Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Mulia – Hina - Mulia

“Maaf ya, rumahku berantakan” atau “Wah, jangan ke rumahku deh, seperti kapal pecah”. Mungkin itu kalimat yang keluar dari mulut kita ketika ada orang hendak berkunjung. Mungkin juga kita tidak mengucapkan kalimat itu, tetapi dengan segera kita membersihkan dan merapikan semuanya sebelum tamu datang. Atau mungkin tidak ada masalah sama sekali bagi kita, karena rumah kita senantiasa bersih dan rapi. Bagaimanakah sikap yang seharusnya? Tetapi yang pasti, kita tidak ingin memperlihatkan sisi yang kotor kepada tamu kita.

Menampilkan sisi yang baik dan indah dari diri kita dan menutupi sisi yang kurang baik dan kurang indah dari diri kita, adalah sesuatu yang lumrah. Kita meletakkan makanan sedap dipandang di atas meja, dan bukan tempat sampah. Kita memakai make up untuk membuat mata terlihat lebih menawan, bukan semakin seram. Kita memakai baju yang necis ke tempat kerja, bukan asal saja seperti ke pasar. Kita bahkan menutupi kelemahan kita dengan menggosip kelemahan orang lain. Yang jelek dan kotor, dihina dan disembunyikan, sedangkan yang indah dan bersih, dimuliakan dan dipamerkan.

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia, tetapi juga menjadi ciptaan yang paling hina. Tidak ada ciptaan yang sedemikian mirip Pencipta, karena hanya manusia yang adalah gambar dan rupa Allah. Tetapi juga tidak ada ciptaan yang menutupi ketelanjangan dirinya seperti manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia berdosa dirundung ketidakberdayaan akan kuasa dosa, seperti kejahatan, sakit penyakit, bahkan kematian. Tuhan Yesus menangis ketika mengetahui kematian Lazarus, Dia pun berbelaskasihan kepada banyak orang sakit. Tetapi Dia tidak menghapuskan segala air mata, kejahatan, kesakitan, bahkan kematian di dunia ini, ketika Dia melawat kita.

Dia menyelesaikan urusan Bapa-Nya di dunia dengan menjadi Juruselamat dan Anak Domba yang tidak bercacat cela, Sang Korban Paskah. Dengan demikian, urusan kita dengan Allah Bapa didamaikan. Dibuktikan dengan terbelahnya tirai berat yang membatasi dan memisahkan Ruang Mahasuci di Bait Suci. Manusia yang semula diciptakan mulia, lalu di dalam kebebasannya menjadi hina, di dalam anugerah telah dijadikan mulia kembali oleh peristiwa kayu salib Tuhan Yesus.

Tetapi permasalahannya, adakah kita setia dan menjaga kekudusan hidup selama kita menunggu waktunya tiba? Marilah kita menyelidiki hati kita sendiri di hadapan Tuhan setiap hari, bertobat, dan belajar mengasihi orang lain, sehingga mereka melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

Yana Valentina

Agustus 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲