Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Mazmur 39

Ya TUHAN, Beritahukanlah Kepadaku Ajalku, dan Apa Batas Umurku.

Mazmur ini memberikan kesan yang mendalam bagi pembacanya. Mazmur ini diakhiri dengan kalimat, “Alihkanlah pandangan-Mu daripadaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!” Sangat kontras dengan pergumulan pemazmur yang biasanya selalu ingin mencari wajah TUHAN dan juga dengan doa berkat imam yang mengatakan, “kiranya Allah menghadapkan wajah-Nya kepadamu”. Pergumulan pemazmur ini lebih mirip pergumulan Ayub yang menginginkan agar Allah pergi ke tempat lain dan jangan terus menekan dia. Apa yang menyebabkan pemazmur ini bergumul sedemikian?

Pertama, karena dia sedang berhadapan dengan orang fasik. Terkadang di dalam kehidupan ini kita, ketika berhadapan dengan orang yang tidak takut kepada Tuhan, apa pun yang kita lakukan di hadapan mereka akan serba salah. Kita diam salah, kita bicara salah. Kita tidak mengerjakan salah, kita mengerjakan pun salah. Karena itu pemazmur mengatakan, “aku kelu di hadapan orang fasik.” Bisa jadi orang-orang fasik tersebut adalah bos kita, kolega kita, keluarga kita, atau bahkan diri kita sendiri dengan suara hati dan pikiran yang saling menuduh dan membela. Menghadapi tekanan yang sedemikian berat, pemazmur sadar betapa fana, sebentar, dan sia-sia dirinya dan hidup ini, dia ingin segera bertemu dengan Tuhan.

Kedua, karena dia menanti-nantikan Tuhan dan berharap kepada Tuhan. Sesungguhnya tidak ada yang tidak berdosa di hadapan Tuhan. Karena itu ketika kita berharap dan menanti- nantikan Tuhan, sedangkan lingkungan kita semua melawan kita, maka kita akan segera sadar bahwa memang tangan Tuhanlah yang melakukan ini semua dan penghakiman-Nya adalah adil. Daud ingin agar pelanggaran-pelanggarannya dilepaskan oleh Tuhan dan tidak diperhitungkan lagi. Satu hal yang kita boleh belajar dari Daud adalah dia selalu melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan dan memiliki hubungan erat dengan Tuhannya. Bahkan di dalam masa-masa “ketidakhadiran” Tuhan seperti ini, yang sebenarnya adalah “kehadiran”-Nya yang mengikat Daud karena pelanggaran-pelanggaran Daud, Daud tetap berdoa, berseru, berteriak, menangis, dan minta tolong kepada Tuhannya. Karena dia tahu dia tidak memiliki jalan lain selain kembali kepada Tuhan. Jika Tuhan tidak bisa menolong, siapa lagi yang bisa menolong? Jika Tuhan terasa jauh, maka teringatlah kita akan nenek moyang kita yang lebih dahulu sudah memelihara iman dan memenangkan pertandingan iman; bagaimana mereka bisa bertahan sampai akhir? Demikianlah Daud mengingat Abraham, Ishak, dan Yakub yang hanyalah pendatang di muka bumi ini. Dan di tengah-tengah itu semua, Daud berkata, mohon Tuhan berbelaskasihan dengan memberikan kelegaan barang sebentar kepadanya karena dia tidak kuat lagi.

Kita bersyukur apabila kita hidup di dalam zaman Perjanjian Baru, kita memiliki Imam Besar yang telah melintasi segala langit dan itu menjadi keyakinan kita bahwa dosa kita sudah diampuni dan Dia menerima kita sepenuhnya. Di dalam berbagai pergumulan hidup ini yang mirip dengan pergumulan Daud, kita bisa memohon Tuhan memberikan kelegaan kepada kita karena kita tidak kuat, dan karena kita tahu persis hati-Nya untuk kita dan Dia mengerti secara sempurna segala kelemahan dan pelanggaran-pelanggaran kita. Dia dijadikan berdosa karena kita dan Dia menebus segala dosa kita. Amin.

Lukas Yuan Utomo

Desember 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

puji Tuhan...iamn yg disertai praktek syukur dalam segala musim hidup ini semakin meneguhkan pengharapan akan...

Selengkapnya...

Apakah orang Kristen harus merayakan hari raya Purim juga?

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲