Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Saul dan Goliat

Semua tua-tua Israel datang kepada Samuel dan berkata, “... angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”(bdk. 1Sam. 8:4-5)
Samuel menyampaikannya kepada Tuhan dan Tuhan menjawab Samuel, “... Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.” (bdk. 1Sam. 8:7)

Di masa tua Samuel, bangsa Israel meminta seorang raja dan Tuhan mengabulkan permintaan mereka. Namun Tuhan memperingatkan mereka akan apa yang menjadi hak raja, bahwa raja akan mengambil apa yang menjadi milik bangsa Israel bahkan diri mereka sendiri akan menjadi budak dari raja tersebut. Tetapi bangsa Israel tetap ngotot, mereka berkata, “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kami pun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.”

Tuhan mengabulkan permintaan mereka dan memberikan mereka seorang yang paling elok dan yang dari bahu ke atas paling tinggi dari semua orang Israel, yaitu Saul. Bangsa Israel sangat senang, karena merasa ‘sama seperti bangsa lain’, karena raja mereka adalah yang ‘paling keren dan paling besar’ di antara orang Israel.

Tuhan menantang bangsa Israel dengan Goliat yang tingginya enam hasta sejengkal dan membuat Saul serta semua orang Israel sangat ketakutan. Ternyata Saul kurang besar, Goliat lebih besar. Tuhan kemudian mempermalukan bangsa Israel dengan mengirim seorang anak muda yang tugas sehari-harinya adalah menjaga kambing domba di padang gurun. Bahkan kakaknya menghina dia dengan mengatakan, “Mengapa engkau datang? Dan kepada siapakah kau tinggalkan kambing domba yang 23 ekor itu di padang gurun?” Saul pun dipermalukan ketika Daud menanggalkan baju perang Saul yang dipasangkan kepadanya. Daud maju berperang tanpa menggunakan baju perang! Daud maju berperang dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel. Daud berlari menemui Goliat dan melemparkan batu pada dahi Goliat sehingga terbenam di dahinya dan Goliat terjerumus dengan muka ke tanah. Kemudian Daud memancung kepala Goliat dengan pedang Goliat sendiri.

Bangsa Israel menurunkan Tuhan sebagai raja dan menaikkan Saul sebagai raja; mereka menolak Allah yang Maha Besar, Sang Pencipta dan mengangkat Saul, seorang manusia yang bertubuh besar, ciptaan, dan menganggap Saul lebih besar daripada Tuhan. Tuhan mendatangkan musuh yang jauh lebih besar daripada Saul dan mengalahkan musuh dengan anak muda yang kecil, yang berperang atas nama Tuhan semesta alam. Allah lebih besar daripada manusia terbesar sekalipun!

Di tahun yang baru, apakah kita menginginkan sesuatu yang baru, apakah kita ingin seperti orang lain yang ‘keren lho’, apakah kita melihat ciptaan ‘lebih besar, lebih wow’ daripada Sang Pencipta, apakah keinginan kita muncul dari hati yang menolak Tuhan sebagai raja, apakah kita lebih rela menderita demi keinginan kita tercapai daripada menderita karena dibersihkan Tuhan? Berhati- hatilah dengan permintaan kita, jangan sampai Tuhan mengabulkan permintaan kita yang salah.

“Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi Tuhan tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.” (1Sam. 8:18)

Yana Valentina

Januari 2013

2 tanggapan.

1. heriyanto dari bandar lampung berkata pada 8 January 2013:

pada waktu itu apakah semua orang israel menginginkan seorang raja atau hanya sekelompok saja orang israel,yg mana sekelompok tersebut adalah orang israel yang tidak cinta tuhan ,jadi perlu di analisa lebih mendalam supaya kita jangan salah berkomentar atau salah menafsirkan firman tuhan

2. AYUB SUMIRES dari SAMARINDA berkata pada 11 January 2013:

Ysh. Bpk Heriyanto

"Semua tua-tua Israel datang kepada Samuel dan berkata, “....” (bdk. 1Sam. 8:4-5)

Semua tua-tua Israel ada representasi dari bangsa Israel. Maka, meski pun "mungkin" ada sebagian org Israel (katakan saja Samuel) yg tidak sependapat dgn para tua-tua Israel tadi tetapi sikap tersebut merupakan sikap Israel kpd Allah. Sikap para tua-tua adalah sikap Israel karena para tua-tua adalah representasi Isarael.

Contoh:

Ketika kesebelasan sepak bola timnas Indonesia kalah vs Malaysia maka kekalahan tersebut adalah kekalahan seluruh masyarakat Indonesia. Karena timnas Indonesia merupakan representasi bangsa Indonesia. Bolehkah kita mengatakan "oh, Indonesia tidak kalah. Yang kalahkan cuma 11 org itu krn hanya 11 org yg bertanding lalu kalah, bukan semua org Indonesia". Cerdaskah pernyataan demikian?

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲