Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Merdeka Untuk Apa?

Oeee… oeee… oeee….” Terdengar suara tangisan pertama dari bayi yang baru saja lahir. Apakah itu tangisan karena sedih atau teriakan kemenangan, adakah yang tahu? Setelah sekian lama berada di tempat yang gelap, yang makin lama makin terasa sempit, kini tiba saatnya mendobrak keluar ke tempat yang terang dan luas. Nutrisi yang selama ini diberikan langsung ke perutnya, kini diberikan dari tempat yang baru. Semua anggota tubuh yang selama ini belum digunakan dengan maksimal, kini berkembang semakin sempurna. Tanggal bayi itu dilahirkan menjadi tanggal yang dirayakan setiap tahun sebagai Hari Ulang Tahun (HUT).

“Merdeka…” Terdengar teriakan kemenangan dari suatu bangsa yang dahulu hidup dalam kegelapan penjajahan, belenggu kemiskinan, kini telah berhasil mengusir pergi para penjajah. Kini bangsa itu hidup dalam terang kemerdekaan dan bebas menentukan arahnya sendiri. Tanggal proklamasi kemenangan dikumandangkan menjadi tanggal yang dirayakan setiap tahun sebagai hari lahirnya suatu bangsa. Tanggal 17 Agustus 2015 adalah Hari Ulang Tahun Bangsa Indonesia yang ke-70.

Ada saatnya untuk lahir, ada saatnya untuk mati, tidak ada yang kekal untuk apa pun di dunia ini. Bagaimana mengisi saat antara lahir dan mati? Kalimat hikmat dari orang yang terpandai di seluruh dunia dan di seluruh zaman, yang sudah menyelidiki semua hal yang terjadi di bawah langit adalah, “Segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?” (Pkh. 1:2-3). Dia yang paling berhikmat mengatakan hikmat, kesenangan, kekayaan adalah sia-sia. Jikalau demikian, apakah gunanya seorang bayi dilahirkan ke dalam dunia ini, apakah gunanya sebuah bangsa menyatakan kemerdekaannya?

Kalimat terakhir sang Pengkhotbah adalah, “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (Pkh. 12:13-14). Allah yang berada di atas matahari, dengan firman-Nya menciptakan semua yang ada, dengan kebenaran-Nya menilai segala ciptaan- Nya, dan dengan kuasa-Nya menjalankan keadilan-Nya. Fear Him all ye nations!

Marilah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang berkaitan dengan “yang berada di atas matahari”, bukan dengan hal-hal yang “di bawah matahari” yang sia-sia adanya.

Yana Valentina

Agustus 2015

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Bangka dan Belitung pada tanggal 25-28 Juni 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Memperdebatkan Yesus adalah Tuhan dan Yesus adalah Manusia ataupun Tritunggal Allah dengan orang yang belum menerima...

Selengkapnya...

Syalom, terdapat kesalahan penulisan ayat pd bagian penutup artikel yg berjudul "Jealous Love" di atas....

Selengkapnya...

Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲