Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Sedap-Sedapan

Suatu kali, Reni mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Rosa, yang bunyinya, “Hi Rosa, tahu ga sih si Wati itu? Ntar pulang sekolah gue cerita.” Rosa yang menerima pesan singkat ini pun bertanya-tanya dalam hati: ada apa dengan Wati? Dia kemudian membalas pesan singkat tersebut dan membuat janji untuk bertemu di depan lobi sekolah. Seusai sekolah, setelah berjuang di antara kerumuman siswa-siswi lainnya, akhirnya Reni dapat menemukan Rosa. Dia pun menarik temannya itu ke tempat yang agak sepi dan melihat sekeliling. Rosa pun semakin penasaran. Sebentar lagi Reni akan membuka mulut dan mulai bercerita. Jika Anda adalah Rosa, berita apa yang Anda harapkan untuk didengar dari Reni?

Reni berkata, “Tau ga? Ternyata si Wati punya bakat terpendam untuk menyanyi opera. Tadi gue mendengar dia menyanyi satu lagu. Gile, gue sampai merinding.”

Pujian itu serta-merta menyurutkan semangat Rosa yang sepanjang hari itu telah menantikan sebuah kabar negatif tentang Wati dari Reni.

Meskipun cerita di atas adalah fiktif, namun cerita ini mengandung sebuah kebenaran, yaitu gosip atau kabar yang tidak baik tentang orang lain lebih nikmat terdengar daripada kabar baik. Penulis Amsal sudah mengetahui hal ini sejak ribuan tahun yang silam ketika dalam pasal 18 ayat 8 dia menulis, “Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.” Terjemahan ESV menggunakan kata yang lebih netral daripada “pemfitnah” yaitu “whisperer”, berarti pembisik atau penggosip.

Dalam kehidupan bergereja, kita tidak dapat terhindar dari kabar-kabar negatif tentang orang lain. Ini tidak terhindarkan karena jemaat adalah kumpulan orang yang meskipun telah ditebus, kesuciannya masih jauh dari sempurna. Cerita negatif tersebut menjadi lebih sedap lagi ketika dibubuhi dengan sedikit saksi dusta. Namun, ketika kita sebagai jemaat berkumpul, cerita apa yang menjadi konsumsi yang kita anggap “sedap”? Bagaimana kita menghadapi berita negatif tentang orang lain? Apakah dengan gairah menyantap makanan sedap, ataukah dengan kesedihan dan doa?

Erwan

April 2013

2 tanggapan.

1. john dari jakarta berkata pada 12 April 2013:

Pujian itu serta-merta menyurutkan semangat Reni (harusnya ROSA) yang sepanjang hari itu telah menantikan sebuah kabar negatif tentang Wati dari Reni.

Saya agak bingung sedikit, mungkin harusnya '.....semangat ROSA'

Saya selalu ingat akan khotbah Pdt Stephen Tong bahwa kita diciptakan bukan memberitakan keburukan orang lain, tapi Firman Tuhan. Berita buruk tidak dapat dihindari, tapi tergantung cara menanggapinya apakah dengan motivasi menjelekan atau keprihatinan

2. Erwan dari Jakarta berkata pada 15 April 2013:

Hi John,

Kelihatannya saya salah menulis nama. Sudah diperbaiki. Terima kasih ya untuk koreksinya. :)

Salam, Erwan

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲