang Farisi yang mendengar gosip tentang Yesus sedang datang untuk mengawasi pergerakan Yesus, dan menyaksikan sendiri apa yang sedang Dia lakukan, apakah berbahaya, sesat, atau bagaimana. Dan pada saat itu juga, ada seorang yang lumpuh karena dosanya dibawa kepada Yesus untuk disembuhkan. (Tidak semua orang sakit yang datang kepada Yesus sakit karena dosanya. Untuk kasus Lukas 5 ini, kita mengetahui bahwa dia lumpuh karena dosanya karena Yesus menyembuhkannya dengan cara menyatakan dosanya diampuni.) Di hadapan orang-orang Farisi itu, Yesus dengan terang- terangan menyatakan otoritas-Nya untuk mengampuni dosa maupun menyatakan dosa orang diampuni.

Hal ini jelas membuat orang Farisi kaget dan marah. Hanya Allah yang dapat mengampuni dosa, dan pada saat itu, pengampunan dosa oleh Allah diumumkan oleh imam yang bertugas di Bait Suci setelah persembahan korban perdamaian. Tidak heran orang Farisi bertanya dalam hati mereka, “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Luk. 5:21). Dengan menyatakan dosa seseorang diampuni, Yesus telah bertindak sebagai Allah dan Perantara Allah sekaligus. Kini, tanpa melalui Bait Suci, orang Israel dapat datang meminta pengampunan dosa kepada Allah melalui Yesus.

Klaim yang dikeluarkan oleh Yesus ini – bahwa Dia dapat bertindak sebagai Allah dan menggantikan imam dan Bait Suci sekaligus – bisa dengan mudah ditiru oleh orang lain (tentu dengan modal nekat). Siapa saja yang punya nyali dapat membuat dan memalsukan klaim yang spektakuler seperti ini. Karena itu, Yesus tidak hanya berhenti pada ucapan yang kosong, tetapi tindakan yang nyata, yaitu menunjukkan bahwa dosa orang sakit itu benar- benar telah diampuni, yang dibuktikan dengan membuat dan menyuruh orang tersebut bangun dan berjalan. Ini mustahil dilakukan oleh ilah yang palsu. Karena itu, perihal gampang-susah di sini bukan masalah kalimat mana yang lebih pendek, tetapi kalimat mana yang mustahil diucapkan dan dibuktikan oleh manusia biasa.

Ketika orang Kristen menyembah Yesus sebagai Tuhan, mereka tidak sedang berdelusi dan mengarang-ngarang doktrin. Istilah-istilah yang Tuhan Yesus gunakan di Israel abad pertama, meskipun tidak jelas bagi pembaca sekarang, sangat jelas bagi pendengar-Nya saat itu, sehingga orang Farisi menyebut-Nya sebagai penghujat Allah. Jika engkau ragu Yesus itu Allah yang berotoritas mengampuni dosa, bacalah kisah Injil bukan dengan kacamata orang modern, tetapi dengarkan kalimat Yesus sebagaimana orang Israel saat itu mendengarkan- Nya. Engkau akan takjub terhadap otoritas ilahi-Nya. Bagi kita yang mengaku orang Kristen, kisah ini mengajarkan kita untuk menunjukkan identitas kita dengan melakukan hal-hal yang hanya dapat dilakukan oleh pengikut Kristus sejati, meskipun sering kali jalan itu adalah jalan yang lebih sulit.

Erwan

Mei 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk NRETC 2017 yang telah diadakan pada tanggal 15-18 Juni 2017. Bersyukur untuk setiap remaja yang telah mengikuti acara ini, kiranya melalui NRETC ini, Tuhan membangkitkan sekelompok generasi muda Kristen yang mengerti akan firman Tuhan yang sejati, yang mengerti akan kehendak Allah, dan memperjuangkannya di dalam hidup mereka.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Musik dan alat musik adalah ekspresi budaya. Bagi penyelera musik klasik silakan berselera. Tidak perlu memperalat...

Selengkapnya...

Terimakasih pejelasannya, baru ini saya tau makna bapak kami.selama ini hanya diucapkan saja sebagai doa hapalan.

Selengkapnya...

materi yang bagus...jika ada materi yang lebih lengkap mengenai penginjilan pribadi mohon kirim ke email saya. saya...

Selengkapnya...

shalom, saya mau ada tugas di gereja untuk mecari bahan khotbah yang bertema MERAIH UPAH MELALUI UJIAN IMAN , saya...

Selengkapnya...

Ytk penulis, Saya sering mendengar banyak orang berdoa dengan menyebutkan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam penyebutan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲