Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Painkiller and No Sense of Pain

“Aduh bahagianya! Ternyata ada painkiller di kotak obatku.” Rasanya seperti ada juruselamat yang sanggup melepaskanku dari sakit gigi yang tak tertahankan ini. Rasa bahagia ini kuceritakan kepada temanku, lalu dia menceritakan suatu hal yang membuatku kaget. Ternyata dia alergi terhadap painkiller. Ada juga seorang lain yang mengatakan bahwa ia mengidap autoimun yang membuatnya lemas ketika hal itu terjadi. Autoimun adalah kondisi tubuh di mana sel darah putih tidak dapat membedakan antara sel tubuh sendiri dengan sel asing. Oleh karena itu, sel darah putih yang seharusnya menyerang sel asing, ternyata menyerang sel tubuhnya sendiri. Ada penyakit lain yaitu penyakit yang tidak merasakan sakit. Alkitab menceritakan tentang penderita kusta yang kulitnya penuh dengan sisik-sisik putih licin, mengkilap dan jika ditekan daging di sekitarnya tidak terasa sakit. Penyakit ini membawa maut, menular, dan tidak ada obatnya sehingga sangat ditakuti orang. Orang kusta dikucilkan dari orang lain, mereka harus tinggal di luar kota, dan jika berpapasan dengan orang lain, mereka harus berteriak, “Najis, najis” supaya orang lain menghindari mereka.

Alkitab menceritakan dua kisah tentang Yesus yang menyembuhkan orang kusta. Penyakit yang tidak tersembuhkan ternyata dapat disembuhkan oleh Yesus. Markus 1:40-45 menceritakan seorang kusta yang memohon belas kasihan Yesus untuk menyembuhkannya. Yesus menyembuhkannya dan menyuruhnya untuk tidak cerita kepada siapa pun. Tetapi orang tersebut sangat bersukacita sampai-sampai ia tidak dapat untuk tidak bercerita kepada orang lain. Lalu di Lukas 17:11-19, sepuluh orang kusta dari jauh teriak kepada Yesus minta belas kasihan. Yesus menyuruh mereka pergi menunjukkan diri kepada imam, dan ternyata di tengah jalan mereka sembuh. Bisa dibayangkan betapa besar sukacita mereka, tetapi anehnya hanya satu orang yang kembali dan berterima kasih kepada Yesus.

Bahagianya ketika rasa sakit bisa tidak dirasakan karena adanya painkiller. Tetapi itu adalah bahagia yang semu, karena sakit itu masih ada, hanya kepekaan untuk merasakan sakit yang menjadi tidak ada. Tidak bisa merasakan sakit ketika tubuh sakit, seperti kusta, justru adalah penyakit yang jauh lebih mengerikan.

Bagaimana dengan jiwa manusia yang tidak merasakan sakit, susah ketika dosa ada di dalam hidupnya? Justru itulah yang diinginkan iblis. Itulah rencana iblis bagi kita. Tetapi rencana Tuhan adalah menyembuhkan yang tidak tersembuhkan. Memulihkan kepekaan kita akan dosa, memulihkan kita dari sakit rohani, dan menghindarkan kita dari kematian rohani. Apakah kita seperti satu orang (yang dahulu kusta kini sembuh) yang kembali dan bersujud bersyukur kepada Yesus? Apakah kita seperti orang (yang dahulu kusta kini sembuh) yang kegembiraannya begitu meluap sampai harus menceritakannya kepada orang lain?

Yana Valentina

Oktober 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲