Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Natal: Kesejatian Allah dan Umat-Nya

Apakah orang Kristen adalah orang yang hidup di dalam delusi, memercayai sesuatu (Allah) yang sebenarnya tidak ada, dan mempertahankan kepercayaannya dengan penipuan diri yang konstan? Jika Allah ada, mengapa kita tidak pernah melihat-Nya? Namun, meskipun tudingan itu mungkin berlaku untuk kepercayaan lain, ia tidak dapat bertahan kepada iman Kristen. Salah satu signifikansi hari Natal justru adalah bahwa Allah yang sejati hadir dan menampakkan diri-Nya kepada manusia.

Hari kelahiran Tuhan Yesus adalah hari Tuhan membuktikan bahwa Dia Imanuel, ada di tengah-tengah manusia. Inkarnasi membedakan Allah Israel dari ilah-ilah yang lain. Allah yang sejati adalah Allah yang nyata, yang membuktikan diri-Nya hadir di tengah-tengah sejarah. Ia tidak hadir di dalam rumor, atau pembicaraan filsafat yang kosong, tetapi di dalam darah dan daging, membuktikan cinta-Nya kepada manusia dengan lahir di palungan dan mati di atas kayu salib.

Jika Allah yang sejati adalah Allah yang berinkarnasi, apa artinya menjadi orang Kristen yang sejati? Inilah yang menjadi salah satu tema utama Surat Yakobus. Bukankah Yakobus berbicara tentang “iman tanpa perbuatan adalah mati” dan harus menjadi “pelaku firman”? Pengikut Kristus yang sejati pada akhirnya tidak dibuktikan dengan lulus ujian doktrin, meskipun semua pelajaran doktrin itu penting bagi pendewasaan iman. Inkarnasi iman ke dalam perbuatan itu yang dianggap Yakobus menentukan jati diri kita.

Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. (Yak. 1:26-27)

Dengan demikian, delusi yang harus diwaspadai orang Kristen bukanlah kepercayaan kepada Allah, tetapi kepercayaan bahwa dirinya adalah orang Kristen, tetapi sebenarnya dia sedang menipu diri sendiri dengan ibadah yang sia-sia. Bisa saja orang tersebut tampak mencintai firman Tuhan, suka hadir di dalam kelas Alkitab. Namun, jika tidak lebih daripada itu, dia hanyalah sebatas pendengar dan pendiskusi firman, bukan pelaku firman.

Di dalam hal ini, cerita “Gadis Penjual Korek Api” oleh Hans Christian Andersen dapat dilihat sebagai sebuah kritik terhadap masyarakat Kristen Eropa pada abad kesembilan belas. Bagaimana bisa mereka, sehabis merayakan Natal, mengabaikan gadis miskin yang mati di pinggir jalan dan rumah mereka karena kedinginan dan kelaparan? Bukankah itu adalah sebuah ironi jika kita merayakan cinta yang terinkarnasi di dalam hari Natal, tetapi hati kita sedingin musim salju, dan tidak ada wujud kehangatan cinta kasih kita sebagai komunitas Kristen kepada kepada kaum papa?

Kiranya pada peringatan dan perayaan Natal kali ini, kita sekali lagi berkomitmen untuk mewujudkan cinta kasih Tuhan kepada manusia mulai dari hal-hal sederhana. Ketika kita memancarkan kehangatan ilahi, itu berarti kita bersumber dari api yang sejati.

Erwan

Desember 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲