Resensi

Here I am, Send Me O Lord

Judul               :  David Brainerd: Misionaris bagi Suku Indian Amerika

Pengarang      :  John Thornbury

Penerbit          :  Momentum

Tebal               :  xv + 121 halaman

Cetakan          :  Ke-1 (Februari, 2006)

“Ini saya, Tuhan, utuslah saya, utuslah saya sampai ke ujung bumi; utuslah saya kepada bangsa kafir yang liar dan ganas di padang belantara; utuslah saya menjauhi segala sesuatu yang dinamakan kenyamanan di bumi, atau kenyamanan duniawi; utuslah saya bahkan kepada maut sekalipun, bila itu dalam pelayanan bagi-Mu dan untuk memperluas kerajaan-Mu,” tulis seorang pemuda dalam buku hariannya. Kelak di kemudian hari, buku hariannya tersebut, The Memoirs of the Rev. David Brainerd, menginspirasi ratusan orang termasuk William Carey, Henry Martyn, Robert M’Cheyne, dan lain-lain untuk menjadi misionaris ke berbagai belahan dunia. Siapakah David Brainerd ini?

David Brainerd (1718-1747) adalah perintis misionaris modern. Ia tidak sedang mengarang cerita fiksi petualangan sewaktu ia menulis dalam buku hariannya. Ia melakukan dan mengalami sendiri apa yang ditulisnya itu — mengabarkan Injil dengan penuh semangat kepada suku-suku Indian Amerika yang adalah penyembah berhala, penentang Kekristenan, dan pembenci nama Kristus; berjalan bermil-mil melewati ngarai, hutan rimba dan padang belantara di kala kuda kesayangannya sakit dan mati; diterpa hujan badai, hawa dingin, ancaman binatang buas, kelaparan, kehabisan persediaan air minum, kesepian, penyakit paru-paru turunan; hidup miskin, tanpa rumah, tanpa keluarga; hidup dalam kesendirian dan penderitaan. Ia merupakan sosok pemuda pemberani yang tidak mementingkan dirinya sendiri dan kenyamanan pribadi — seorang misionaris sejati yang mempersembahkan seluruh hidupnya, jiwa dan raga, untuk Tuhan. Seperti Rasul Paulus, baginya “hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Ia rela menderita dan mati bagi Kristus dalam pelayanannya memberitakan Injil di tempat di mana nama Kristus belum pernah didengar dan dikenal.  

Di zaman posmodern sekarang ini, pemuda seperti Brainerd jarang sekali ditemui di masyarakat kita yang telah terbuai oleh kehidupan hedonisme dan materialisme. Segala kenikmatan dan kemewahan duniawi yang dikejar tiada henti oleh pemuda-pemudi yang hobi balapan, dugem, seks bebas, aborsi, narkoba, dan lain-lain itu dianggap tidak menarik dan sia-sia oleh Brainerd. Ia lebih memilih hidup saleh, banyak membaca Alkitab dan buku-buku rohani, berdoa, berpuasa, merenung dan menulis buku harian. Ia akan setuju dengan kata-kata salah seorang pengarang besar Perancis, Victor Hugo, “Kesulitan akan membentuk kita menjadi manusia sejati, sedangkan kemakmuran akan membuat kita menjadi monster.” Kerinduan dan panggilan hidupnya adalah memberitakan Kristus kepada suku-suku Indian Amerika yang sedang berjalan menuju jurang kegelapan.

Suatu kali, di Sheffield, Massachusetts, ia bertemu dengan seorang utusan dari East Hampton di Long Island, yang telah ditugaskan oleh seluruh penduduk kota dengan suara bulat untuk mengundang dan mendesak Brainerd untuk bekerja di antara mereka sebagai pendeta. Menurut Edwards (Jonathan Edwards, theolog terbesar Amerika yang menjadi bapa rohani dan sahabat dekat Brainerd) undangan ini datang dari salah satu jemaat yang terbesar dan terkaya, di sebuah pulau yang terkenal karena keindahan dan kemakmurannya (hal. 41-42). Namun, Brainerd menolak undangan tersebut. Ia tidak tergoda dengan segala kelimpahan duniawi yang ditawarkan kepadanya. Ia tidak bermain-main sebagai misionaris. Tekadnya sudah bulat untuk memikul salib, menyangkal diri, dan rela menderita bagi Kristus. Dalam buku hariannya, ia menulis demikian: “Atas pilihan saya sendiri, saya terpaksa mengatakan, ‘Selamat berpisah, teman-teman dan kenyamanan duniawi, juga yang paling saya kasihi, bila Tuhan memintanya: selamat tinggal, selamat tinggal; saya rela menghabiskan hidup saya sampai saat terakhir, dalam gua-gua dan celah-celah gunung di bumi, bila dengan demikian kerajaan Kristus dapat diperluas’” (hal. 79).

Banyak orang Kristen, penginjil dan pendeta yang membaca The Memoirs of the Rev. David Brainerd merasa malu dan tertempelak jika membandingkan kehidupan Brainerd dengan kehidupan mereka yang egois. Seringkali, kita sebagai orang Kristen lebih pandai dan lebih banyak berkata-kata ketimbang melakukan tindakan. Kata-kata yang diucapkan di mimbar dan tindakan yang dilakukan sehari-hari acapkali saling bertentangan. Kita sebagai para pelayan Tuhan seringkali bukannya melayani Tuhan, melainkan melayani diri kita sendiri. Kita tidak sepenuh hati dan sungguh-sungguh hidup bagi Kristus dan melayani Dia.

Walaupun masa hidup (29 tahun) dan karirnya (hanya 4 tahun) singkat, David Brainerd termasuk salah satu tokoh misionaris terbesar Amerika. Melalui penginjilannya, ratusan orang Indian bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka pribadi. Banyak tokoh-tokoh yang menjadi teladan dan telah menginspirasi banyak orang, meninggal dunia di usia muda. Pada pertengahan abad ke-20, tepatnya tahun 1956, lima orang misionaris tewas martir di Ekuador dibunuh oleh suku Indian Auca. Salah seorang dari lima misionaris martir tersebut adalah Jim Elliot. Ia menjadi martir di usia 29 tahun, usia yang sama dengan Brainerd ketika meninggal karena penyakit paru-paru. Kematian Elliot berdampak luar biasa. Banyak misionaris baru yang terpanggil untuk melayani suku Indian Auca tersebut. Hasilnya, suku kejam tersebut akhirnya terbuka bagi Injil dan banyak jiwa dimenangkan bagi Kristus.

Buku yang memotivasi dan menggugah ini merupakan salah satu buku seri misionaris perintis yang diterbitkan oleh Penerbit Momentum. Buku ini benar-benar ‘fine book selection’ karena memenangkan hadiah kedua dari kompetisi terbuka yang diselenggarakan oleh Banner of Truth Trust pada tahun 1962, dan ditulis dengan baik sekali oleh Pdt. John Thornbury, B.A., seorang pendeta Baptis di Ashland Kentucky, Amerika Serikat.

Kita patut bersyukur dengan diterbitkannya buku-buku biografi seri misionaris perintis dan buku-buku Reformed terseleksi lainnya. Kiranya ini semua dapat memperkaya khasanah dunia perbukuan Kristen di tanah air dan memperlengkapi banyak orang Kristen untuk terjun dalam pelayanan, membaktikan dan mempersembahkan diri mereka sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Tuhan Yesus Kristus. Soli Deo Gloria!

Daniel Setiawan

Pemuda MRII Matraman

Daniel Setiawan

September 2006

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲