Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Memimpin Dengan Fokus

Pdt. Stephen Tong, di dalam salah satu kesempatan, pernah menasihati mahasiswa STTRII: Jangan mau cepat terkenal! Bagaimana dengan Daud? Daud bukan mau cepat terkenal, tapi memang sudah terlalu terkenal melebihi Saul. Nyanyian gadis-gadis yang memuji “Saul membunuh beribu-ribu, Daud berlaksa-laksa” ternyata mengundang masalah yang menyebabkan Daud harus menjadi buronan yang dikejar-kejar Saul.

“Terlalu terkenal” bukan hanya menjadi masalah bagi Daud saja, namun juga menjadi potensi masalah bagi setiap pemimpin Kristen. Bukankah banyak pemimpin besar dulu ketika belum terkenal, begitu rendah hati, begitu mengandalkan Tuhan, namun ketika sudah terkenal, gaya jalan pun sudah berubah, dan mulai mencuri kemuliaan Tuhan.

“Terlalu cepat terkenal” juga menjadi masalah setiap pemimpin yang terlalu ingin terlalu cepat mendapatkan nama atau pengakuan dari orang lain. Seorang yang mementingkan kuantitas tanpa peduli dengan kualitas seperti buah karbitan yang matang sebelum waktunya. Saya percaya pembentukan Tuhan memerlukan waktu dan terkadang bisa lama dan begitu sulit, seperti mengasah permata memerlukan waktu lebih lama dan lebih sulit dibanding meraut pensil. Daud yang sudah diurapi oleh Samuel sejak muda untuk menggantikan Saul menjadi raja, ternyata harus menunggu puluhan tahun baru akhirnya Daud menempati takhta yang memang haknya sejak lama.

Terkenal atau tidak, bukan menjadi perhatian kita, kita tidak dituntut untuk menjadi terkenal atau mendapatkan pengakuan, kita dituntut untuk setia. Tidak setiap pemimpin dipanggil Tuhan untuk dipakai secara besar atau secara publik. Lebih banyak hamba Tuhan atau missionaris yang dengan setia melayani tanpa pernah mendapatkan pengakuan akan pelayanan mereka sampai mati. Mari kita belajar seperti Paulus menyampahkan segala nama, pengakuan, jabatan, demi fokus kepada Kristus. Mari belajar dibentuk Tuhan dalam proses yang dikehendaki-Nya.

Heruarto Salim

Februari 2014

1 tanggapan.

1. Irsanki Gabrial dari Jakarta berkata pada 3 November 2015:

Sungguh renungan yang menyadarkan saya.Terima kasih atas renungannya Pdt. Stephen Tong, TYM. Amin

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Bangka dan Belitung pada tanggal 25-28 Juni 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Memperdebatkan Yesus adalah Tuhan dan Yesus adalah Manusia ataupun Tritunggal Allah dengan orang yang belum menerima...

Selengkapnya...

Syalom, terdapat kesalahan penulisan ayat pd bagian penutup artikel yg berjudul "Jealous Love" di atas....

Selengkapnya...

Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲