Resensi

Lebih Dari Pemenang

Judul : Lebih Dari Pemenang
Penulis : William Hendriksen
Penerbit : Momentum
Cetakan : Kedua, Juli 2008
Tebal : xii + 256 halaman

“Apa sih pentingnya baca kitab Wahyu? Itu kan masa depan setelah kita meninggal nanti? Belajar doktrin buat hidup sekarang aja gak selesai-selesai. Apalagi isinya seperti cerita fantasi, ada naga, kuda, kaki dian, sangkakala, de el el, apa artinya? Daripada menebak-nebak apa artinya malah jadi ngawur, ya sudahlah asal beriman saja bahwa setelah kematian ada hidup kekal bersama Allah di sorga, selesai.”

Eits, kitab Wahyu bukan hanya tentang masa depan setelah meninggal aja lho! Surat untuk jemaat di Efesus diberikan untuk jemaat di Efesus pada zaman rasul Yohanes masih hidup. Dan sekarang jemaat di Efesus sudah tidak ada lagi karena mereka tidak menaati isi surat tersebut! Jadi isinya ada yang sudah terjadi. Kalau kamu perhatikan pergerakan zaman secara keseluruhan di dunia ini, apa yang sedang terjadi itu sesuai dengan isi kitab Wahyu. Lihat sekarang peperangan, kelaparan, penyakit, kematian, gempa bumi ada di mana-mana. Itu adalah cawan murka Allah yang sudah ditumpahkan. Sorga itu tempat yang indah dan enak, jauh daripada dunia ini yang susah. Coba lihat jalanannya nanti dibuat dari emas murni, temboknya dari permata, pintunya ada mutiara, gak ada malam, gak ada kesedihan, gak ada orang jahat, kita happy senantiasa, keren kan?”

“Nanti di sorga kita ngapain? Masa nyanyi terus dan gak ngapa-ngapain? Tuhan pengen dipuji-puji teruskah? Katanya dikasih mahkota, apakah nanti mahkota elo lebih gede daripada gua punya? Apa yang dimaksud dengan binatang yang keluar dari dalam bumi? Apakah sekarang udah nongol tuh binatang? Murkanya kok ngeri banget sih, dilempar ke lautan api selama-lamanya?”

Apakah Anda masih bingung untuk menjawab permasalahan-permasalahan di atas? Sampul buku Hendriksen yang berjudul “Lebih Dari Pemenang” bergambarkan mahkota berwarna kuning dengan sinarnya yang terang dengan latar belakang hitam. Apa reaksi kita ketika melihat gambar ini (sebelum membaca isinya)? Terkagum-kagum karena itulah mahkota kemuliaan yang akan diberikan kepada kita sebagai yang lebih dari pemenang? Apa reaksi kita ketika sekali lagi melihat gambar ini (setelah membaca isinya)? Anda akan dengan sukacita memandang mahkota itu dan tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah yang telah sangat mengasihi kita. Dan yang dapat kita lakukan hanyalah: “… melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu sambil berkata, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11).

Apa pentingnya kitab Wahyu ini? Hendriksen mengatakan bahwa baik bentuk, simbolisme, tujuan, dan makna dari kitab Wahyu adalah sungguh-sungguh indah tak terlukiskan. Tak terselami dalamnya penghiburan yang diberikan melalui kitab ini bagi Gereja-Nya yang mengalami berbagai aniaya di dunia ini dan yang memampukan Gereja-Nya untuk tetap setia sampai akhir hidup mereka. Melalui kitab ini kita dapat mengerti metanarasi bahwa peperangan yang sesungguhnya adalah peperangan antara Anak (Kristus) dan naga (Iblis). Perang ini sudah dimenangkan oleh Kristus namun akan digenapi nanti pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Peperangan yang kita alami di atas bumi ini adalah peperangan antara kita sebagai pengikut Kristus melawan Iblis dan para pengikutnya. Pada hari terakhir nanti, pengikut Kristus akan dipersatukan dengan Kristus sebagai mempelai Anak Domba sedangkan Iblis dan para pengikutnya akan dilemparkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya.

Kitab Wahyu terdiri dari tujuh bagian yang paralel satu dengan yang lainnya dan ketujuhnya terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah pasal 1-11 yang menceritakan tentang pergumulan di atas bumi dan kelompok kedua adalah pasal 12-22 yang menceritakan tentang latar belakang rohani yang lebih dalam. Kitab Wahyu penuh dengan simbol, oleh karena itu kita harus sangat berhati-hati dalam menginterpretasikannya.

Jangan sampai kita fokus pada simbol yang detail sampai menyimpang dari tema utamanya. Jangan pula kita mencari-cari kemiripan orang, perhitungan, tanggal, peristiwa dalam sejarah, dan mengaitkannya dengan apa yang diungkapkan dalam kitab ini. Apa yang diungkapkan di dalam kitab Wahyu terdapat nas paralelnya di kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Misalnya Wahyu 14:14 paralel dengan Daniel 7:13 dan Wahyu 21:4-5 paralel dengan 2 Korintus 5:17.[1]

Buku ini menjelaskan berbagai simbol yang ada dan menginterpretasikan setiap bagian dengan prinsip-prinsip di atas sehingga kita dapat mengerti keseluruhan kitab di bawah terang Alkitab. Interpretasi dikelompokkan menjadi pembahasan akan Anak Manusia, tujuh kaki dian, tujuh meterai, tujuh sangkakala, Kristus versus naga dan sekutu-sekutunya, tujuh cawan, jatuhnya sekutu-sekutu naga itu, dan terakhir kemenangan melalui Kristus. Tujuh surat yang diberikan kepada ketujuh jemaat yang saat itu ada tetap memiliki relevansi dengan Gereja sepanjang zaman. Empat meterai yang menyatakan adanya kuda putih, kuda merah, kuda hitam, kuda hijau kuning diinterpretasikan bahwa di mana saja Kristus datang, maka akan diikuti dengan berbagai aniaya yaitu pedang, kemiskinan, penyakit, dan kematian atas para pengikut-Nya. Tujuh sangkakala menyatakan berbagai peringatan akan murka Allah dan tujuh cawan adalah murka Allah untuk membinasakan mereka yang menolak untuk bertobat. Murka Allah sedemikian mengerikannya sampai-sampai mereka meminta kematian untuk menutupi mereka dari murka itu tetapi maut tidak datang. Tetapi bagi mereka yang namanya tercatat dalam Buku Kehidupan akan bertemu dengan mempelai Anak Domba, ikut merayakan kemenangan Anak Domba, dan memerintah bersama-Nya.

Kiranya setelah membaca buku ini kita memiliki gambaran yang lebih pasti akan kemenangan yang akan kita peroleh pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya dan hidup lebih dari pemenang di muka bumi ini sementara kita menunggu saat itu tiba!

Yana Valentina
Redaksi Bahasa PILLAR

 

Endnotes:
[1] Wahyu 14:14 “dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia”, Daniel 7:13 “datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia”; Wahyu 21:4-5 “sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu… Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!”, 2 Korintus 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Yana Valentina

Maret 2012

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲