Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Menggenggam Salib

Apa perbedaan kehidupan seorang Kristen dengan non-Kristen? Segala sesuatu yang dikerjakan seorang Kristen tampak tidak berbeda dengan yang non-Kristen. Ya, secara fenomena memang terlihat sama, tetapi jika ditelusuri ke dalam hati, maka seharusnya berbeda. Apa pun yang dilakukan seorang Kristen seharusnya memiliki bobot kekekalan karena dilakukan dengan menggenggam salib Kristus.

Apa yang terjadi ketika hati seseorang menggenggam salib Kristus? Ia akan mendengar tujuh perkataan terakhir yang diucapkan Yesus Kristus:
1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Senantiasa mengingat bahwa Kristus telah mengampuni dosa kita, baik dosa di masa lampau, sekarang, maupun yang akan datang. Kristus telah memohonkan pengampunan bagi kita, si terdakwa, di dalam ruang pengadilan Allah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita, antarmanusia berdosa, untuk saling mengampuni.
2. “Sesungguhnya, hari ini juga kamu akan bersama Aku di dalam Firdaus.” Senantiasa mengingat bahwa Kristus menjamin kepastian kita bersama-sama dengan Dia di Firdaus. Suatu anugerah besar yang tidak mungkin kita raih, si penjahat yang menerima hukuman setimpal dengan perbuatannya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita hidup penuh syukur dan bermurah hati kepada sesama kita.
3. “Ibu, inilah anakmu!’ – “Inilah ibumu.” Senantiasa mengingat bahwa di dalam Kristus, kita disatukan di dalam keluarga besar yang beriman kepada Tuhan Yesus. Oleh karena itu, kita diharapkan untuk saling memelihara satu dengan yang lain.
4. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Senantiasa mengingat betapa besarnya harga yang harus dibayar Yesus untuk menebus kita. Betapa mengerikannya akibat dari dosa-dosa kita. Oleh karena itu, hendaklah kita trauma terhadap keinginan kita untuk berdosa.
5. “Aku haus.” Senantiasa mengingat bahwa Allah Anak telah sedemikian merendahkan diri-Nya untuk menjadi terbatas sama seperti kita, dan di dalamnya menjadi lemah. Kiranya kita juga rela untuk merendahkan diri kita demi mengasihi orang lain.
6. “Sudah selesai.” Senantiasa mengingat bahwa rencana Allah Bapa sudah selesai dikerjakan oleh Yesus Kristus. Tidak ada satu pun yang kurang, gagal, atau terhilang. Oleh karena itu, hendaklah kita giat mengerjakan keselamatan yang telah kita terima dan menyambut hari terakhir kita sebagai pintu untuk berjumpa dengan Kekasih Jiwa kita, muka dengan muka. Alangkah indahnya hari itu!
7. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Senantiasa mengingat bahwa Yesus taat sepenuhnya kepada Allah Bapa, baik dalam hidup maupun mati-Nya di dalam tubuh. Oleh karena itu, kita harus hidup dalam kesucian dan ketaatan yang total kepada Pemilik jiwa kita.

Kiranya, di dalam setiap hal yang kita kerjakan, yang kelihatannya tidak berbeda dengan semua orang yang lain, kita boleh menikmati taste of eternity, mengingat perkataan-Nya di hari Jumat Agung itu, sambil bersyukur kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama kita.

Yana Valentina

Maret 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Akhirnya, kita harus sadar, semakin kita mencoba untuk menarik semuanya untuk diri kita, maka kita akan semakin...

Selengkapnya...

SHALOM, PAK TONG TERIMA KASIH SEKALI, SAYA SANGAT DIBERKATI SEKALI DENGAN PENGAJARANPAK TONG INI, KAPAN YA PAK TONG...

Selengkapnya...

Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲