Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Yang Hilang dan Yang Ditemukan Kembali

Tengah malam itu hujan sangat deras dan taksi baru saja berhenti di depan tempat tinggal kami setelah mengantar kami dari bandara. Saya bergegas turun dan mengambil payung dari dalam rumah supaya koper-koper dan tas tidak dibasahi air hujan. Karena hujan deras, barang-barang diturunkan dengan tergesa-gesa, dan supir taksi tidak membantu. Dia hanya duduk diam di tempatnya sambil menunggu saya. Setelah dibayar, dia pun meluncur pergi. Beberapa menit kemudian, saya baru sadar bahwa tas yang biasanya sangat berguna bagi kami sekeluarga, dan yang pada saat itu sedang berisi barang-barang berharga, ternyata belum diturunkan. Malam itu, kami pun harus kehilangan, terpisah dari barang kepunyaan yang sudah begitu dekat dengan kehidupan kami.

Saya juga teringat apa yang saya dengar di radio. Biasanya, stasiun radio yang saya dengar menyiarkan informasi orang hilang. Ada satu cerita kehilangan yang cukup berkesan bagi saya. Seorang anak perempuan kecil yang sedang bermain dengan tantenya di Monas hilang di dalam kerumunan orang. Tantenya kemudian mencari seharian dengan bantuan petugas, tetapi tidak mendapatkannya. Beberapa hari kemudian, anak tersebut ditemukan pendengar radio tersebut. Orang itu langsung melapor pada radio dan dihubungkan dengan orang tuanya. Saya bisa merasakan keterharuan orang tua anak tersebut ketika menemukan anak mereka.

Sukacita orang tua itu pastilah melebihi apa yang kami rasakan ketika tas kami itu kembali kepada kami beberapa hari kemudian atas bantuan operator taksi. Namun, apa yang setiap orang rasakan ketika kehilangan sesuatu, entah itu orang yang dikasihi atau harta yang sangat berharga, esensinya sama: mereka merasa ada akar yang tercerabut dari hati mereka. Hal ini tidak dapat dipahami sampai penghuni hati kita diambil dari kita.

Dengan pengalaman seperti ini, saya mulai dapat lebih menghayati perasaan tiga tokoh dalam perumpamaan Tuhan Yesus: orang yang kehilangan seekor domba, seorang perempuan yang kehilangan satu dirham, dan seorang ayah yang kehilangan anaknya (Lukas 15). Ketiga tokoh itu sangat bersukacita ketika menemukan kembali apa yang hilang, bahkan sukacita mereka mendapatkan kembali apa yang hilang melampaui sukacita mereka atas apa yang tidak hilang.

Ada hal yang tidak bisa digantikan dengan yang baru. Si pemilik domba bisa saja diberikan domba baru, si perempuan harta baru, dan sang ayah anak baru sebagai kompensasi, tetapi sukacitanya tetap akan berbeda dari menemukan kembali yang terhilang. Mungkinkah itu sebabnya mengapa Tuhan tidak menghancurkan dunia berdosa ini dan menciptakan yang baru? Alih-alih mencipta yang baru, Bapa telah mengirimkan Anak-Nya untuk mencari yang terhilang.

Apakah kita rindu menyenangkan hati Tuhan? Apa yang dapat lebih menyenangkan hati Tuhan selain pergi mencari dan menemukan kembali “domba”, “harta”, dan “anak” Tuhan yang terhilang?

Erwan

Maret 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲