Resensi

Holding Hands, Holding Hearts

Holding Hands, Holding Hearts

Recovering a Biblical View of Christian Dating

Pengarang : Richard D. Phillips & Sharon L. Phillips

Penerbit : P&R Publishing

Tahun : 2006

Halaman : 183

Merenungkan tentang cinta di antara lawan jenis merupakan hal yang sangat indah dan tidak ada habisnya. Dalam buku ini, Richard D. Phillips dan Sharon L. Phillips menjelaskan relasi berpacaran dan pernikahan menurut Alkitab. Penjelasan tersebut didukung juga dengan pengalaman mereka melayani selama sepuluh tahun di Tenth Presbyterian Church, Amerika Serikat. Berpacaran dan menikah bukan hanya memegang tangan, tetapi juga memegang hati (holding hands, holding hearts). Bukan saja berelasi secara fisik, tetapi juga relasi hati.

Buku ini dibagi dalam dua bagian utama: Bagian pertamaA Biblical View of Dating and Relationships. Bagian ini terdiri dari 3 skema. Skema pertama, God’s design in creation, kedua, the relationship fallen through sin, dan ketiga, the relationship redeemed by God’s grace. Pada bagian pertama ini, Phillips menjelaskan bahwa pada permulaan Allah menciptakan dunia ini, Allah mengatakan bahwa semua yang diciptakan-Nya itu baik. Kata “tidak baik” muncul pada Kejadian 2:18. Kata itu muncul dalam konteks laki-laki dan perempuan. Ini menunjukkan bahwa jika hanya ada laki-laki di dunia ini, itu tidak baik. Ini menyatakan bahwa laki-laki membutuhkan perempuan, dan perempuan itu adalah kebutuhan (provision) bagi laki-laki. Kenapa? Pertama, tidak baik laki-laki sendirian tanpa wanita, karena pada mulanya Allah merencanakan bahwa umat manusia itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kejadian 1:27 merupakan ayat bahwa laki-laki dan perempuan itu setara. Gambar dan rupa Allah itu digambarkan dengan union between man and woman. Allah berelasi di dalam tiga Pribadi: sempurna dan dalam cinta yang kekal. Manusia adalah image of God dalam sebuah relasi kasih. Manusia diciptakan dalam relasi. Kedua, kesendirian Adam tidak baik karena kesendirian membuat Adam tidak bisa bekerja dengan baik secara emosi, rohani, bahkan fisik.

Maka dari itu, sejak awal rencana Allah bagi umat manusia, laki-laki dan perempuan, adalah pernikahan. Akan tetapi di dalam kejatuhan, orang-orang justru takut untuk menikah. Ada pandangan umum yang mengatakan bahwa bahaya bagi laki-laki adalah menikah terlalu dini. Akan tetapi, Kejadian 2 berpesan bahwa lebih berbahaya bila laki-laki tidak menikah. Kenapa? Karena dalam kehidupannya akan hadir kebiasaan egois dan berdosa. Laki-laki lebih bahaya bila tidak menikah, sebab tidak ada pengaruh dari istri dan anak-anak. Laki-laki bahaya bila tidak menikah karena bisa bertarung dengan frustrasi seksual. Kebahayaan ini Tuhan sendiri yang selesaikan dengan ayat ini:

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. (Kej. 2:18, 21-22)

Adam dan Hawa berbeda, tetapi disatukan di dalam pernikahan. Perbedaan Hawa (perempuan) menyediakan kelengkapan sempurna bagi Adam. Ini menyatakan sesuatu tentang yang Allah inginkan. Allah adalah kasih, Allah ingin Adam tahu apa artinya mencintai. Oleh karena itu Allah menciptakan perempuan, dibuat dari Adam tetapi berbeda sehingga Adam tahu bahwa cinta lebih dari sekadar mencintai diri. Fakta laki-laki dan perempuan berbeda bukanlah kutukan atau produk dari dosa, tetapi merupakan rencana Allah sendiri. Hawa diberikan bukan untuk mengulangi aktivitas laki-laki, tetapi melengkapi dan menyempurnakan Adam dalam pekerjaan yang sudah ditugaskan kepada mereka oleh Allah (Kej. 1:28). Hawa itu cocok dan sepadan dengan Adam, ibarat tangan kanan dan kiri, baju dan celana.

Perempuan diciptakan untuk laki-laki (1Kor. 11:9). Manusia diciptakan untuk sesama, bukan untuk diri. Laki-laki tanpa perempuan tidak lengkap, demikian sebaliknya. Bila hanya ada perempuan yang seperti laki-laki, laki-laki akan meratap, demikian sebaliknya. Matthew Henry berkomentar, Hawa dibuat dari rusuk Adam; bukan dari kepala yang untuk mengatur Adam, bukan pula dari kakinya yang untuk diinjak-injak Adam, tetapi dari tulang rusuknya yang ada di dadanya sehingga setara dengan Adam, di bawah lengannya untuk dilindungi, dan dekat dengan hatinya untuk dicintai. Adam kehilangan rusuk, tetapi kemudian dia mendapatkan penolong yang dibuat dari kehilangannya.

Adam dan Hawa seperti dua sisi mata koin, saling melengkapi dan saling membutuhkan. Perempuan tidak akan menemukan pemenuhan dengan menggantikan seorang laki-laki dalam menjalankan perannya. Malah, perempuanlah yang akan mengangkat seorang laki-laki dalam maskulinitas yang sejati, dan bukanlah hal yang meremehkan bila mengatakan seorang perempuan membuat seorang laki-laki menjadi laki-laki sejati. Umumnya, banyak laki-laki bergantung kepada relasi laki-laki untuk mendukung kerohanian mereka, ketika sebenarnya apa yang mereka butuhkan adalah wanita yang saleh. Laki-laki membutuhkan perempuan, demikian juga perempuan membutuhkan laki-laki. Perempuan yang menolak rancangan Allah sejak semula sebagai penolong laki-laki akan kehilangan banyak sekali aspek yang membuatnya sebagai perempuan. Bukan berarti dia tidak bisa hidup mandiri dan sukses, tetapi perempuan itu tidak bisa menjadi sesuai dengan rancangan yang ditetapkan Allah, yaitu dibentuk untuk berelasi dengan laki-laki. Perempuan membawa keindahan kepada laki-laki. Tanpa perempuan, laki-laki “tidak baik”.

Hubungan Adam dan Hawa di Taman Eden adalah hubungan yang indah. Tidak ada dosa, tidak ada argumen atau hati yang licik. Kejadian 2:25 menggambarkan bahwa Adam dan Hawa telanjang tetapi mereka tidak malu. Tidak ada dosa di dalam relasi mereka. Namun Iblis mulai menyerang relasi indah ini. Bila ada pertanyaan, “Kenapa relasi antara laki-laki dan perempuan sangat sulit saat ini?” Jawabannya adalah Kejadian 3. Masalah relasi laki-laki dan perempuan adalah karena adanya dosa. Dosa membawa kesedihan dan menghalangi harapan kita untuk berkat-berkat kasih.

Kejadian 3 adalah pasal tergelap. Iblis membawa dosa ke dalam pernikahan yang kudus. Iblis menghancurkan relasi mereka dengan menipu Hawa untuk melanggar perintah Tuhan. Adam di dalam dilema. Pilih taat Allah sehingga melepaskan Hawa, atau ikut masuk ke dalam pemberontakan bersama Hawa tetapi kehilangan muka di hadapan Allah. Pilihannya adalah antara berkat dan Pemberi Berkat, antara Hawa dan Pencipta Mahakuasa. Akan tetapi di dalam Kejadian 3:6, Adam memilih Hawa yang sudah melawan Allah. Iblis menggunakan Hawa untuk menipu Adam. Padahal Adam tidak harus memilih salah satunya. Adam cukup tetap setia kepada Allah. Tetapi nyatanya, Adam berpaling dari Allah.

Efek dosa pertama kali adalah pengasingan. Laki-laki dan perempuan tidak lagi bersekutu dengan Allah. Mereka juga tidak dapat menikmati lagi persekutuan di antara mereka (Kej. 3:7). Dari yang dahulu suci, terbuka, dan tanpa salah, sekarang mereka mengambil daun untuk menutupi badan mereka. Mereka memiliki sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang ditutupi, sesuatu yang salah pada diri mereka. Mereka tidak bersama dengan Allah lagi, sehingga mereka tidak bisa menikmati kasih yang intim di antara mereka. Di dalam dosa, ketelanjangan merupakan sumber perasaan malu dan kehadiran Allah merupakan ancaman bagi manusia.

Bagian keduaBiblical Wisdom for Dating and Relationships. Bagian ini membahas beberapa topik menarik seperti attractionfirst datecommitmentgrowing from dating to marriage, dan waiting for love. Bagian kedua mulai dengan beberapa hal yang lebih praktis. Mengenai daya tarik, Phillips membandingkan apa yang membuat manusia tertarik kepada lawan jenis, dan apa yang Alkitab katakan yang seharusnya membuat manusia tertarik kepada lawan jenisnya. Biasanya orang tertarik dengan lawan jenis karena penampilan saja. Laki-laki berani mempertaruhkan hidupnya kepada wanita cantik yang tidak berkarakter dan tidak memiliki kemampuan yang baik sebagai istri. Wanita tertarik kepada laki-laki yang mempesona tetapi tidak sadar bahwa dirinya berada di tangan laki-laki yang tidak jujur, malas, dan tidak setia. Akan tetapi, hal yang seharusnya membuat orang tertarik kepada lawan jenis adalah hikmat. Bukan saja orang Kristen harus taat kepada Allah, tetapi harus juga mengembangkan yang namanya hikmat. Hikmat sangat baik untuk menilai mana yang baik dan benar dalam kondisi aktual tertentu. Apakah hikmat itu? Kitab Amsal mengajarkan bahwa masing-masing laki-laki dan wanita Kristen haruslah memiliki karakter yang takut akan Tuhan. Yang menjadi daya tarik dengan lawan jenis bukanlah penampilan, melainkan karakter dan kerohanian. Orang-orang yang bisa menjalankan 1 Petrus 3:1-5 memiliki keindahan dan daya tarik yang sesungguhnya. Merekalah yang memiliki hikmat, akan mampu menghadapi masalah-masalah di dalam pernikahan. Mereka akan memiliki kemampuan untuk saling mengasihi sesama manusia yang berdosa di dalam konteks pernikahan.

Topik selanjutnya adalah mengenai dating (pacaran). Apakah Alkitab pernah membicarakan soal pacaran? Alkitab tidak pernah membicarakan secara langsung tentang pacaran, akan tetapi ada kisah pacaran seperti yang dilakukan oleh Simson. Namun itu bukanlah contoh yang baik. Alkitab lebih banyak membicarakan soal prinsip bagaimana relasi pacaran atau relasi dengan lawan jenis dapat dikerjakan dengan baik. Alkitab mengajarkan bahwa laki-laki harus menghormati perempuan sebagai kaum yang lebih lemah (weaker vessel). Baik laki-laki maupun perempuan tentu harus saling menghormati dan berbijaksana di dalam relasi. Akan tetapi biasanya dalam relasi romantis, perempuan lebih rentan. Maka dari itu, laki-laki perlu menghormati perempuan sebagai kaum yang lebih lemah. Bagi orang Kristen, mereka harus berpacaran dengan yang seiman. Orang Kristen tidak boleh bingung jika dihadapkan dengan pilihan pacaran dengan orang non-Kristen, karena itu sudah jelas dilarang dalam Alkitab. Phillips menjelaskan tiga hal untuk pacaran yang suci: 1) Nasihat Alkitabiah (bukan saja dari firman Tuhan, tetapi juga bisa diskusi dengan orang tua, teman, dan pendeta yang dapat dipercaya), 2) Doa (bergantung kepada pertolongan Tuhan), dan 3) Akuntabilitas (mempertanggungjawabkan relasi pacaran di hadapan Tuhan). Dengan tiga prinsip ini, pemuda-pemudi akan dibimbing kepada kehidupan berpacaran secara sehat. Nasihat yang indah dari Phillips, “Make the date something to savor and remember. Relax and enjoy the person you are with. Let your date see the real you and the real Christ in you.”

Dalam pelayanan Phillips bertahun-tahun kepada para pemuda-pemudi lajang, Phillips menemukan bahwa sangat banyak pasangan menghindari yang namanya komitmen. Mereka ingin bersama tanpa komitmen, bahkan tanpa komitmen mereka tinggal bersama, bahkan sampai mempunyai anak. Sedangkan apa yang Alkitab katakan, berbeda dengan budaya dunia pada umumnya. Dalam Kejadian 2, kita menemukan tiga kunci dinamis mengenai relasi laki-laki dan perempuan sebagaimana Allah ciptakan: pertama, komitmen, kedua, intimasi, dan ketiga, saling bergantung. Ketiga hal ini mengekspresikan kepercayaan, saling berbagi, dan kesatuan yang adalah fondasi bangunan dari relasi kasih yang bertumbuh ke arah pernikahan. Relasi pacaran Kristen selalu bertumbuh ke arah pernikahan, dan komitmen, keintiman, dan kebergantungan makin meningkat secara suci dan sehat.

Pada bagian yang terakhir, Phillips memberikan pengarahan kepada orang-orang yang lajang dan belum memiliki pacar. Kepada mereka yang sedang lajang dan tanpa beban, Phillips mengatakan bahwa itu adalah karunia. Mereka tidak berpikir secara romantis kepada lawan jenis, mereka juga memiliki sedikit dorongan seksual, sehingga membuat mereka juga tidak mencari pasangan hidup. Ini adalah karunia. Karena itu, belajarlah untuk bersukacita atas karunia yang Tuhan berikan tersebut. Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 7:7, bahwa Paulus berharap sebagaimana dirinya ada sekarang, yaitu lajang. Akan tetapi setiap orang memiliki karunianya masing-masing.

Namun bagi sebagian orang lagi, lajang bukanlah karunia. Mereka sudah berusaha untuk mendapatkan pasangan hidup, akan tetapi belum terkabul. Mereka melihat lajang itu sebagai kesulitan, masalah, dan kegagalan. Satu sisi pandangan bahwa lajang bukan karunia itu benar. Akan tetapi kita tidak boleh memandang kelajangan sebagai suatu kesalahan atau hal yang buruk. Phillips mengatakan bahwa orang Kristen yang sedang bergumul dalam kelajangannya, harus memandang hal tersebut sebagai ujian dari Tuhan. Tuhan sendiri merancangkan pernikahan, dan Alkitab menyatakan bahwa adalah baik bila orang dewasa menikah daripada terbakar hawa nafsu seksual. Akan tetapi perlu diperhatikan, pernikahan itu jauh lebih baik daripada sekadar melayani kebutuhan seksual. Pernikahan itu baik untuk pelayanan. Pernikahan itu baik untuk pertemanan intim antara laki-laki dan perempuan. Selain memandang kelajangan sebagai ujian, orang Kristen juga harus sadar bahwa ujian ada di setiap bagian kehidupan manusia. Dalam pernikahan pun ada ujiannya sendiri. Karena itu, orang-orang yang bergumul dengan kelajangan tidak boleh fokus kepada masalahnya sendiri, tetapi kiranya memiliki hati yang luas, melihat berdasarkan cara pandang Tuhan bahwa mereka pun sudah dikasihi Allah dengan karunia yang tak ternilai, yaitu hidup kekal dan kemuliaan dari Tuhan. Melihat karunia dari Tuhan ini, maka orang yang lajang pun bisa tetap bersukacita dalam ujian dan penderitaan yang ada. Orang-orang yang lajang dapat memfokuskan hidupnya untuk dipakai Tuhan lebih lagi sebelum memasuki masa pacaran dan pernikahan. Mereka dapat puas dengan hidup yang Tuhan berikan. Dengan mempersiapkan hidup yang lebih baik ketika sedang lajang, kita sedang mempersiapkan pernikahan yang baik untuk keluarga dan anak-anaknya. Orang lajang dapat dipakai Tuhan dengan luar biasa. Kiranya Tuhan menolong kita dalam setiap tahap kehidupan kita agar mampu mempersiapkan hidup ini untuk melayani Dia dan bagi kemuliaan nama-Nya.

Vik. Nathanael Marvin Santino

Pembina Pemuda Remaja GRII Semarang

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲