Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Tidak Akan Binasa

Beberapa minggu ini pikiran dan jiwa kita dibawa kembali mengingat tragedi Tiananmen Square 1989 (25 tahun lalu) dan tragedi Jakarta Riot 1998 (16 tahun lalu).

Tiananmen Square (Juni 1989)
Di tengah-tengah rentetan senapan otomatis yang mewarnai udara, berlaksa-laksa penduduk Beijing termasuk para lansia berada di tempat terbuka untuk menghentikan tentara. Sebuah tank telah melindas truk yang terbalik dan menghancurkan seseorang. Saksi mata melihat mayat-mayat berlumuran darah terbaring di jalanan. Beberapa tentara berdiri di dalam truk dan menangis.

Para mahasiswa dan buruh melempari tank dan truk angkatan bersenjata dengan botol bir, bom bensin, pipa, dan segala macam benda yang dapat ditemukan. Menjelang malam, ketegangan telah menggentayangi seluruh kota. Suara bising tank dan tembakan senapan menambah ketakutan rakyat. Mereka berteriak, “Engkau binatang! Engkau binatang!” dan para tentara menjawab, “Kami harus patuh kepada perintah.”1

Jakarta Riot (Mei 1998)
Saya berusia 8 tahun ketika itu semua terjadi. Orang tua saya membuka toko sembako dan menjadi sasaran empuk perusuh. Keterpurukan ekonomi Indonesia tahun 1998 saat itu mengakibatkan kenaikan harga pangan yang tinggi dan membuat mereka menggarong toko kami. Sebagai seorang anak, saya tidak mengerti apa-apa, tetapi saya ingat waktunya: 14 Mei 1998, sekitar pukul 2 siang. Massa datang dan menggedor pintu kami. Kami bersembunyi, saudara saya ketakutan, ada yang menangis dan membayangkan bagaimana jika mereka membakar kami hidup-hidup di dalam rumah. Ada satu orang naik untuk memecahkan jendela rumah kami dan membuka pintu dari dalam. Maka massa itu menyeruak ke dalam rumah kami dan menjarah semuanya: makanan, uang, barang elektronik, mebel – semuanya. Di antara massa tersebut, saya melihat karyawan ayah saya yang bermain dengan saya ketika saya kecil, dan dia mengambil barang-barang kami. Saya membencinya seketika itu juga dan merasa dikhianati.

Hidup sesudah itu sangat sulit. Ayah saya harus memulai bisnisnya lagi. Saya merasa diri saya warga Indonesia, tetapi kebencian saya terhadap para perusuh itu memudarkan perasaan saya. Di dalam pelajaran PPKn (Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan) waktu itu, saya dimarahi guru saya karena saya tidak mengangkat tangan ketika dia bertanya, “Siapa yang merasa dirinya seorang warga Indonesia?”2

Pentakosta (2.000 tahun yang lalu)
Melihat berbagai macam kesulitan hidup yang berjalan di luar kontrol manusia dan hidup manusia terlihat tidak berarti dilindas oleh roda kehidupan, hukum sebab-akibat, di manakah Allah? Apakah iman kita sia-sia? Apakah Allah yang kita percayai itu salah, atau kejam, atau tidak ada? Apakah kita tidak mendapatkan apa yang Tuhan janjikan dan Tuhan tidak setia dengan janji-Nya? Bahkan para pahlawan iman di dalam Ibrani 11 pun mati dengan tidak memperoleh apa yang dijanjikan (Ibr. 11:13).

Hari Pentakosta tahun ini jatuh pada tanggal 8 Juni 2014 kemarin. Di hari Pentakosta, khotbah pertama yang muncul dalam sejarah gereja adalah khotbah Petrus yang mengatakan kepada orang banyak mengenai janji Tuhan kepada Daud. “Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” Tetapi kuburan Daud masih ada sampai sekarang bahwa Daud toh akhirnya mati. Siapakah yang dimaksud Orang Kudus yang tidak binasa di sini?

Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. (Kis. 2:31b-33)

Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung. Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan. (Ibr. 11:36-40)

Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. (1Kor. 15:51-52)

Sesungguhnya ada satu rahasia yang mungkin kita lupa, bahwa kita akan turut dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus, Orang Kudus yang tidak melihat kebinasaan itu. Mari melihat hidup ini sesuai kebangkitan yang Tuhan sudah berikan, bukan melihat dari hidup yang terus menawarkan kebinasaan dan keputusasaan.


1 Diterjemahkan secara bebas dari http://www.nytimes.com/1989/06/04/world/crackdown-in-beijing-in-the-streets-anguish-fury-and-tears.html (diakses 9 Juni 2014).

2 Diterjemahkan secara bebas dari http://www.slate.com/blogs/quora/2014/02/04/what_was _it_like_to_be_a_victim_of_the_may_1998_riots_in_indonesia.html (diakses 10 Juni 2014).

Lukas Yuan Utomo

Juni 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲