Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Tahun Politik

Tahun 2014 adalah tahun politik di Indonesia. Media massa sudah ramai memberitakan berbagai kampanye yang dilakukan menjelang pemilu legislatif tanggal 9 April 2014. Belum lagi genap satu minggu, ada tambahan kandidat presiden dari salah satu partai bersayap nasionalis, yang menambah ketatnya persaingan politik di Indonesia. Presiden yang terpilih akan memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Presiden yang terpilih akan mewakili pemerintah Indonesia untuk mengatur salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Tidak perlu disebutkan lagi kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang ada di Indonesia sehingga presiden yang terpilih akan mendapatkan kuasa yang sangat besar di percaturan politik dunia. Salah satu pasal UUD 1945 mencatat prinsip militer bahwa Presiden Indonesia menjadi jenderal bintang lima yang memegang kekuasaan tertinggi TNI meliputi AU, AD, AL, dan juga Polri. Di pasal 33 UUD 1945, ada prinsip ekonomi yang tercatat seperti hasil bumi, air, dan segala kekayaan Indonesia yang menguasai hajat hidup orang banyak diatur oleh negara. Tidak heran kita melihat air, listrik, minyak ditangani oleh BUMN-BUMN seperti PAM, PLN, dan Pertamina.

Roma 13 mencatat bahwa Tuhan memberikan mandat kepada pemerintah untuk mengatur negara dengan menyandang pedang (militer) dan menarik pajak (ekonomi). Militer digunakan untuk mewakili pembalasan murka Allah, menegakkan kebaikan atas kejahatan, dan Paulus lebih jauh mengingatkan agar kita taat bukan saja karena murka Allah tetapi juga oleh hati nurani kita. Ekonomi digunakan untuk pembiayaan roda pemerintahan sebagai pelayan-pelayan Allah, membalas kebaikan bagi yang berjasa, dan memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar. Militer dan ekonomi ini pendeknya digunakan untuk menegakkan keadilan dan keteraturan di masyarakat. Rakyat Indonesia yang sudah kenyang dengan ketidakadilan dan korupsi yang pernah terjadi di tubuh militer, perusahaan ekonomi negara, lembaga peradilan (yudikatif), wakil rakyat di DPR (legislatif), dan pemimpin negara (eksekutif) akan sangat sulit untuk menyelami pemerintah sebagai pelayan Allah.

Penghayatan ini akan lain sekali dengan rakyat dari negara yang bebas korupsi, adil, makmur, dan teratur. Tentu saja, jika pemerintah tidak menjalankan fungsi militer dan ekonomi sebagaimana seharusnya, yaitu menegakkan keadilan dan keteraturan di masyarakat, maka pemerintah itu jauh dari fungsinya sebagai pelayan Allah. Maka, tugas kita sebagai rakyat Indonesia adalah memilih pemimpin yang sedekat mungkin dengan prinsip firman Tuhan menjadi pelayan Allah. Itu hanya akan terjadi jika seorang pemimpin tersebut takut akan Allah dan memiliki integritas moral. Biarlah sebagai seorang Kristen dan rakyat Indonesia, kita memilih pemimpin bangsa ini sejalan dengan prinsip firman Tuhan di Roma 13.

Lukas Yuan Utomo

Maret 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲