Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Raja di Atas Keledai

Pernahkah Anda marah ketika mendapat hukuman atas perbuatan Anda? Anda mengetahui adanya suatu peraturan dan Anda melanggarnya entah karena kelalaian atau kesengajaan yang bodoh, lalu yang berotoritas menjatuhkan hukuman kepada Anda dan Anda marah? Anda menjalani hukuman itu karena tidak ada jalan lain. Namun di dalam hati, Anda tidak rela dan sebaliknya tumbuh kebencian karena merasa hukuman itu tidak sepadan dengan pelanggaran yang Anda lakukan. Tetapi yang berotoritas tidak pernah meminta pendapat Anda bagaimana dia membuat peraturan. Selanjutnya Anda akan mengingat dan berhati-hati untuk tidak melakukan pelanggaran itu lagi. Anda akan taat terhadap peraturan tetapi dengan terpaksa bahkan mungkin dengan kebencian. Obedience which comes from fear of punishment. Akan tetapi, mungkin juga kita melakukan hal yang sama, dalam skala yang lebih kecil, misalnya sebagai bos di kantor, guru di kelas, orang tua di rumah, majikan di rumah, dan lain sebagainya.

Kitab Zakharia mengatakan, “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak- sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. … busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya … sampai ke ujung-ujung bumi” (Zak. 9:9-10). Itulah nubuat yang digenapi ketika Tuhan Yesus dielu-elukan di Yerusalem dan orang banyak berseru, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosanna di tempat yang mahatinggi” (Mat. 21:9).

Tuhan Yesus datang sebagai raja Israel. Bagaikan seorang raja yang begitu mencintai rakyatnya sampai ia rela mengorbankan dirinya sendiri agar rakyatnya beroleh keselamatan. Sudah pasti rakyatnya akan menaati sang raja dengan kecintaan. Kita, dahulu pelanggar-pelanggar hukum Allah, yang seharusnya mati tetapi telah beroleh keselamatan karena pengorbanan Tuhan Yesus. Ketika kita masih berdosa, Tuhan Yesus mati bagi kita. Dia yang tidak berdosa rela dijadikan dosa untuk menerima hukuman kita dan sebaliknya kita dijadikan benar oleh karena kesalehan- Nya. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8). Allah membuat Yesus yang tidak berdosa menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor. 5:21).

Marilah kita taat kepada Tuhan bukan karena takut hukuman melainkan karena kita mencintai- Nya. Let our obedience comes from love. Biarlah kita juga boleh meneladani pola yang sama ketika kita menjalankan otoritas kita terhadap orang lain.

Yana Valentina

November 2015

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur kita diizinkan untuk melihat pekerjaan Tuhan melalui Gerakan Reformed Injili selama tahun 2017. Bersyukur untuk jiwa-jiwa yang telah mendengarkan Injil melalui pelayanan mandat Injil.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Apakah hubungan Alkitab dengan iman dengan Alkitab?

Selengkapnya...

Jangan Kuatir, ini etis, tidak kasar, bukan ftnah atau kebencian. Mengenai meniru Allah membalas dengan kasih, saya...

Selengkapnya...

kami sangat bersyukur materi2 yang disajikan semoga bermanfaat bagi generasi pemuda gereja

Selengkapnya...

saya sangat bersyukur dengan materi ini dan ini merupakan hal yang penting untuk disampaikan dan diajarkan kepada...

Selengkapnya...

Shalom, Saya butuh penjelasan otentik soal Kristologi Yesus soal bagaimana dwi natur bisa bekerja bersamaan dalam...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲