Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Minum Susu Campur Air, Yuk!

Huek... gak enak,” kata seorang anak setelah meminum susu di gelasnya. O, ternyata susunya tercampur air, jadi rasanya tidak enak. Susu cair jika tercampur air rasanya menjadi tidak enak. Bagaimana menuangkan susu ke dalam gelas yang penuh air? Jika dipaksakan pasti akan tumpah terbuang, walaupun ada susu yang bertukar dengan air, rasanya tidak enak. Jika dikeluarkan setengah gelas lalu dimasukkan susu sampai penuh, rasanya pun tetap tidak enak. Semua air harus dikeluarkan, lalu diisi susu, barulah susu itu nikmat untuk diminum.

Begitu juga dengan hati manusia. Hati manusia penuh dengan dosa. Bagaimana ‘susu’ firman Tuhan masuk ke dalamnya jika dosa yang ada di dalam hatinya belum dibuang? Kita tidak bisa berdoa minta pertolongan Tuhan jika hati kita penuh dengan kekuatiran, ketakutan, kebencian, kepahitan, dan sebagainya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mau menyimpan setengah gelas air kepahitan, kekuatiran, dan sebagainya, dan menerima setengah gelas firman Tuhan. Kita harus mengosongkan air keakuan dalam hati kita dan dengan rendah hati menunggu Tuhan mencurahkan susu keilahian- Nya ke dalam hati kita, sehingga kita melakukan kehendak-Nya dengan perasaan bermakna, bukan demi memuaskan nafsu kita dengan sia-sia.

Tuhan Yesus sudah menang atas dosa sehingga kutukan dosa yang menguasai kita terlepas. Jika kita menerima Yesus Kristus masuk ke dalam hati kita, maka saat itu juga kita dilepaskan dari ikatan dosa. Oleh sebab itu, Rasul Paulus dalam suratnya kepada gereja di Korintus, Efesus, Filipi, selalu memulai dengan sapaan ‘saints’. Semua orang yang sudah menerima Kristus di dalam hatinya adalah orang kudus. Bukan karena apa yang diperbuatnya yang mengakibatkan ia disebut sebagai orang kudus, bukan apa yang dikerjakannya yang menghasilkan kekudusan bagi dirinya, tetapi apa yang diperbuat oleh Tuhan Yesus di kayu salib dan apa yang dikerjakan oleh Allah Bapa yang membangkitkan Tuhan Yesus. Dalam kemuliaan menyatakan kemenangan terbesar yang pernah ada. Kemenangan Prince of Peace atas prince of the world, kemenangan dunia spiritual, kemenangan abadi.

Tetapi mengapa di dalam surat bagi orang-orang kudus, masih ada teguran, nasihat, penghiburan, dan doa-doa bagi mereka? Karena hidup yang lama, yang penuh dengan dosa, keakuan, kebijaksanaan dunia perlu disingkapkan, dibongkar, dinyatakan sebagai sampah (seperti pernyataan Rasul Paulus), dan dibuang. Hidup yang baru (adanya kelahiran baru) harus diisi dengan semakin eratnya relasi dan pengenalan akan Allah yang benar. Setiap dosa sampai yang terkecil harus disingkapkan dan dipertobatkan, sampai air keakuan habis dibuang sebagai sampah dan susu kemuliaan Tuhan memenuhi gelas hati kita sehingga kita menjadi mempelai wanita yang memperkenan Sang Mempelai Pria itu. Alangkah luar biasanya seorang manusia berdosa dapat memperkenan Tuhan yang Maha Kudus. Bukan apa yang bisa dan mampu kita kerjakan, tetapi apa yang mau kita buang. Kiranya hati kita menjadi bejana tanah liat yang penuh berisi kemuliaan harta sorgawi bukan kefanaan harta duniawi.

Yana Valentina

Januari 2013

2 tanggapan.

1. Edy Anto dari Tebing Tinggi berkata pada 4 January 2013:

illustrasi diatas saya kurang tepat krn ada susu yg dicampur dgn air mis susu kental.

2. Djung Lie Djin dari Tangerang berkata pada 15 March 2013:

Memang susu murni (bukan susu kental) bilamana tercampur/dicampur/masih ada campuran dengan air terasa tidak enak.

Respon atas curahan susu ilahi dari Tuhan Yesus & totalitas kemurnian makna yang terkandung di dalamnya yang dapat kita nikmati, semata-mata hanya suatu proses dari berkat anugerah ALLAH.

Hati kita terlepas dari ikatan dosa & kutukan dosa yang menguasai kita saat kita menerima Yesus Kristus yang telah menang atas dosa (red). Saat inilah proses pemurnian bejana tempat penampungan susu dimulai...& sifatnya progresif & atau bertahap, juga holistik & atau berkesinambungan. Tidak disebutkan bahwa bejana ini bisa langsung dikuras/terkuras, sehingga semua cairan atau air lama-kotor yang masih mengendap di bejana tsb. akan dapat terangkat/terbuang secara instant.

Proses pemurnian bejana adalah proses yang membutuhkan intensitas ketekunan yang tinggi, keseriusan merelakan diri diproses yang sungguh-sungguh; semakin murni semakin sulit diantisipasi secara normal menurut ukuran standar manusia.....itulah sebabnya manusia diberi "TOOL" sebagai alat stimulan demi tetap dapat melangsungkan/meneruskan proses tsb. yakni FIRMAN ALLAH yang butuh dihayati sepanjang waktu hidupnya.

Salam dalam Kristus, DLD, 15 Maret 2013

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲