Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Penderitaan Menghancurkan Makna?

Suasana Natal sekali lagi sedang ada di sekeliling kita. Saat-saat Natal adalah saat-saat yang berbahagia bagi banyak keluarga dan komunitas karena bertepatan dengan musim liburan sehingga ada banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Gambaran Natal adalah berkumpul, bernyanyi, makan, dan semuanya dibuat senyaman mungkin. Tempat yang nyaman, makanan dan minuman yang enak, canda dan tawa, lagu yang damai, itulah perayaan Natal bagi banyak orang. Semua ini baik-baik saja untuk dilakukan di saat Natal. Hanya saja, akan berbahaya jika kita tidak dapat membedakan antara fenomena dengan esensi Natal.

Hari Natal adalah saat kita mengingat inkarnasi Tuhan Yesus ke dalam dunia untuk menderita dan mati bagi umat berdosa. Kisah Natal dalam Alkitab mewahyukan semacam makna yang tidak bisa dicapai dengan kesenangan, kenikmatan, kekayaan, dan kekuasaan. Semua yang disebutkan tadi adalah makna hidup bagi banyak orang di dunia. Dan ini justru berseberangan dengan makna Natal. Makna Natal hanya bisa didapatkan dengan penderitaan karena ketaatan kepada Bapa.

Orang yang mengikuti keinginan duniawi mengejar hal-hal fana karena bagi mereka itulah makna hidup. Bagi mereka, Kristus adalah kebodohan. Timothy Keller belum lama ini menulis di sebuah media sosial, “Kebudayaan sekuler mengatakan makna hidup adalah kebahagiaan. Jika itu adalah makna hidup, penderitaan menghancurkan makna kamu.” Jika kebahagiaan disamakan dengan kesenangan, dan kesenangan sama dengan makna hidup, apa yang dilakukan Kristus di hari inkarnasi dan seluruh hidup Kristus adalah hal yang tidak bermakna. Jika kita teruskan, kematian Kristus di atas kayu salib adalah kebodohan terbesar dan peristiwa yang paling tidak bermakna.

Kumpul-kumpul dan menikmati waktu bersama tentu baik dilakukan pada momen Natal. Apalagi jika selama setahun tidak ada kesempatan berkumpul karena tidak terdapat hari libur yang cukup panjang. Hanya saja, jika kita mengira Natal tak lebih dari kenyamanan dan kenikmatan, kita sudah memahami makna yang berseberangan dengan Natal. Sebaliknya, saat-saat perayaan dan peringatan Natal adalah saat kita duduk bersama untuk disegarkan, dikuatkan, dan setelah itu, kita semua berpisah kembali meninggalkan zona nyaman kita untuk menjalankan hidup yang penuh dengan makna Natal, yaitu menjalankan hidup yang taat kepada kehendak Bapa, meskipun harus menderita.

Erwan

Desember 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲