Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Tuhan Bukan Santa Claus

Dalam film Rise of the Guardians, ada kalimat yang diucapkan oleh Santa Claus yang kira-kira isinya adalah, “Kami terlalu sibuk bekerja untuk anak-anak, kami tidak mempunyai waktu untuk anak- anak.” Sangat ironis sekali, ketika Santa Claus yang selalu digambarkan sebagai sosok yang dicintai anak-anak karena ia selalu memberikan hadiah seperti yang diinginkan anak-anak, ternyata tidak tahu bagaimana bermain bersama anak-anak. Begitu juga dengan Tooth Fairy yang mengatakan betapa menariknya gigi susu anak yang tanggal dengan darah yang menempel. Hal itu segera membuat Sophie, anak gadis kecil, menangis. Mereka adalah tokoh cerita anak tetapi mereka tidak mengenal dunia anak-anak. Mereka diciptakan for children tetapi bukan to be with children.

Banyak orang tua lebih suka seperti Santa Claus, mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak, for children, tetapi tidak mau to be with children 7 days a week, 24 hours a day. “Come on, I have my own life” adalah teriakan mereka. Tetapi itulah yang diberikan Allah kepada kita. For unto us a Son is given, Allah memberikan diri-Nya bagi kita. Immanuel, God with us, Allah mau hidup bersama- sama dengan kita, orang berdosa. Bukan hanya for us, with us, tetapi juga guide us, Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Seperti Yosua yang hendak maju berperang lalu berjumpa dengan orang yang memegang pedang di depannya, “Are you for us or for our adversaries?” tetapi dijawab, “No. I come as captain of the host of the Lord.” (Yos. 5:13-14)

Kita sering memperlakukan Tuhan seperti Santa Claus. Kita ingin Dia memberikan segala macam berkat yang kita inginkan. Santa Claus datang memberikan hadiah lalu pergi. Santa Claus datang lalu tinggal di rumah kita? Untuk apa? Cukup hadiahnya dan bye-bye. Apalagi kalau Santa Claus datang tinggal di rumah kita lalu mulai mengatur rumah kita? Oh, silakan pergi!

Tuhan bukan Santa Claus, kita tidak perlu Santa Claus, kita tidak perlu melayani keinginan daging kita. Kita perlu kapten untuk berperang melawan kuasa dosa, untuk menaklukkan keinginan daging demi melakukan keinginan Roh. Karena dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya. (1Yoh. 2:17)

Marilah kita hidup bukan seperti anak kecil yang merindukan Santa Claus, tetapi hidup sebagai orang yang sudah lahir baru yang merindukan Tuhan dan pimpinan-Nya setiap saat.

Yana Valentina

Maret 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲