Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Tidak Ada yang Baru

Apa yang akan direnungkan Pengkhotbah memasuki tahun yang baru? Barangkali dia akan mengatakan tidak ada yang baru di bawah matahari. Pada pergantian tahun, umumnya orang- orang akan mengevaluasi tahun yang sudah lalu dan menilai kemajuan yang telah mereka capai dengan susah payah baik di dalam studi, bisnis, atau karir politik. Namun, Pengkhotbah sudah sampai ke puncak semuanya, dan dia tetap mengatakan tidak ada yang baru di bawah matahari.

Atau, di dalam pengejaran kita terhadap kebahagiaan kita dapat menggunakan hierarki Maslow untuk mengukur kemajuan kita. Manusia, pikir Maslow, termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dari yang paling dasar sampai kepada yang paling tinggi: kebutuhan akan fisik, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan cinta kasih dan relasi, kebutuhan akan harga diri, dan yang tertinggi adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Mungkin kita menggunakan model kebutuhan Maslow untuk mengukur kualitas hidup kita. Kita merasa kualitas hidup kita belumlah baik jika untuk makanan sehari-hari pun kita masih bergumul. Kita akan merasa sukses jika kita mendapatkan persahabatan, kasih sayang, penghargaan, pengakuan, dan terutama jika kita bisa merealisasikan semua bakat terpendam kita. Sampai tahap ini, kita pikir, kita baru akan sungguh-sungguh “jadi orang”, menjadi manusia seutuhnya.

Akan tetapi, jika Pengkhotbah menggunakan cara ini untuk mengukur kualitas hidupnya, apa yang akan dia katakan? Untuk orang seperti Pengkhotbah, apa wujud aktualisasi dirinya? Tidak sulit untuk ditebak bahwa untuknya aktualisasi diri adalah menjadi yang terbaik di dalam hikmat pengetahuan, dan ini sudah dicapainya.

Aku berkata dalam hati: "Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari pada semua orang yang memerintah atas Yerusalem sebelum aku, dan hatiku telah memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan. (Pkh. 1:16)

Namun, apakah dia merasa sudah puas? Itu pun sia-sia, katanya, dan usaha menjaring angin. Dia tak terpuaskan! Ternyata, aktualisasi tidak membuat hidupnya bahagia. Kekosongan yang dia rasakan bagaikan lubang tak berdasar yang tidak dapat diisi dengan apa pun, bagaikan minum air yang banyak tetapi dahaga tetap ada (misalnya setelah makan makanan yang banyak MSG). Mengapa? Karena “yang bongkok tak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tak dapat dihitung” (15) dan “karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan” (18).

Ternyata Pengkhotbah tidak terpuaskan karena meskipun dia sudah mengaktualisasikan dirinya, penderitaan tetap ada di dunia ini. Dia masih hidup di dunia lama. Sampai pada akhir perenungannya, pada pasal kedua belas, Pengkhotbah mengingatkan orang muda untuk mengingat pada pencipta mereka sebelum terlambat. Hanya Allah-lah yang dapat memberikan kepuasan dan kebahagiaan sejati. Kemudian, datanglah nasihat pamungkasnya.

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (12:12-13)

Sekarang kita mengerti. Ketenangan itu tidak datang setelah mengaktualisasikan diri, melainkan mengaktualisasikan kehendak Allah, menjadikan kehendak-Nya di bumi seperti di sorga (“berpegang pada perintah-perintah-Nya”). Setiap kali kita menjadikan kehendak-Nya, Kerajaan Allah makin ternyatakan di dunia ini. Inilah pengharapan setiap orang Kristen. Kerajaan-Nya datang, penderitaan akan pergi bersama dunia lama. Setiap pengikut Kristus berkewajiban mengambil bagian di dalam pekerjaan ini.

Pada pergantian tahun ini, mari kita merenungkan kembali semua jerih lelah kita. Apakah semuanya itu merupakan usaha menjaring angin? Apakah kita sudah mengingat pencipta kita, yang “akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan”? Kiranya pada tahun yang baru ini, kita lebih mendapatkan kepuasan dan ketenangan sejati karena ada lebih banyak kehendak Allah yang kita kerjakan.

Erwan

Januari 2020

1 tanggapan.

1. Kudeng Sallata dari Makassar berkata pada 9 January 2020:

Tulisan yang baik dan mengingatkan kita sebagai manusia yang selalu mengejar hikmmat dunia dan ternyata semuanya sia-sia bagaikan menjaring angin.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi global dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, berdoa kiranya setiap umat Kristen diberikan kekuatan oleh Tuhan di dalam menghadapi situasi ini dan mampu untuk menyaksikan Tuhan di dalam kehidupan mereka.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲