Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Mengikut Tuhan: Metode atau Relasi?

Dalam artikel tentang Bapa Gereja Antony (PILLAR Edisi Juli 2012) dituliskan bahwa ia menjual dan membagi-bagikan semua harta miliknya karena terinspirasi oleh perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 19:21. Demikian juga dalam kisah panggilan Tuhan Yesus kepada Simon, Yakobus, dan Yohanes dalam Injil Lukas 5:1-11, ditutup dengan mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Jadi, apakah setiap orang yang terpanggil oleh Tuhan dengan serta merta meninggalkan segala sesuatu lalu juga menjual semua harta milik mereka untuk dibagikan kepada orang miskin secara harafiah?

Ataukah ada kisah-kisah lain dalam Alkitab yang mencatat sisi lain dari panggilan Tuhan? Dalam kisah Lewi si pemungut cukai yang bertobat, Tuhan Yesus tidak menyuruh Zakheus untuk menjual rumah dan segala isinya. Ia berkata “Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Dalam suatu kisah terkenal tentang panggilan Tuhan: Tuhan menanyakan apa yang ada di tangan Musa ketika Tuhan menampakkan diri-Nya untuk mengutus Musa kepada Firaun. Lalu Tuhan memerintahkan Musa untuk memakai tongkat yang ada di tangannya untuk melakukan mujizat-mujizat seperti membelah Laut Merah, memukul batu lalu keluar pancaran air, dan lain-lain. Maksud dari sisi yang lain ini adalah tidak semua yang dipanggil Tuhan dituntut untuk memberikan semua harta miliknya ataupun berhenti dari pekerjaannya saat itu.

Jadi, bagaimana ketika kita mau sepenuh hati mengikut Tuhan, apakah kita harus menjual semua harta kita atau tidak? Poin utamanya adalah bukan tentang harta benda tersebut namun arah hati kita, apakah hati kita masih diikat oleh materialisme seperti pemuda yang kaya tersebut? Ataukah kita bisa seperti tokoh-tokoh raksaksa iman dalam Alkitab yang juga sangat kaya namun hati mereka tidak diikat oleh materi seperti Daud, Yusuf, Daniel, dan lainnya? Ataukah seperti Zakheus yang tetap “berani” menjadi pemungut cukai dengan identitas barunya sebagai murid Yesus untuk menjalaninya dengan hidup berintegritas? Seperti Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea, murid Yesus “rahasia” yang bercokol dalam Sanhendrin?

Kalau kita terus teliti kisah panggilan para pahlawan iman dan cara Tuhan membentuk mereka, sepertinya akan banyak sekali sisi-sisi lain yang bisa kita pelajari. Jadi tidak ada satu sisi yang boleh kita mutlakkan sedemikian hingga sisi-sisi lainnya diabaikan atau diacuhkan. Melihat banyak sisi tersebut memang membuat kita lebih bingung, karena akan jauh lebih mudah kalau kita menganggap mengikut Tuhan ada satu metode yang tetap. Mengikut Tuhan bukan mengikut serangkaian metode; mengikut Tuhan adalah mengikut suatu Pribadi yang penuh dinamika.

Tidak ada jalan lain untuk peka mengetahui pimpinan Tuhan yang tepat bagi diri kita selain dekat dengan Pribadi yang memanggil kita dan kita mengenal suara-Nya yang manis dalam persekutuan dengan-Nya.

Heruarto Salim

Juli 2012

2 tanggapan.

1. heriyanto dari bandarlampung berkata pada 18 July 2012:

Setuju mengikuti yesus suatu relasi yang selalu mendekat padanya bukan suatu metode

2. Niko dari Jakarta berkata pada 19 July 2012:

saya senang dengan apa yang disampaikan di dalam artikel ini, menurut saya Firman Tuhan itu begitu kaya dan begitu khusus kepada pribadi tertentu. saya setuju bahwa mengikut Tuhan Yesus bukan metode tetapi relasi, akan tetapi kita tidak perlu memberi batasan untuk seseorang menanggapi kebenaran Firman, bila seseorang ingin menanggapi dengan harafiah itu lebih baik, tetapi tentunya tidak selamanya harus seperti itu.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲