Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Remeh?

Buset susahnya sekarang mencari pembantu rumah tangga! Banyak yang mencari tetapi sedikit yang mau kerja.” “Iya, betul Jeng, tahu tidak sekarang hidup orang kota itu bergantung sama pembantu, bukan sebaliknya loh. Kita yang bergantung sama mereka.” Demikianlah secuplik percakapan antara dua ibu-ibu di pasar yang membahas tentang kebutuhan pembantu rumah tangga. Dapat disimpulkan dari percakapan tersebut, tuan-nyonya rumah sekarang semakin bergantung kepada pembantu, namun bukan demikian pada zaman dahulu kala.

Ada sebuah kisah tentang seorang panglima perang dan budak wanitanya. Sang Panglima mempunyai segalanya: jabatan, kekuasaan, dan harta, sedangkan budak wanita yang didapatinya dari hasil tawanan perang, tidak mempunyai apa pun: tidak ada kebebasan, tidak bersama keluarganya lagi, tidak ada status sosial apa pun. Secara kasat mata, Sang Panglima mungkin terlihat mempunyai segalanya, tetapi dia tidak mempunyai satu hal, satu hal yang dimiliki oleh budak wanita itu dan yang satu-satunya: iman kepada Allah yang Mahakuasa. Secara kasat mata, nasib budak wanita ini, yang bahkan di Alkitab tidak dicatat namanya, total bergantung mutlak kepada tuannya yang bernama Naaman. Hidup dan matinya di tangan Naaman.

Dikisahkan bahwa saat itu Naaman sakit kusta, suatu penyakit yang tidak tersembuhkan. Satu-satunya yang dapat menyembuhkannya adalah mujizat dari Allah. Di luar dugaan, budak wanita yang seharusnya mendendam kepadanya justru memberikan informasi dan nasihat yang paling Naaman butuhkan. Akhir kisah kita tahu, bahwa Naaman disembuhkan oleh nabi Elisa. Lebih dari kesembuhan, ia juga mendapatkan iman yang sejati.

Seakan-akan tuan memang berkuasa mutlak atas hambanya, tapi kita melihat dari kisah singkat Naaman, kesembuhan fisik bergantung dari kesaksian hamba wanita tersebut. Nasib hidup kekal Naaman justru bergantung dari satu kalimat yang diucapkan sang hamba. Tuhan senang memakai hal-hal remeh untuk menyatakan kemuliaan-Nya lebih besar. Ternyata Percakapan ibu-ibu di atas sesuai juga dengan konteks Naaman hampir 2.800 tahun lalu. Tuhan memakai siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk menyatakan kemuliaan-Nya, tidak peduli status sosial seseorang. Sanggupkah kita melihat karya Tuhan dalam diri kita dan tidak meremehkannya?

Heruarto Salim

Agustus 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi keamanan dan politik di Indonesia, kiranya Tuhan berbelaskasihan kepada bangsa kita ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
3.Huldreich Zwingli a) He turns, in September 1522, to a lyrical defense of the perpetual virginity of the mother...

Selengkapnya...

2. John Calvin a) Helvidius displayed excessive ignorance in concluding that Mary must have had many sons, because...

Selengkapnya...

Apa kata para Refomator tentang Keperawanan kekal Maria : 1. Marthin Luther : a) Christ, our Savior, was the...

Selengkapnya...

Saya rasa jika Yesus dari salib mungkin saja banyak orang akan percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Namun andaikata...

Selengkapnya...

Kata siapa drum tidak alkitabiah? Mazmur 150:5 (TB) Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲