Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Raja di Atas Keledai

Ketika Ia masih bayi, kelahiran-Nya sebagai raja ditakuti oleh Raja Herodes sampai-sampai ia membunuh semua bayi laki-laki berumur di bawah dua tahun untuk menghancurkan-Nya. Ketika Ia hendak memulai pelayanan-Nya, Allah Bapa mengkonfirmasi bahwa Ia adalah Anak-Nya (bandingkan dengan raja-raja dunia yang mengangkat diri sebagai son of god, divine). Kini Ia akan mengakhiri pelayanan-Nya di bumi. Ia masuk ke kota Yerusalem untuk memenuhi nubuat nabi Yesaya dan nabi Zakharia, “Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Tuhan Yesus disambut sebagai raja (Luk. 19:38), dalam kerajaan Daud (Mrk. 11:10), yang datang dalam nama Tuhan (Mat. 21:9).

Raja umumnya mempunyai utusan untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum kedatangannya di suatu tempat. Semua persiapan tersebut mencerminkan karakteristik sang raja dan kerajaannya. Raja umumnya datang dengan pedang, mengendarai kuda, beserta tentaranya dalam kemegahan. Semuanya untuk menunjukkan kekuasaan, kekayaan, dan kekuatan sang raja. Itulah kemuliaan raja dunia, kemuliaan yang dicari orang dunia.

Tuhan Yesus datang dengan menunggang seekor keledai betina (bukan banyak kuda) yang dipinjam (bukan milik sendiri) dengan alas pakaian murid-murid (bukan pelana), berjalan di atas pakaian dan ranting pohon (bukan alas/karpet), serta dielu-elukan oleh massa yang marginal (bukan golongan elit). Mengapa Tuhan Yesus datang dengan cara demikian? Apakah Ia terlalu miskin untuk memiliki kuda? Apakah Ia terlalu hina untuk disambut oleh golongan elit? Tidak. Bumi dan segala isinya adalah milik-Nya. Manusia adalah ciptaan-Nya. Apa yang hendak diperlihatkan kepada manusia tentang Kerajaan-Nya? Seperti apakah Kerajaan-Nya yang bukan dari dunia ini?

Apa yang dinilai tinggi oleh dunia adalah kekejian di mata Allah. Manusia meninggikan uang dan hormat. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan, keinginan akan kuasa membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Raja menebar ketakukan dan memaksa orang untuk takluk kepadanya, membuat peraturan untuk menyatakan kuasanya, untuk ditaati, diakui orang lain, mengutamakan kekayaan dan kemewahan materi. Akan tetapi sejarah membuktikan bahwa semuanya bersifat sementara. Satu raja bangkit, satu raja jatuh, raja lain bangkit dan raja lain jatuh. Tidak ada raja dunia yang tetap untuk selama-lamanya seperti yang diinginkan Raja Herodes. Hanya satu Raja yang tetap untuk selama-lamanya, yaitu King of kings, yang telah datang ke kota Yerusalem sebagai Anak Domba Allah dalam perayaan Paskah (yang sebenarnya). Raja yang rendah hati, yang mau mengakui orang lain bahkan melayani orang marginal. Raja yang datang dengan kesederhanaan, yang mengutamakan hal-hal spiritual yang tidak kelihatan, yang kekal (bukan materi yang kelihatan, sementara). Raja yang lemah lembut, mengasihi manusia yang paling berdosa sekalipun. Itulah Sang Raja dan Kerajaan-Nya. Apakah yang bernilai bagi kita? Uang dan hormat atau teladan Kristus? Apakah kita adalah warga negara Kerajaan Dunia atau warga negara Kerajaan Allah?

Yana Valentina

Maret 2013

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Bersyukur untuk Konvensi Internasional 500 Tahun Reformasi yang telah diadakan pada tanggal 14-20 November 2017 di Jakarta.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Sangat memberkati. Kondisi zaman ini membuktikan kemajuan pengetahuan theologia meningkat, keterampilan dalam...

Selengkapnya...

Praise God! I am always refreshed and strengthen by the devotions or article in the PILLAR bulletin. Thank you and...

Selengkapnya...

Pak Wong Ma'ruf.. saya tidak sedang menyampaikan bahwa anda telah membandingkan alquran dan alkitab. Saya hanya...

Selengkapnya...

Segara Kamu salah besar kalau saya membandingkan al Quran dengan alkitab.Saya tida pernah menyajikan ayat2 al...

Selengkapnya...

Seru ya membaca tanggapan, perdebatan ttg pengetahuan alkitab antara Pak Wong Ma ruf dan bpk Siringoringo ini....

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲