Resensi

Membaca Diary dan Surat Seorang Hamba Tuhan

Buku ini merupakan hasil kompilasi dari dua naskah tulisan Jonathan Edwards yang berjudul “Ketetapan Hati” (Resolutions) dan “Nasihat bagi Petobat Muda” (Advice to Young Converts). Kedua naskah tersebut dituliskan Jonathan Edwards bukan di dalam bentuk buku. “Ketetapan Hati”, yang ditulisnya sekitar tahun 1722-1723, lebih mirip sebuah catatan harian daripada sebuah buku, di mana Jonathan Edwards menuliskan ketetapan hatinya sebagai seorang yang masih muda, dalam satu periode sedang mempersiapkan diri untuk terjun ke ladang pelayanan. Naskah yang kedua, “Nasihat bagi Petobat Muda”, juga tidak dalam bentuk buku, melainkan sebuah surat yang ditulis oleh beliau kepada seorang petobat muda yang bernama Deborah Hatheway di kota Suffield.

Penggunaan kalimat-kalimat yang pendek dan praktis serta pemaparan di dalam bentuk butir-butir ketetapan (Ketetapan Hati: 70 butir, Nasihat bagi Petobat Muda: 19 butir) menjadikan kedua naskah tersebut mudah dibaca dan dipahami. Berbeda dengan buku-buku petunjuk praktis yang laris di pasaran zaman ini, ketika membaca tulisan Jonathan Edwards ini kita dapat merasakan bahwa setiap butir-butir ketetapan yang pendek dan praktis itu mengandung kedalaman isi karena keluar dari ketaatan menyerahkan setiap aspek hidupnya untuk memuliakan Tuhan.

Di antara ketujuh puluh butir ketetapan hatinya, kita dapat membaca tekad Jonathan Edwards untuk hanya melakukan segala sesuatu yang memuliakan Tuhan, untuk tidak melakukan apapun yang ia tidak akan berani lakukan jika itu adalah saat terakhir dalam hidupnya, menjaga mulut bibirnya di dalam percakapan, mendisiplinkan hidupnya termasuk dalam pembacaan firman Tuhan, penggunaan waktunya, dan bahkan mencakup hal-hal keseharian seperti disiplin dalam hal makan dan minum.

Kita dapat belajar meneladani beliau bukan saja dari berbagai ketetapan hatinya tapi juga dari sikap kerendahan hatinya. Jonathan Edwards memulai tulisannya dengan kalimat, “Dengan kesadaran bahwa saya tidak mampu melakukan apa pun tanpa pertolongan Allah, saya dengan sungguh-sungguh merendahkan diri untuk memohon anugerah-Nya agar memampukan saya berpegang pada ketetapan hati saya ini, sejauh itu seturut dengan kehendak-Nya, demi Kristus” (hal. 29).

Stephen J. Nichols, sang penyunting buku ini, menuliskan di bagian pengantar, “‘Ketetapan Hati’ masih tetap relevan hari ini, seperti juga pada saat pertama kali Edwards menuliskannya berabad-abad silam. Membacanya secara teratur pasti akan sangat menolong kita untuk hidup sungguh-sungguh demi kehormatan dan kemuliaan Allah” (hal. 19).

Sama seperti naskah “Ketetapan Hati”, kesembilan belas butir “Nasihat bagi Petobat Muda” tidaklah dimaksudkan untuk dipublikasikan kepada umum. Nasihat-nasihat tersebut merupakan surat pribadi yang dituliskan Jonathan Edwards kepada seorang petobat muda di kota Suffield. Dengan membaca naskah ini, kita dapat menangkap sisi lain dari sang theolog dan pengkhotbah besar yang memiliki hati untuk memperhatikan kehidupan rohani orang lain, serta tidak menganggap remeh permintaan seorang petobat muda untuk mendapatkan petunjuk darinya. “Nasihat bagi Petobat Muda” ini ditujukan untuk membimbing para petobat muda dalam memulai kehidupan barunya sebagai orang Kristen.

Penggabungan yang unik dari kedua naskah karya Jonathan Edwards dalam satu buku ini, menjadikannya sangat perlu dibaca oleh setiap kita, baik yang sudah lama menjadi orang Kristen maupun bagi petobat baru, untuk hidup berkomitmen di dalam ketaatan kepada Allah. 

Sudahkah kita membuat ketetapan hati secara pribadi di hadapan Tuhan? Sebagai langkah awal, kita dapat memulainya dengan menetapkan hati kita untuk membaca diary dan surat Jonathan Edwards ini.

Daniel Gandanegara

Pemuda GRII Singapura

Daniel Gandanegara

November 2006

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Nama
Kota
Alamat imel
Pastikan alamat imel anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui imel.
 
Unduh PDF
Cari
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional yang telah diadakan di 5 kota di Kalimantan Timur. Kiranya melalui rangkaian kebaktian ini, bangsa Indonesia dapat kembali mengenal firman, kesaksian, dan pertobatan yang sejati. Berdoa juga untuk rangkaian Kebaktian Pembaruan Iman Nasional yang akan diadakan pada akhir Mei 2012 sampai dengan pertengahan Juni 2012 di Kalimantan Tengah, Sulawesi, dan NTT.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
syalom....!!! berkaitan dengan pemilihan Allah secara berdaulat..., disini saya mau bertanya, bagaimana dengan...

Selengkapnya...

ORA ET LABORA..

Selengkapnya...

Halo Carlos. terima kasih atas tanggapannya. Selama ini saya sudah sering tukar pendapat mengenai gereja dengannya....

Selengkapnya...

Filipi 1:29, " Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk...

Selengkapnya...

Sepertinya saya melihat diri saya dalam cerita itu.... Kadang kita "sepertinya"tidak memerlukan Tuhan lagi...

Selengkapnya...

© 2010 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲