Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Terang, Kehidupan, dan Kasih

Mengapa perintah “Jangan membunuh” termasuk di dalam perintah yang, jika dijalankan, akan memampukan Israel memancarkan terang Allah di tengah bangsa-bangsa? Bukankah ini merupakan hukum yang umum ada juga di sebuah negara? Untuk menunjukkan kekhasan makna hukum tersebut di antara hukum berbunyi serupa dari tempat lain, mari kita melihat bagaimana Yesus memandang hukum tersebut di dalam Khotbah di Bukit.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum . . . . (Mat. 5:21)

Komentar Yesus secara sekilas tampak seperti mengoreksi Hukum Taurat. Namun, jika kita membaca bagian beberapa ayat sebelumnya, jelas bahwa Yesus datang bukan untuk mengubah atau meniadakan bagian tertentu dari Taurat, bahkan satu titik pun tidak boleh dihapus dari Taurat (Mat. 5:18). Alih-alih meniadakan, Yesus sedang menegakkan, atau dalam istilah Dia sendiri, “menggenapkan” Hukum Taurat.

Jika perintah “Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku”, mempunyai sisi lain “Sembahlah Aku saja”, dan juga seradikal “Jangan secara diam-diam menyembah allah lain di dalam hatimu”, hukum “Jangan membunuh” tentunya juga harus dipahami secara radikal sebagai “Barang siapa menyimpan kemarahan dan menginginkan atau membayangkan kematian orang yang dibenci, orang itu sudah membunuh.”

Jika Israel adalah terang yang sejati, mereka harus memilih jalan kasih, bukan kebencian, mereka harus mencintai jalan kehidupan dan menjauhi jalan kematian. Bukankah kemarahan mendatangkan kehancuran, tetapi kasih memberi kehidupan?

Tafsiran Yesus semakin mengena ketika kita mengetahui bahwa pada konteks saat itu, suasana politik Israel sedang menuju titik didih. Semangat ingin merdeka membara, dan perjuangan untuk merebut kemerdekaan dari Kerajaan Romawi tersulut di sana sini. Perintah “Jangan membunuh” berarti sebagai terang dunia, Israel tidak boleh memilih jalan kekerasan, melainkan jalan damai. Bahkan, segera berdamailah dengan “lawanmu” jika terjadi perselisihan di jalan (ay. 25). Sebagai hukuman bagi orang Israel yang tidak memilih jalan damai, Tuhan tidak akan memenangkan orang Israel yang dibawa ke pengadilan. Mereka harus mengalami kerugian material. Sebaliknya, perilaku cinta damai akan membuat orang Romawi melihat perbedaan orang Israel dari orang-orang dari negara jajahan lainnya, dan akan memuliakan Allah karenanya. Ketika itu terjadi, bangsa Israel meskipun masih terjajah oleh Romawi, sudah merdeka dari kegelapan, dan itu lebih penting bagi Yesus Kristus.

Upaya rekonsiliasi tidak hanya untuk dilihat orang luar, tetapi dipraktikkan kepada sesama orang Israel sebagai identitas bangsa. Yesus berpesan untuk menyelesaikan semua perselisihan sebelum datang ke depan mezbah untuk memberikan persembahan (ay. 23-24).

Sampai di zaman ini pun, konflik masih terus ada. Konflik terjadi di antara individu dengan individu, individu dengan negara, negara dengan negara, dan seterusnya. Bukankah konflik menandakan kemarahan, dan kemarahan merupakan potensi untuk kehancuran? Betapa gelapnya dunia ini. Namun, bukankah ini juga merupakan kesempatan orang Kristen untuk menjadi saksi terang melalui kasih dan damai sejahtera. Di tengah-tengah dunia yang semakin gelap, terang kecil akan menjadi jelas terlihat, dan terang besar akan mengagetkan.

Erwan

Oktober 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menu Share article jika terlalu panjang akan terpotong, apa tdk sebaiknya pakai link saja spy jg semakin banyak yg...

Selengkapnya...

Yang menjadi pertanyaan saya...memang kita harus tunduk kpd Allah dalam menafsirkan Alkitab, tetapi kenapa dalam...

Selengkapnya...

itu adalah benar bahwa kebenaran ada 2 (Dua) mutlak dan relatip ; yg Mutlak adalah ALLAH itu sendiri sedangkan...

Selengkapnya...

Kalau pakai apps, gambarnya tidak keluar.

Selengkapnya...

Saya suka artikelnya, bolehkah saya berlangganan untuk itu ?

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲