Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Sabar

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. (Mzm. 103:8)

Baru-baru ini Tuhan menganugerahkan seorang bayi di tengah keluarga kami. Satu peristiwa bahagia yang mengubah kehidupan kami dengan drastis. Namun, belajar menjadi orang tua baginya tentunya tidak mudah, karena salah satu yang diuji adalah kesabaran. Ada kalanya ia menangis dan apa pun yang kami lakukan tak dapat menenangkannya, kecuali ia sendiri memutuskan untuk berhenti dan tidur setelah puas menangis. Di lain waktu, ia menolak minum susu sampai meronta-ronta, tetapi akhirnya minum setelah lelah menangis dan tertidur.

Ketika kesabaran diuji, respons yang tercetus adalah kesal dan marah, atau ekstrem yang satu lagi adalah bersikap cuek dan mengabaikannya. Jujur saja, kedua pikiran tersebut terlintas di pikiran saya ketika menghadapi si bayi mungil.

Saat yang sama, pengalaman ini mengingatkan saya pada satu kenyataan hidup bahwa sebagai anak-anak Allah, kita juga sering “menguji” kesabaran-Nya. Puji syukur, berbeda dari kita manusia yang berdosa, Ia “adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia.” Kita sering marah karena banyak hal tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, seperti bayi yang menangis karena tidak diperhatikan, tidak digendong, dan sebagainya. Bahkan ketika kebenaran disodorkan kepada kita, kita kerap menolak dan marah kepada Tuhan karena Ia tidak memberikan apa yang kita inginkan.

Namun Allah terus bersabar dengan segala tindakan kekanak-kanakan kita. Ia memberikan ruang kepada kita untuk bertobat dari kesalahan-kesalahan kita dan sabar menanti kita untuk bertumbuh dewasa dalam iman. Mengapa? Karena Ia telah berjanji mengasihi kita dalam Kristus, melalui Kristus, dan demi Kristus. Namun di sisi lain, kita juga tidak dapat bermain- main dengan kesabaran Tuhan jikalau kita sungguh adalah anak-anak-Nya.

Di penghujung tahun ini, mari kita merenungkan kembali betapa besar kesabaran Tuhan yang telah kita terima. Lalu apa respons kita terhadap kasih setia-Nya yang berlimpah? Kiranya kita menanggapi kesabaran Tuhan dengan belajar hidup menaati perintah-perintah-Nya.

Haryono Tafianoto

Desember 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Sumatra Utara yaitu di kota Kisaran, Rantauprapat, Pematangsiantar, dan Tarutung pada 7-10 Mei 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

Sangat memberkati. Mohon berbagi renungan harian nya. Terima kasih banyak Tuhan Yesus memberkati

Selengkapnya...

Menurut saya, Yang harus kita tanyakan dalam diri kita adalah apakah musik puji-pujian/lagu yg kita bawakan tersebut...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲