Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Tidak Luar Biasa

Kita sering memakai ungkapan “biasa saja” dalam hidup kita. Mungkin dalam beberapa kali ketika ditanya bagaimana rasa masakan di sebuah rumah makan, kita berkata, “Biasa saja.” Ketika ditanya apakah sebuah film yang baru kita tonton itu bagus, kita berkata, “Ya ... biasalah.” Jika ada orang yang bertindak berlebihan, kita menyeletuk, “Biasa aja kali.” Dalam kasus teman sedang korslet pikirannya dan bertindak aneh, kita mengatakan, “Orang ini tidak seperti biasa.” Jika demikian, makna “biasa saja” dapat berkonotasi positif atau negatif, tergantung pada harapan kita. Jika harapan kita adalah luar biasa maka kita akan kecewa dengan sesuatu yang biasa saja. Sebaliknya, jika harapan kita adalah biasa maka sesuatu yang keluar dari jalur biasa akan kita sebut aneh.

Mari kita mengambil waktu sejenak untuk merenungkan kehidupan kerohanian kita. Jika kita diminta untuk mengomentari perjalanan hidup kita sebagai seorang Kristen dalam dua kata, kata apa yang akan kita pakai?

Mungkin, bayangan seperti berikut ini yang akan muncul dalam benak kita setelah diperhadapkan dengan pertanyaan di atas. Seperti biasa, aku bangun tidur dan pergi kuliah/kerja. Aku berdoa sebelum makan. Aku pulang pada sore/malam hari dan berkumpul bersama keluarga atau teman-teman kost. Seperti biasa, setiap Minggu aku ke gereja, bernyanyi memuji Tuhan, dan mendengarkan khotbah. Kemudian, aku pulang lagi untuk melanjutkan rutinitas hidupku. Jadi, bagaimana kerohanianku? Ya ... Biasa aja sih.

Sekarang, mari kita perdalam satu tahap lagi pertanyaannya: Bagaimanakah relasi kita dengan Tuhan? Jika kita merasa biasa saja atas perjalanan hidup Kristen kita seperti di atas, kemungkinan besar untuk pertanyaan kedua ini juga akan kita jawab, “Biasa saja.” Apa salahnya dengan “biasa saja”?

Masalahnya, jika hubungan kita dengan seseorang yang baru bertemu dan berkenalan itu biasa saja, tentu tidak ada yang salah dengan itu. Akan tetapi, dengan Tuhan yang sudah rela mengorbankan Anak-Nya untuk mati bagi kita, dengan Sang Penebus yang sudah memungut kita dari tempat pembuangan sampai harus mencucurkan darah-Nya, dengan Roh Kudus yang dengan kesabaran dan air mata membawa kita datang kepada Tuhan, dengan Allah Tritunggal yang tidak pernah melihat relasi-Nya dengan kita adalah biasa saja, kita telah berdosa jika kita mempunyai hubungan yang biasa saja dengan-Nya. Renungkanlah, apakah Anda mempunyai hubungan yang biasa saja dengan Tuhan?

Erwan
Redaksi Umum Pillar

Erwan

Oktober 2011

1 tanggapan.

1. Tjung Hadi Hartono dari Jakarta Pusat berkata pada 6 October 2011:

Renungan ini sangat menggugah saya untuk lebih lagi memberikan hidup yg nyata dalam ketaatan dan kesetiaan dari iman yg berpusatkan Kristus yg telah mati demi segala dosa-dosa saya. Sola Christos & Soli Deo Gloria. Bravo Pillar. God Blesses Pillar till the end of age always faitfull to preach the word of God so bravely. Amen

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲