Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Pintu Masuk Kemuliaan

Kemarin saya datang ke Rumah Duka (RD) untuk melayat. Di RD sebenarnya bukanlah pada tempatnya kita tertawa lepas. Kenapa kita sedih ketika kita datang ke RD? Kenapa manusia berduka ketika seseorang meninggal? Sebaliknya, kenapa kita bersukacita ketika melihat kelahiran bayi? Bukankah ini sudah dari sononya?

Banyak dari kita merasa hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Emosi dan perasaan kita akan otomatis bereaksi seperti demikian. Tetapi kenapa demikian? Jawabannya adalah karena kita diciptakan untuk kehidupan, seharusnya kematian bukanlah sesuatu yang normal. Walaupun kematian sekarang adalah suatu fakta yang tidak terbantahkan. Kita melihat kematian terjadi setiap harinya, kita melihat RD selalu penuh setiap harinya. Kita tahu jelas kematian adalah fakta yang tidak terhindarkan. Fakta yang pasti terjadi, tetapi ketika terjadi pada orang yang terdekat atau yang kita kasihi, kita tetap merasakan sengatnya. Allah menciptakan manusia untuk kehidupan. kematian adalah akibat dosa, something not supposed to happen and when it happens, we still bear the pain. We are created for life. That's why we celebrate life, but we avoid death.

Bayang-bayang kematian seperti kotoran-kotoran yang tidak bisa dibuang keluar rumah, hanya bisa disembunyikan di bawah karpet. Kita menghindari percakapan tentang kematian, seakan-akan itu adalah hal yang tabu. Kita bisa tidak suka membahas tentang kematian. Kita bisa tidak suka diingatkan tentang fakta bahwa kita suatu saat akan mati. Kematian juga tidak seharusnya diingat-ingat terus. Bahkan kita melihat ada suatu tren orang yang meninggal tidak lagi dikubur tetapi dikremasi, lalu abunya ditabur ke laut. "Lebih praktis, tidak perlu lahan kuburan, apalagi harga tanah sudah melambung tinggi, tidak perlu datang ke kuburan." Di balik semua pragmatisme pemikiran ini, ada suatu kesan kita tidak ingin kematian dikenang dan diingat-ingat. Kenapa? Kematian mengingatkan pada perpisahan yang menyakitkan dan menyedihkan.

Setiap orang ingin kehidupannya yang diingat, jasa-jasa dan pencapaian-pencapaiannya semasa hidupnya yang diabadikan. Patung-patung pahlawan selalu dipahat menampilkan sang pahlawan berdiri atau menunggang kuda dengan gagah, bukan ketika dia terbaring di ranjang menjelang kematiannya.

Ketika kita mendengar Tuhan Yesus di perjamuan terakhir berkata, Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Ia ingin kita mengingat kematian-Nya. Perjamuan kudus, roti dan anggur ditetapkan oleh Kristus sendiri menjadi perayaan akan kematian-Nya. Kematian Kristus, ketika Ia harus terpisah dari Sang Bapa bagi dosa-dosa kita, supaya kita bisa dipersatukan kembali dan diterima oleh Allah Bapa.

Kematian Kristus membuat kita bisa datang ke Rumah Duka dengan suatu harapan baru bahwa perpisahan ini hanyalah sementara. Akan datang suatu masa, di mana mereka yang sudah meninggalkan kita terlebih dahulu, akan menyambut kita bersama-sama dengan Kristus masuk ke dalam kemuliaan yang kekal. Kita yang di dalam Kristus akan memasuki kemuliaan ini justru melalui kematian. What a Joy!!

Heruarto Salim

November 2015

2 tanggapan.

1. Sonny Joshua Chandra dari Milton, ON, Canada berkata pada 7 November 2015:

Terima kasih buat renungannya, memang mengingat kematian bagi orang yang betul-betul percaya Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat akan memberikan sukacita yang luar biasa. Kematian bagi orang percaya hanyalah pintu awal kebahagiaan abadi. Tuhan memberkati.

sonnyeksposisi.wordpress.com

2. Johannes christian Nahumury dari Samarinda berkata pada 10 November 2015:

Mengapa seseorang takut akan kematian dirinya, apakah kita berbahagia ketika kita meninggalkan dunia ini untuk bertemu Sang Pencipta, berdoalah supaya setiap saat kita siap untuk dipanggil, berdoalah agar ketika kita dipanggil kita berada dalam posisi berdoa karena dengan demikianlah posisi kita pada saat kita di bangkitkan nanti. Berbahagialah orang yang mempersiapkan dirinya menghadap Sang Pencipta pada hari yang mulia itu. Berbahagialah kita karena Tuhan Yesus mengorbankan diriNya sebagai pendamai murka ALLAH menentang dosa dosa umatNYA. Jagalah kekudusan mu, karena dengan kekudusan kita dapat melihat ALLAH. Tak tahu kah kamu bahwa jiwa jiwa lebih takut dilahirkan ke dalam dunia yang fana ini di banding kesukacitaan jiwa jiwa meninggalkan dunia ini. Janganlah takut lagi , tapi persiapkanlah dirimu memandang hadirat TUHAN

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲