Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Son, Your Sins Are Forgiven

Hai Anak-Ku, dosamu sudah diampuni! (Mrk. 2:5). Bukankah itu adalah kalimat yang paling manis bagi telinga kita? Kalimat yang menyembuhkan hati yang terkoyak, mencerahkan muka yang muram, dan mengangkat mata yang layu? Hanya Allah yang berhak mengatakan kalimat itu. Orang Farisi mengonfirmasi itu dalam perikop “Orang Lumpuh Disembuhkan” di kitab Markus 2:1-12.

Mengapa orang Farisi sangat menentang ketika Tuhan Yesus mengatakan demikian kepada orang lumpuh itu? Pada zaman itu, kecacatan dapat diindentikkan dengan dosa atau hukuman atas dosa. Orang yang lahir cacat diidentikkan dengan dosa orang tuanya. Cacat setelah lahir diidentikkan dengan dosa orang itu sendiri. Sangat mungkin, orang yang cacat tidak perlu dikasihani, karena mereka menuai apa yang mereka tabur. Dengan kata lain, sudah sepantasnya mereka menderita. Sedangkan orang Farisi, mereka dengan ketat menahan keinginan diri, berusaha sekuat tenaga menjalankan hukum Taurat bahkan hukum-hukum yang mereka tambahkan sendiri, untuk memperoleh pengampunan dosa dan menyempurnakan “kesucian” mereka. Sudah tentu mereka tidak bisa terima, ketika ada seorang tanpa usaha apa pun, mendapatkan pengampunan dosa. Apalagi bukti dari kalimat “dosamu diampuni” segera terlihat ketika orang lumpuh itu benar-benar bangun dan mengangkat tilamnya. Semuanya terjadi persis seperti yang dikatakan Tuhan Yesus. Siapakah Tuhan Yesus ini sehingga Ia dapat mengampuni dosa dan menyembuhkan kecacatan akibat dosa?

Apakah kita pernah tidak senang ketika kita sudah berusaha keras demi mendapatkan sesuatu, lalu ada orang lain yang tidak berusaha namun mendapatkan hal yang sama dengan kita? Pasti kita berpikir bahwa dia tidak layak memperolehnya, lalu kita menjadi marah. Jika kita mendapat sesuatu karena usaha kita, itu adalah upah. Tetapi jika kita mendapat sesuatu tanpa usaha kita, misalnya kado ulang tahun, itu adalah pemberian.

Tidak ada satu pun cara yang dapat dilakukan manusia berdosa untuk membersihkan dosanya sendiri apalagi dosa orang lain. Hanya Tuhan yang memberikan pengampunan dosa. Pengampunan dosa memungkinkan seseorang memulai hidup baru, hidup yang selayaknya dihidupi sebagaimana seharusnya. Apakah kita masih memendam kebencian dan menahan memberikan pengampunan kepada orang lain? Apakah kita tidak rela melepaskan rasa sakit hati kita? “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni, ampunilah seorang akan yang lain. Aku tahu engkau terluka, tetapi Aku adalah yang Adil dan Benar.” Marilah kita saling mengampuni karena kita telah diampuni oleh Yang Maha Kudus.

Yana Valentina

Juni 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk WRF General Assembly 2019 yang telah diadakan pada 8-12 Agustus 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
kehidupan sebenarnya adalah mudah & simple dari mulai bayi kita tidak terasa & mulai terasa arti hidup ketika...

Selengkapnya...

Shalom Pak Pendeta. 1.Bagaimanakah saya boleh membeli buku hasil penulisan bapak? kerana saya berada di Malaysia...

Selengkapnya...

baik

Selengkapnya...

saya mau bertanya aja, kalau di katakan bahwa "when they were created, human can be self-centered",...atau...

Selengkapnya...

Terima kasih untuk renungan tentang kasih Allah.

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲