Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Perintah Kedua Belum Kuno

Di dalam perintah kedua, Allah melarang umat-Nya untuk membuat patung apa pun yang menyerupai makhluk di udara, di bumi, dan di dalam air untuk disembah. Mungkin bagi orang Kristen zaman sekarang perintah ini terdengar tidak relevan lagi, sehingga mereka tidak lagi merasa waswas dan menjaga dirinya supaya tidak melanggar perintah ini. Mana mungkin orang Kristen yang hidup di zaman ini masih mau membuat berhala untuk disembah? Pastilah perintah ini lebih relevan bagi orang Israel yang hidup di zaman Timur Tengah Kuno, pada saat godaan untuk menyembah berhala begitu besar karena itulah cara yang paling populer untuk menyembah yang ilahi pada saat itu.

Memang benar, sejak orang Israel dibuang oleh Tuhan karena pembuatan dan penyembahan patung berhala, mereka bertobat dan kapok menyembah-nyembah berhala lagi. Terlebih lagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus tidak akan kembali pada kebodohan orang Israel dalam Perjanjian Lama. Pertanyaannya adalah apakah perintah kedua masih relevan untuk kita?

Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan mudah. Firman Tuhan dapat bersifat preventif, membuat pagar supaya kita tidak jatuh dalam dosa. Meskipun sekarang tidak ada tren bagi orang Kristen untuk membuat patung dan disembah, perintah kedua tetap relevan, yaitu untuk menjaga kita supaya tidak berdosa.

Namun, saya rasa ada satu ajaran yang terkandung secara implisit dalam perintah kedua ini, yaitu pola kita menyembah Tuhan. Allah melarang kita membuat patung untuk disembah, baik itu patung dewa lain maupun patung-Nya,[1] karena Dia ingin kita menyembah-Nya dengan cara-Nya sendiri, bukan dengan cara manusia. Manusia suka yang kelihatan karena manusia mempunyai tubuh materi. Dalam hal menjalin relasi pun kita lebih memilih teman kita hadir dan terlihat, pasangan kita hadir dan terlihat, dan … Tuhan kita hadir dan terlihat. Yang kita inginkan adalah the visible presence of God.

Orang Israel dulu ingin mempunyai Tuhan yang hadir dan terlihat. Mereka ingin seperti bangsa tetangga mereka yang allahnya kasatmata dan mereka dapat menyembah-nyembah di hadapan kehadirannya. Inilah yang ditentang oleh Tuhan. Tuhan tidak ingin Diri-Nya disembah dengan cara demikian karena Dia adalah Roh, dan Roh tidak dapat dilihat.

Terbiasakah kita menyembah Allah, Roh yang tak kasatmata? Ketika tidak ada orang yang mengawasi kita, apakah kita akan melakukan kehendak-Nya? Jika ada masa dan tempat dalam hidup kita di mana kita merasa ‘aman’ dari kehadiran Tuhan sehingga kita dapat hidup sesuai dengan kemauan kita yang berdosa, maka hal ini menyatakan bahwa sebenarnya kita belum terbiasa dengan pola invisible presence-Nya Tuhan. Kita betul-betul memerlukan perintah kedua!

[1]Seperti yang dilakukan Harun. Harun membuat patung lembu emas dan menyebutnya Yahweh (Kel. 32).

Erwan

Maret 2012

5 tanggapan.

1. Cin Me dari Taipei berkata pada 21 March 2012:

Bagaimana dengan orang Katolik yang banyak patung? Mereka oke-oke saja. Apakah mereka menyembah patung? Saya rasa tidak. Ini cuma lambang saja. Mohon tanggapannya. :)

2. Erwan dari Jakarta berkata pada 23 March 2012:

Hi Cin Me,

Tuhan melarang umat-Nya untuk membuat dan menyembah patung. Tentu membuat patung dan dipajang saja tanpa disembah tidak pernah dilarang oleh Tuhan.

Apakah orang Katolik membuat patung untuk disembah? Hal ini memerlukan observasi yang lebih mendalam daripada level permukaan saja. Misalnya, masih terlalu cepat jika kita menyimpulkan bahwa orang yang bersujud dan berdoa di depan sebuah patung sudah pasti sedang menyembah dan berdoa kepada patung itu. Perlu ada dialog yang lebih jauh supaya tidak salah menilai dan mengkritik mereka.

Namun, dalam dialog itu, saya akan bertanya kepada orang Katolik:

Apakah orang Katolik dapat menyembah Tuhan dengan kekhusyukan yang sama di depan patung dan tidak di depan patung?

Apakah benar orang Katolik dapat merasakan kehadiran Tuhan yang tidak kelihatan sama intensnya ketika mereka tidak berada di depan patung?

Jika ya, mengapa memerlukan patung sebagai representasi wujud Tuhan?

Sekian tanggapan singkat dari saya.

3. theodorus dari jakarta berkata pada 24 March 2012:

Perintah kedua dalam 10 hukum taurat masih tetap berlaku sampai kedatangan Tuhan Yesus yg kedua kalinya. Yang menjadi bahaya laten zaman ini bukan lagi dalam bentuk patung2/hal2 yg terlihat dengan mata jasmani, melainkan tanpa kita sadari adalah tuhan hasil buatan imajinasi/pikiran manusia sendiri yaitu KESOMBONGAN dan KETAMAKAN. Dimana diri/manusia ingin menjadi yang paling kuat dan berkuasa secara mutlak. Sangat disayangkan manusia yg dicipta terus mencoba untuk melawan Sang Pencipta yg notabene Pencipta alam semesta dan manusia itu sendiri. Buat Cin Me menurut saya tidak ada yang salah dengan patung2 itu sendiri bagi umat Katolik atau ornamen2 yg ada pada bangunan gereja/katedral, sepanjang Tidak Menjadikan/Mengimani patung2 tsb mempunyai kekuatan supranatural/pengantara utk kita bisa berkomunikasi/berbakti kepada Tuhan Yesus.Karena patung2,ornamen2,lukisan2,musik, dll yg adalah hasil karya cipta manusia/kebudayaan, itupun adalah Anugerah dari Tuhan, dimana manusia dianugerahi daya kreasi/cipta yang ditujukan agar manusia kembali hanya memuliakan dan menikmati Dia selama-lamanya. Soli Deo Gloria

4. Thomas Trika dari Jakarta berkata pada 28 March 2012:

Bagaimana umat Katolik menggunakan image/gambaran/patung:

1. Sebagai salah satu alat bantu umat untuk lebih menghayati kedekatannya dengan Yesus Kristus.

Penggunaan patung, lukisan, elemen artistik lainnya bagi umat Katolik adalah untuk membantu mengingat seseorang atau sesuatu yang digambarkannya. Sama seperti seseorang mengingat ibunya dengan melihat fotonya, demikian juga umat Katolik mengingat Yesus, Maria dan orang kudus lainnya dengan melihat patung/ gambar mereka. (Lagipula, Yesus sendiri sebagai Sang Putera Allah telah menjadi manusia, sehingga Yesus sendiri telah menjadi ‘gambaran Allah yang nyata.’ (lihat Kol 1:15) Karena itu, dengan kedatangan Yesus ke dunia, Allah yang tak kelihatan menjadi kelihatan, Allah yang dalam Perjanjian Lama dilarang untuk digambarkan, maka di Perjanjian Baru malah dinyatakan sebagai ‘gambar hidup’ di dalam diri Yesus. Jadi Yesus memperbaharui ‘tata gambar’ tentang Allah, sebab Ia adalah gambaran Allah sendiri.[4]) Renungkanlah ini: Jika di rumah kita memasang gambar/ foto keluarga kita, mengapakah kita tidak boleh memasang gambar/foto Tuhan yang kita sayangi? Gambar/ patung Tuhan Yesus dipasang tidak untuk disembah, tetapi hanya untuk mengingatkan kita tentang betapa istimewanya Ia di dalam hidup kita.

2. Sebagai sarana pengajaran

Umat Katolik juga menggunakan image/gambar/patung sebagai sarana pengajaran, seperti yang diterapkan juga oleh umat Kristen lain terutama dalam mengajar anak-anak di sekolah minggu, seperti: menerangkan siapa Tuhan Yesus, mukjijat yang dibuatNya, dll dengan gambar-gambar. (Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang pada saat itu tidak dapat membaca! Penggunaan gambar/ patung untuk maksud pengajaran ini tentu bukan berhala, karena mereka akhirnya malah menuntun orang beriman kepada Tuhan. Hal serupa terjadi waktu kita pertama kali mengajar anak-anak kecil mengenali benda-benda tertentu. Kita membuat/ menunjukkan pada mereka gambar-gambar sederhana, seperti apel, ikan, rumah, dst. Tentu saja hal ini tidak bertentangan dengan perintah Tuhan. Jadi membuat gambar yang menyerupai sesuatu di sekitar kita bukan merupakan dosa asal kita tidak menyembah gambar- gambar itu).

3. Digunakan untuk peristiwa-peristiwa tertentu

Umat Katolik juga menggunakan hal tersebut dalam kesempatan tertentu, sama seperti umat Kristen pada umumnya mempunyai patung-patung kandang natal, gambar peristiwa natal, atau mengirim kartu natal bergambar pada hari natal. (Jika membuat segala gambar/ patung yang menyerupai segala sesuatu dianggap dosa, apakah berarti kebiasaan mengirimkan kartu Natal dan menghias pohon Natal dengan kandang Natal, adalah dosa? Jika ya berarti bahkan menonton TV pun adalah dosa, melihat segala buku bergambar adalah dosa, menggambar/ melukis adalah dosa, karena semua objeknya adalah segala sesuatu yang ‘menyerupai apapun yang di langit dan di bumi’).

Kesimpulan

Jadi, Tuhan memang melarang pemujaan terhadap image/gambaran/patung, tetapi Ia tidak melarang pembuatan image/ gambaran tersebut secara umum. Seandainya Ia melarangnya, maka film, televisi, video, foto, lukisan, kartu natal bergambar, uang, ataupun gambar-gambar lainya akan juga dilarang, karena semua itu mengandung unsur image/ gambaran yang menyerupai sesuatu di bumi atau di atas bumi….(lihat Kel 20:4) Karena itu, Gereja Katolik melihat ayat ke-4 ini sebagai kelanjutan dari ayat ke-3, yaitu, agar jangan kita membuat gambar/ patung untuk disembah sebagai allah lain di hadapan Allah.

Dengan demikian sebenarnya menjadi sangat jelas bahwa baik umat Katolik maupun umat Kristen lainnya hanya memuja Tuhan yang satu dan sama, dan sama-sama menentang penyembahan patung berhala.

5. Djan Kiong dari jakarta berkata pada 29 March 2012:

Sedikit tanggapan dari saya, dalam hal berdoa didepan patung dan dalam bentuk apapun, ataupun dibawah pohon, batu besar,bahkan dalam lautan besar, perlu hati-hati biar tidak jadi batu sandungan buat org yg tidak mengerti iman kristeni, jika kita berdoa dengan jelas dalam nama Tuhan Yesus , murni dlam motivasi selaras dengan kedaulatan Tuhan, tidak perlu kita curigai toh yg tahu pribadinya dan Tuhan, yg menjadi idol sekarang adalah patung dalam hatimu, menvisualisasikan keinginanmu dgn hasrat yg mengidolakan satu bentuk kesuksesan , itupun sudah menjadi patung berhala dalam hidupmu, jadi apakah kita tidak boleh berambisi? boleh saja , ambisi yg besar dan murni dalam kebenaran justru dituntut untuk setiap anak Tuhan yg dilakukan Ayub dalam pergumul harta kekayaan (iman), Yusuf di mesir, Musa dimasa tuanya, dan Daniel di Persia , terimakasih

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲