Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Mimpi dan Kehendak Allah

Ga usah muluk-muluk deh punya mimpi. Realistis aja. Pokoknya yang penting dapat kerja, punya penghasilan, dan bisa hidup.” Ucapan yang pasti pernah didengar baik dari sahabat ataupun dari kerabat. Biasanya itu adalah tanggapan yang diberikan setelah menjawab pertanyaan, “Apa cita-citamu?” dan jawaban yang diberikan menunjukkan semacam idealisme. Entah kenapa sering dianggap terlalu tinggi atau mungkin terlalu sorgawi.

Mungkin satu hal yang sudah jarang dipikirkan, atau diharapkan oleh seseorang untuk dicapai, adalah sebuah mimpi. Bisa jadi karena diri yang tidak tergugah untuk melakukan sesuatu yang memerlukan perjuangan. Bisa juga akibat kurangnya dukungan, terutama pada zaman ini, kepada hal-hal yang dianggap idealis, yang sering disamakan dengan tidak realistis.

Pendiri republik ini, Soekarno pernah berkata, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Suatu kutipan yang mungkin hampir tidak pernah didengar oleh generasi era reformasi. Cobalah mengambil waktu sejenak dan memikirkan apa yang dimaksud oleh sang proklamator. Semestinya ucapan Soekarno tersebut mendorong kita untuk mengejar yang terbaik yang bisa dilakukan.

“Tapi, sebagai orang Kristen, kita harus mencari kehendak Allah dan mengikuti-Nya.” Itu betul. Tetapi apakah lalu berarti tidak perlu bermimpi? Memiliki mimpi bukan berarti hanya duduk-duduk menunggu langit terbuka dan cahaya dari sorga turun menyingkapkan rencana- Nya kepada kita. Memiliki mimpi artinya mengejar apa yang menjadi panggilan dalam hidup. Sebuah mimpi yang digumulkan dalam Kristus, akan ditransformasi sesuai dengan rencana- Nya. Abraham “hanya” bermimpi untuk mengikuti perintah Tuhan keluar dari tanah Ur dan memiliki anak, tetapi Tuhan memakainya lebih dari itu dengan menjadikan keturunannya menjadi berkat besar bagi bangsa-bangsa. Musa “hanya” menginginkan saudaranya tidak ditindas, tetapi Tuhan memakainya untuk membawa bangsa Israel keluar menuju ke Tanah Perjanjian. Dan banyak lagi contoh lainnya di Alkitab, dan tentu saja mereka melalui proses pergumulan yang sangat panjang.

Dalam Filipi 3:12, Paulus pun berusaha mengejar tujuan yang telah Tuhan berikan kepadanya. Ia mengarah kepada apa yang ada di depan (ay. 13), dan berlari kepada tujuan akhir (ay. 14). Tentu saja kita dapat melihat Paulus telah mengetahui apa yang menjadi visi hidupnya, mimpi hidupnya menurut istilah yang lebih umum. Inilah yang seharusnya menjadi pengharapan dalam mengejar impian. Bukankah ini yang membedakan kekristenan dengan ucapan Soekarno (jika Anda telah memikirkannya)? Di dalam Kristus, ketika impian kita semakin selaras dengan visi yang disingkapkan-Nya, kita memiliki pengharapan bahwa Tuhan akan memberi kekuatan dan menyempurnakan apa yang kita kerjakan.

Sebagai seorang Kristen, sudah seharusnya kita memiliki sebuah mimpi, sebuah visi. Jadi apa yang menjadi mimpimu? Selaraskah itu dengan panggilan-Nya?

Haryono Tafianoto

Desember 2015

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan terhadap Calvin Institute of Technology (CIT) yang sedang dalam tahap Penerimaan Mahasiswa Baru untuk Tahun Ajaran 2019/2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Artikel kotbah di atas isinya singkat padat dan jelas. Tuhan berkati penulisnya. Ijinkan saya kiranya dapt...

Selengkapnya...

Terimakasih,sangat terberkati artikel ini Tuhan Yesus Memberkati

Selengkapnya...

Sdr.Martua S; Sesuai dgn tertulis diatas:Inilah Anak yg kukasihi,kepadaNyalah Aku berkenan.Jelas Bapa dan Anak adalah...

Selengkapnya...

Saya pernah dulu dengar pak Tong khotbah Maz 23. Dan saya hari ini Feb 7,2019 mencoba kontemplasi Mazmur 23:4....

Selengkapnya...

Bagus

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲